Sepasang Kekasih Beraroma Kopi

kopi-tumpah2-600x600

 

Beberapa hari sebelum Drajat keluar dari rumah tahanan, seorang rekannya yang sesama narapidana bertanya ke mana ia akan pergi setelah ini dan Drajat hanya menggelengkan kepalanya. Ia terdiam. Namun, sesaat kemudian ia berkata, “Aku ingin bertemu anakku. Tapi aku tak punya nyali.”

“Kenapa? Pulanglah. Temui anakmu.”

“Aku sudah cerai dengan istriku. Tak tahu ia akan menerimaku kembali atau tidak.”

“Setidaknya kau sudah menuntaskan rindumu kepada anakmu. Pulang saja. Katakan kepada istrimu bahwa kini kau sudah berubah.”

Drajat kembali terdiam. Ia memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika kakiknya melangkah keluar dari rumah tahanan.

***

Tekadnya telah bulat untuk bertemu mantan istri dan anaknya ketika Drajat tengah mengemas barang-barang ke dalam ransel. Di dalam pikirannya, terbayang wajah anaknya yang ia lihat terakhir kali saat sebelum dirinya diringkus oleh polisi. Putrinya begitu cantik dengan rambut ikal mayang dan ada setitik tahi lalat di dagunya. Anak itu begitu mirip dengan ibunya. Usianya baru tiga tahun saat ia berpisah.

Tak ada yang menjemput Drajat dari tempat penuh penyiksaan itu ketika ia berada di pintu gerbang. Berbekal sebuah ransel berisi pakaian dan uang yang ia dapat dari hasil penjualan kerajinan tangan selama di penjara, kakinya ia langkahkan menuju jalan besar untuk mencegat truk yang mengarah ke Jakarta. Dari seorang kawan yang pernah menjenguknya, ia tahu kini mantan istri dan anaknya berada di Jakarta. Istrinya yang dahulu bekerja sebagai peracik kopi di sebuah kedai kecil di Jogja, kini menjelma sebagai pemilik kedai kopi besar di Jakarta.

***

Lonceng sebuah kedai kopi berbunyi ketika seorang lelaki berumur tiga puluh dua tahun membuka pintu dan berdiri mematung memandang seluruh isi kedai. Ia mencari meja yang masih kosong. Dilihatnya hanya ada satu meja kosong di sudut dekat jendela.

Seorang perempuan yang tengah meracik kopi dan sekaligus sebagai pemilik kedai mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu. Ia merasa tak asing dengannya. Segera ia hampiri lelaki berbadan gelap itu.

“Untuk apa kau kembali kepadaku?”

“Aku hanya ingin bertemu anakku. Aku rindu dengannya.”

“Tapi seluruh hak asuhnya berada di tanganku. Kau tak berhak mengambilnya.”

“Siapa yang mau mengambil? Aku hanya ingin menuntaskan rinduku. Selebihnya itu urusanmu.”

“Ia sedang pergi mengaji. Tunggulah sebentar. Setengah jam lagi ia pasti kemari.”

***

Drajat dan Atika. Kedua insan yang pernah merasakan tinggal di satu atap itu pertama kali bertemu di sebuah kedai kopi di Jogja. Atika sebagai peracik kopi dan pramusaji, sedangkan Drajat sebagai perantauan yang baru bekerja beberapa minggu di sebuah bank di Jogja. Ia memutuskan pergi ke kedai tersebut setelah tahu banyak rekan satu kantornya sering rapat atau hanya sekadar melepas lelah di kedai yang sangat terkenal di kota budaya itu.

“Mau pesan apa?” Tanya Atika dengan tangan menyodorkan selembar menu.

Sembari menyalakan selinting rokok, Drajat membaca satu per satu jenis makanan dan minuma yang tersedia.

“Aku tak tahu mau pesan apa. ini pertama kalinya aku meminum kopi. Buatkanlah aku secangkir kopi yang menurutmu paling nikmat di sini.”

Segera Atika menulis jenis minuman kopi yang menurutnya paling cocok untuk seorang pemula seperti Drajat. Ia lalu kembali ke meja kerjanya yang penuh dengan puluhan stoples kopi, baik bubuk maupun yang masih dalam bentuk biji. Kepalanya menggeleng penuh keheranan. Sejak kapan ada perokok namun tak pernah minum kopi?

***

Drajat jatuh cinta dengan kopi buatan Atika. Esoknya ia datang kembali dan menanyakan kopi apa yang ia minum kemarin.

“Itu Coffee Latte. Kopi campur susu. Kopinya didatangkan langsung dari Toraja, salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Jika kau suka, akan kubuatkan sekali lagi kopi itu.”

“Aku suka sekali kopinya. Tapi buatkanlah aku kopi yang lain. Aku ingin mencicipi satu per satu kopi di sini.”

