Sepasang Kekasih Beraroma Kopi

kopi-tumpah2-600x600

 

Beberapa hari sebelum Drajat keluar dari rumah tahanan, seorang rekannya yang sesama narapidana bertanya ke mana ia akan pergi setelah ini dan Drajat hanya menggelengkan kepalanya. Ia terdiam. Namun, sesaat kemudian ia berkata, “Aku ingin bertemu anakku. Tapi aku tak punya nyali.”

“Kenapa? Pulanglah. Temui anakmu.”

“Aku sudah cerai dengan istriku. Tak tahu ia akan menerimaku kembali atau tidak.”

“Setidaknya kau sudah menuntaskan rindumu kepada anakmu. Pulang saja. Katakan kepada istrimu bahwa kini kau sudah berubah.”

Drajat kembali terdiam. Ia memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika kakiknya melangkah keluar dari rumah tahanan. Baca lebih lanjut

Iklan

Aku dan Kisah Kebencianku Terhadap Hujan

Hujan selalu mengingatkanku tentang kenangan. Kenangan akan kebencianku kepada hujan.

Sore itu, langit terlihat muram. Suaranya mulai cerewet. Pertanda tangisnya akan jatuh. Kulihat langit lewat jendela kamarku, hitam, kelam. Kemudian turun setetes air. Dua. Tiga. Banyak. Kemudian semakin membesar, membesar, lalu deras. Baca lebih lanjut

Pemenang Lomba Cerpen Mahasiswa se-Banyumas

Pertengahan bulan November tahun lalu, saya tak sengaja melihat poster yang menarik mata saya menempel di mading kampus. Wow, ternyata kampus sebelah mengadakan lomba cerpen mahasiswa se-Banyumas. Awalnya kurang tertarik, kemudian saat mengetahui jika Pak Ahmad Tohari, penulis buku Ronggeng Dukuh Paruk menjadi jurinya, pikiran saya pun berubah. Iseng-iseng saya kirim cerpen usang yang belum terselesaikan oleh saya.

Dua bulan saya menunggu pengumuman, dan tanggal 31 Januari kemarin, saya mendapat sms dari pihak panitia bahwa daftar pemenang bisa di lihat di facebook. Rasa deg-degan muncul saat hendak membukanya. Dan inilah daftar pemenang lomba tersebut:

  1. Nikmaturrohmah : Debu, Arak dan Janjiku
  2. Imamul Muttaqin : Aku dan Kisah Kebencianku Terhadap Hujan Baca lebih lanjut