Salman dan Salma

“Walau enggak ada polisi, yang namanya aspal itu tetap keras. Kena kepala langsung benjut. Sakit. Bahkan bisa berdarah dan gegar otak. Kamu pikir mentang-mentang enggak ada polisi lalu tiba-tiba aspalnya berubah jadi kasur empuk? Mikir! Makanya pakai helm walau cuma dekat!”

Begitulah suatu sore Salman terkena marah oleh orangtuanya. Ia hendak ke minimarket untuk membeli penganan. Karena dekat, pikirnya, tak perlulah ia memakai helm. Padahal emaknya sudah teriak-teriak mengingatkan sebelum ia pergi. Baca lebih lanjut

Iklan

Alice

Alice

Aku mengenalnya di dalam sebuah kereta yang kutumpangi dari Jakarta menuju Jogja. Ia terlihat tergesa-gesa saat memasuki kereta dan sempat menyerempet hingga membuat jatuh seorang lelaki tua. “Maaf.. Maaf..” Ucapnya membangunkan lelaki tua itu.

Ia kemudian meletakkan tas besarnya ke dalam bagasi di atas kepalaku dan mengangguk ke arahku sebelum akhirnya duduk di sampingku. Aku membalas ringan dengan anggukan dan senyuman ke arahnya. Baca lebih lanjut

Tapi Itu Tidak Dengan Kami

beda agama 

“Tuhan kita satu, cara berdoa kita saja yang berbeda; aku bersujud, kau berlutut.”

Malam itu..

“Ayaaah..” Teriak anakku saat aku pulang kerja.

“Kenapa baru pulang, Yah?” Tanyanya saat menghambur ke pelukanku.

“Ada kerjaan tambahan. Kamu kenapa belum tidur?”

“Belum ngantuk, Yah. Ini juga sekalian nunggu ayah pulang. Pingin tidur bareng ayah.”

“Iih, sudah besar kok masih minta tidur bareng ayah. Ya sudah, sebentar ya, ayah ganti baju dulu.” Baca lebih lanjut

Wanita Mungil Dalam Kepala

Berusaha melupakanmu, sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tak pernah kukenal.” – Anonim

Senin 3 Januari kucoba menyingkirkan

Semua benda kenangan yang kudapat darimu

Sore itu, di perjalanan pulang dari sebuah bank tempatku bekerja, dari balik jendela kereta kusaksikan kota, penghuni, dan segala aktifitasnya berjalan melawan arah. Semacam ingin menjauh berlalu begitu saja. Di dalam kereta ekonomi dengan bangku-bangku penuh coretan anak sekolah, aku seperti terlempar ke masa lalu saat melihat kotak masuk ponselku. Ya, kotak masuk itu, di sana masih tersimpan belasan pesan darimu. Belasan bahkan puluhan pesan saat kita masih bersama. Kereta ini seakan menghantarkanku kembali ke beberapa minggu yang lalu menjelang natal penuh damai. Di malam itu, kau memutuskan untuk menjauh dariku, berhenti mencintaiku dengan alasan yang tak masuk akal.

Baca lebih lanjut