“Ada yang lebih nikmat. Namun agak sedikit mahal. Bagaimana?”

“Aku tak peduli. Akan kubayar berapapun harganya.”

Beberapa menit kemudian datang secangkir kopi beserta sepiring camilan. Drajat mencoba menghirup kopi itu. Tercium aroma pandan, dan rasa kopinya lebih kuat daripada kopi yang ia minum kemarin.

“Kopi apa ini?” Tanyanya kepada Atika yang duduk di sampingnya. Berada di satu meja, mereka terlihat seperti kopi dan susu. Drajat sebagai kopinya, dan Atika sebagai susunya.

“Itu kopi luwak. Dibuat dari kopi yang bercampur dengan kotoran luwak, sejenis musang.”

“Hah?” Drajat kaget mendengarnya. Ingin sekali ia memuntahkan kopi yang telah ia minum. Yang mendengar tak kalah kaget. Demi apa Drajat tak tahu proses pembuatan kopi luwak? Itu kopi asli Indonesia, dan orang awam pun pasti tahu jika kopi itu berasal dari kotoran luwak.

Dengan sabar Atika menjelaskan bahwa kopi luwak merupakan kopi pilihan. Petani kopi akan memilih buah kopi yang berwarna merah tua untuk kemudian dikumpulkan sebagai makanan luwak. Dengan indera penciumannya yang begitu tajam, luwak-luwak akan memakan buah kopi terbaik yang biasanya bertekstur kenyal dan terasa manis. Jika biasanya kopi difermentasi di dalam karung goni, maka kopi luwak difermentasi di dalam lambung luwak dan akan dikeluarkan bersama dengan kotorannya.

“Tenang, kotorannya tidak bercampur dengan biji kopi karena bijinya masih terlapisi kulit ari dan akan terkelupas ketika digiling.” Atika menjelaskan dengan penuh senyuman. Senyuman yang menetralkan rasa pahit di kopi yang Drajat hirup.

“Kau bilang buah kopi terasa manis. Lalu darimana asal rasa pahit kopi yang aku minum ini?”

“Rasa pahitnya berasal dari proses penyangraian. Semakin lama biji kopi disangrai, maka akan semakit pahit dan hitam kopinya.”

Drajat hanya mengangguk-angguk mendengarkan. Ia begitu takjub dengan penjelasan perempuan berusia dua pulih lima tahun itu. Perempuan berhidung mancung dan berkulit Putih. Ia melihat sorot mata perempuan itu, dan debar-debar cinta mulai menjalar di tubuhnya. Ia ingin sekali menyanyikan lagu lawas tahun 1928 yang berjudul You Are The Cream In My Coffee.

Sejak saat itu, mereka mulai saling bertukar pesan. Bahkan sering mengirim salam lewat radio. Dan setiap malam, selalu ada percakapan panjang lewat telepon genggam sebelum masing-masing di antara mereka tertidur pulas.

“Komunikasi yang baik sama menariknya dengan kopi hitam, dan kita dibuat susah tidur setelahnya,” ucap Drajat suatu hari mengutip perkataan Anne Morrow Lindbergh, seorang penulis dari Amerika.

***

“Ke mana kita malam minggu ini?” Tanya Drajat lewat telepon sembari membaca The Book of Laughter and Forgetting karya penulis kenamaan Cekoslowakia; Milan Kundera.

Atika, yang sedari tadi bemalas-malasan di tempat tidurnya, tiba-tiba menjawab penuh semangat.  “Aku ingin mengajakmu minum kopi lagi. Lambungmu aman-aman saja, ‘kan, jika sering kuajak minum kopi?”

“Selama ini masih aman-aman saja. Kopi apa kali ini? Aku akan meminum apa saja kopi buatanmu.”

“Bukan. Bukan buatanku. Kali ini aku akan mengajakmu mencicipi kopi khas Jogja.”

Drajat berpikir sejenak. Adakah kopi khas Jogja? Dan ia tak menemukan apa-apa dalam pikirannya.

“Baik. Jam tujuh malam nanti aku ke rumahmu.”

***

Sepeda motor mereka memasuki Jalan Malioboro. Berjalan sedikit ke arah utara, mereka sampai di sebuah jalan kecil samping Stasiun Tugu.

“Belok, di situ tempatnya,” ucap Atika yang sedang membonceng.

Mereka sampai di sebuah warung kecil yang ramai dengan pengunjung. Atika menyebutnya angkringan.

“Kopi joss dua ya, Lik.” Atika memesan, sementara tangannya sibuk memilih gorengan.

“Apa katamu?” Tanya Drajat heran.

“Kopi joss. Ini yang kujanjikan tadi pagi. Lihat saja proses pembuatannya, kau pasti belum pernah melihat sebelumnya.”

