Surat dari Jauh

Hallo, Nayla. Bagaimana kabarmu? Aneh rasanya jika beberapa tahun tak saling sapa tiba-tiba kau mendapat surat dari seseorang yang mungkin sudah tak ada di ingatanmu. Ini aku, Bram, teman sekaligus orang yang pernah jatuh cinta kepadamu. Kita bertemu terakhir kali sepuluh tahun yang lalu saat mengantarkanmu ke bandara. Saat itu kau memutuskan pergi ke Singapura demi pendidikanmu. Selain rindu, ada beberapa alasan yang membuatku mengirimkan surat ini untukmu, salah satunya aku ingin menceritakan sebuah lukisan aneh yang membuat geger kampungku. Sebuah lukisan yang terkadang membuatku susah tidur. Boleh kuceritakan sekarang? Aku berjanji akan menceritakannya pelan-pelan. Begini ceritanya… Baca lebih lanjut

Iklan

Catatan Sebuah Pohon

pohon

 

Aku pohon. Dan inilah catatanku di tahun 2050.

Januari.

Sekumpulan manusia mendatangi tempat tinggalku. Mereka kaget melihatku sendirian dan daerahku yang masih kosong. Samar kudengar mereka bercakap ingin menghijaukan daerahku beberapa bulan ke depan.

Februari.

Mereka datang kembali. Dengan teriakan “Go Green!”, mereka menanami beberapa pohon di daerahku. Aku senang. Akhirnya ada teman.

Maret hingga September.

Teman-temanku tumbuh cepat dan lebat.

Oktober.

Orang-orang itu kembali. Mereka tersenyum melihat kami.

November.

Dengan menggunakan truk bertuliskan “PT. Tissue Cemerlang”, mereka datang lagi. Aku kaget, karena beberapa saat kemudian, belasan orang dengan alat berat tiba-tiba merobohkan satu persatu temanku.

Desember.

Aku kembali sendirian. Dan di akhir tahun, sebuah banjir bandang menghanyutkanku beserta ribuan sampah.

Nora

doll

Mari kita panggil dia Nora, seorang anak perempuan berambut ikal berparas Indon. Ia satu kelas denganku, dan rumah kami bersebelahan. Ibuku bekerja di rumahnya sebagai pembantu. Pernah suatu hari aku ikut ibu ke rumahnya, dan kulihat Nora tengah sendirian di ruang tengah. Kuhampiri dia, lalu kita pun bermain. “Sebentar,” ucapnya sembari mengambil sebuah boneka, “namanya Aron,” katanya.

Bentuk Aron sangat aneh. Tangannya buntung satu dan ada sebuah pecahan piring menancap di bagian dada. Kutanya padanya, “Kenapa tangannya cuma satu?”

“Ia bodoh, tak bisa bermain piano. Makanya tangannya aku patahin.”

Aku terdiam, dan tak berani bertanya tentang pecahan piring yang menancap itu. Sampai akhirnya kutahu jika Aron ialah Nora yang dibaca terbalik.

Suatu Hari di Sebuah Kubikel

kubikel

 

“Kau harus ikut denganku,” ucapnya tiba-tiba sembari mengepak pakaian. Semalam, sebuah pertengkaran terjadi antara ia dan ayahnya. Amarah ayahnya meledak. Ia mengusir Intan dari rumah.  Kami pun memutuskan menjadi gelandangan. Tidur berpindah-pindah tempat, bahkan makan seadanya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui salah satu temannya, Bram namanya. Baca lebih lanjut