Sepasang Kekasih Beraroma Kopi

kopi-tumpah2-600x600

 

Beberapa hari sebelum Drajat keluar dari rumah tahanan, seorang rekannya yang sesama narapidana bertanya ke mana ia akan pergi setelah ini dan Drajat hanya menggelengkan kepalanya. Ia terdiam. Namun, sesaat kemudian ia berkata, “Aku ingin bertemu anakku. Tapi aku tak punya nyali.”

“Kenapa? Pulanglah. Temui anakmu.”

“Aku sudah cerai dengan istriku. Tak tahu ia akan menerimaku kembali atau tidak.”

“Setidaknya kau sudah menuntaskan rindumu kepada anakmu. Pulang saja. Katakan kepada istrimu bahwa kini kau sudah berubah.”

Drajat kembali terdiam. Ia memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika kakiknya melangkah keluar dari rumah tahanan. Baca lebih lanjut

Savitri Jadi Sintren

Sintren

Pada malam bulan purnama, kau akan melihat penduduk Desa Lasem berkumpul di lapangan, melihat seorang perawan keluar dari kurungan ayam dan menari dengan memakai kacamata hitam. Ia akan menari dengan gerakan yang monoton. Dan jika sudah seperti itu, orang-orang akan percaya bahwa roh Dewi Lanjar telah turun ke bumi dan merasuki tubuhnya. Itulah tarian Sintren yang akan kau saksikan jika malam bulan purnama tiba.

Baca lebih lanjut

Seorang Perempuan dengan Alat Pembaca Masa Depannya

 

 

Woman Drawing

 

Ini cerita tentang kakakku. Kau mungkin akan sedikit tak percaya jika membacanya. Tapi biarlah aku bercerita. Bercerita tentang bagaimana seorang pengangguran seperti dia tiba-tiba bisa menjadi kaya setelah bertemu makhluk asing. Kau bisa menyebut makhluk itu sebagai alien.

Kisah ini bermula ketika kakakku, Edith namanya, baru menamatkan kuliahnya dari jurusan Astronomi Universitas Edinburgh, Skotlandia. Ia berhasil lulus dengan nilai cumlaude dan banyak penghargaan yang pernah ia capai semasa kuliah. Ia pernah terpilih sebagai  mahasiswa berprestasi, pemenang lomba karya ilmiah remaja tingkat nasional, juga pernah mendapat berbagai beasiswa dari pihak universitas maupun yang lainnya, yang membuatnya tak pernah meminta uang dari orangtua untuk membeli buku ataupun sekadar makan. Baca lebih lanjut

Aku dan Kenanganku Tentang Hujan

Hujan selalu mengingatkanku tentang kenangan. Kenangan akan kebencianku terhadap hujan.

Aku memang benci hujan

Dulu, sewaktu aku masih kecil, banyak sekali teman-temanku yang senang jika hujan turun. Dengan senyum yang mengembang, mereka dengan gembiranya keluar rumah. Bahkan, tak jarang beberapa dari mereka ada yang melepas pakaiannnya tanpa rasa malu.

“Horee, hujan!” teriak mereka sambil memutar-mutarkan baju mereka di atas kepala.

Tapi semua itu berbeda denganku. Saat langit mulai keruh Baca lebih lanjut

Aku dan Kenanganku Tentang Mama di Masa Kanak-kanak

Memutari kota Purwokerto di malam minggu sembari menikmati kerlap-kerlip lampu jalanan adalah suatu kebiasaanku. Naik motor sendirian, pelan, lirik kanan-kiri, dan tak jarang, untuk menambah keceriaan, sering kualunkan lagu-lagu favoritku.

Kuhentikan motorku di alun-alun, tempat favoritku untuk menghilangkan kebosanan. Agak sedikit iri saat melihat banyak muda-mudi yang bergandengan tangan.

“Kapan aku bisa seperti mereka?” Keluhku saat itu.

Aku yang saat itu tengah menatap bebas rumput hijau, tak sengaja melihat anak kecil tengah berlarian dengan cerianya. Anak kecil yang mengantarkanku kembali ke masa lalu, di saat aku masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Baca lebih lanjut