Benar saja, Drajat kembali terkagum-kagum dengan kopi yang dikenalkan oleh kekasihnya. Kopinya memang diseduh seperti kebiasaan banyak orang: bubuk kopi dimasukkan ke dalam gelas, diberi gula, dan dituangkan air panas yang sedari tadi dipanaskan di ketel menggunakan arang. Namun, yang membuatnya terkagum-kagum ialah ketika penjual angkringan mengambil arang menggunakan penjepit makanan dan memasukkannya ke dalam gelas kopi tadi. Terdengar bunyi “Joss..” saat bara arang itu mati.

“Dengar, ‘kan, bunyinya? Itulah kenapa namanya kopi joss.”

Monggo,” kata penjual angkringan dengan senyum ramah mempersilakan Atika dan Drajat menikmati kopi arang.

Matur nuwun, Lik,” balas Atika mengucapkan terima kasih. Mereka lalu mengambil beberapa bungkus nasi kucing dan memakannya dengan lahap.

***

Dua bulan kemudian mereka menikah, menggenapi perintah agama. Mereka memutuskan untuk tidak berlama-lama pacaran.

“Aku takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak,” kata Drajat suatu hari.

“Lalu?”

“Seperti yang sering kita bicarakan, aku ingin menikahimu. Aku siap lahir batin.”

Dan mereka saling pandang. Sejenak kemudian Atika menyandarkan kepalanya di bahu Drajat. “Aku juga,” balasnya.

***

Seorang anak dari rahim Atika lahir ketika usia pernikahan mereka menginjak satu tahun. Dengan hadirnya gadis mungil itu, Atika yakin bahwa ia akan hidup bahagia selamanya. Ia memang bahagia, namun tidak bertaham lama.

Semenjak kenal kopi, jika Drajat sedang keluar kota untuk urusan pekerjaan, ia selalu menyempatkan membawa pulang sebungkus kopi lokal. Gayo dari Aceh, Mandailing dari Sumatera Utara, Kintamani dari Bali, Lanang dari Jawa Timur. Semuanya ia tata rapi di dalam sebuah rak khusus untuk koleksi kopi nusantara. Istrinya, yang semenjak menikah tak lagi bekerja sebagai pramusaji, tak segan-segan membantunya meracik segelas kopi.

Jika persediaan kopi di rumahnya habis, Drajat sering keluar rumah untuk megunjungi berbagi kedai kopi di Jogja. Dari situlah semua bencana bermula, bencana yang membuat kebahagiaan Atika tak bertahan lama.

Suatu hari, ketika jam dinding menunjukkan pukul satu malam, Drajat pulang dengan muka memerah dan berjalan sempoyongan.

“Dari mana kamu?” Tanya Atika melihat lelakinya yang tanpa melepas sepatu langsung merebahkan diri di sofa tamu.

“Cuma minum kopi sebentar dengan teman kantor.”

“Minum kopi katamu? Sejak kapan kopi bisa membuat seseorang menjadi pemabuk? Hah?!”

Atika marah, tanpa sadar ia menampar wajah lelakinya. Drajat yang berada di bawah pengaruh minuman keras merasa tak terima. Amarahnya memuncak. Ia kemudian memaki-maki istrinya, sebelum sesaat kemudian terdengar bunyi barang-barang jatuh. Anaknya yang sedang tertidur terbangun. Di ambang pintu kamar tidur, bocah itu menangis. Atika segera menghampirinya, menutupi mata dan telinga anaknya agar ia tak mengingat apa yang ada di hadapannya.

“Minggir!” Lelaki dengan mulut berbau minuman keras itu menendang istrinya. Tangis Atika meluap, bersatu dengan kerasnya tangis anak semata wayangnya. Riuh barang jatuh berpindah ke dalam kamar tidur.

“Apa yang kau cari, Lelaki Jahanam?” Teriak Atika mencoba menghentikan tangan Drajat yang tengah membuang seluruh isi lemari pakaian.

“Di mana uangmu kau simpan?”

“Untuk apa? Minum lagi?”

“Di mana? Jawab!”

Lantas terdengar jerit kesakitan seorang perempuan. Tangis Atika semakin menjadi-jadi. Bahunya berguncang semakin hebat. Baginya, kenangan hari itu tak akan terpisahkan dari ingatannya, dan akan menjadi mimpi buruk yang terus menghantui tidurnya.

***

Drajat melangkah pergi meninggalkan rumah dengan seluruh kantong saku penuh dengan uang yang ia peroleh dari lemari istrinya. Sesampainya di sebuah tempat minum—lebih tepatnya tempat perjudian, ia keluarkan seluruh isi kantongnya. Sebagian ia gunakan untuk taruhan, sisanya untuk memesan minuman. Awalnya ia memesan kopi. Namun, melihat orang-orang di sekitarnya memesan bir, ia kemudian memesan minuman memabukkan itu. Segelas, dua gelas. Lalu berganti ke satu botol, dua botol, hingga belasan botol.

“Aku yakin malam ini aku menang. Kau yang di ujung sana, sebentar lagi kau akan keluar bersamaku, kita akan semalaman di hotel seberang.” Tangan Drajat menunjuk seorang perempuan dengan dada yang hampir menyembul dari wadahnya.

Ia bermain kartu selama dua jam. Tiga kali kalah, satu kali menang. Merasa uangnya semakin menipis dan ia ingin sekali bermalam bersama seorang perempuan yang tadi ia tunjuk, ia memutuskan untuk menyudahi perjudiannya. Ia lalu mendekati perempuan di sudut kursi dan membawanya keluar tempat perjudian. Ketika berada di meja kasir untuk membayar botol-botol yang telah ia pesan, seorang lelaki berrajah naga di lengannya tiba-tiba menarik tangan perempuan itu.

“Hei, lepaskan! Ia sudah menjadi milikku!” Teriak Drajat kepada lelaki yang telah merebut perempuannya.

“Kau yang seharusnya melepaskan! Aku sudah memesannya dari kemarin, dan malam ini ia menjadi jatahku!”

“Berapa kau membayar untuknya?”

Lelaki itu menyebutkan sejumlah angka. Drajat mencoba mengingat uang yang ia keluarkan untuk perempuan itu. Ia juga mengingat sisa uang yang ada di sakunya.

“Sial, kalah jumlah!” Gerutunya dalam hati. Tangannya mengepal kencang.

Tak terima kekalahannya, Drajat kemudian menghajar lekaki berrajah naga. “Dia sudah menjadi milikku, Bodoh!”

Lelaki itu tersungkur. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Segera ia bangkit dan membalas Drajat. Drajat berhasil lolos. Ia kemudian mengambil sebotol minuman dan menghantamkannya ke kepala lelaki berrajah naga. Darah kembali menetes. Lelaki itu tersungkur tak sadarkan diri.

Pengunjung panik. Mereka-mereka yang perempuan berhamburan keluar. Seorang polisi yang kebetulan lewat segera menghampiri tempat perjudian itu. Drajat yang juga panik lantas mencari tempat persembunyian, namun langkahnya terhenti oleh timah panas yang bersarang di kakinya.

***

Kau tak perlu mengetahui apa yang Atika rasakan ketika ia mendapat kabar bahwa suaminya ditahan. Yang perlu kau ketahui, setelah penangkapan itu Atika melayangkan surat perceraian. Ia benar-benar ingin memisahkan Drajat dari kehidupannya, juga dari ingatannya. Namun, kini lelaki itu kembali, dan telah berada di hadapannya. Atika tak bisa berbuat apa-apa.

“Selain anak semata wayangku, kopi pulalah yang membawaku kemari.”

“Maksudmu?”

“Aku rindu kopi buatanmu. Selama masa tahanan, hanya itu yang selalu aku pikirkan, selain kau dan anak kita, tentunya. Tak maukah kau membuatkan secangkir kopi untukku?”

Atika tak beranjak dari tempatnya. Ia tak ingin berbalik arah sebelum tahu apa yang membuat lelaki itu keluar dari penjara begitu cepat dari putusan hakim.

Drajat kemudian bercerita:

“Pertama masuk ke dalam sel tahanan, aku sadar bahwa perbuatan  yang telah menjebloskanku ke neraka yang begitu dingin itu ialah perbuatan yang salah.  Aku tak ingin melakukan hal konyol itu lagi. Cukup. Aku ingin itu yang terakhir kali dan menjadi bagian masa laluku. Aku tak ingin kecanduan alkohol kembali. Canduku hanya satu; kopimu. Itulah alasan mengapa aku kemari.

Selama tiga tahun di penjara, aku mencoba berbuat segala hal demi bertemu dengan anakku, kamu, juga kopi buatanmu. Kulakukan segala hal yang menurutku baik. Beribadah, mencangkul, mencuci, membuat kerajinan tangan, membantu merekap pekerjaan sipir. Sipir melihat perkembanganku begitu baik, dan itu membuatku beberapa kali mendapat remisi.”

Ia berhenti bercerita. Dilihatnya mantan istrinya. Mata perempuan itu berkaca-kaca. Drajat memberanikan diri memeluk perempuan itu.

“Biarkan semua itu menjadi masa lalu. Kembalilah kepadaku. Aku berjanji tak akan berjudi lagi, mabuk, berkelahi, bahkan bermain perempuan.”

“Janji?”

Drajat mengangguk, dan pelukan mereka semakin erat. Erat, namun hanya sekejap saja karena tiba-tiba terdengar suara derit mobil mengerem. Mereka berdua melepaskan pelukan dan menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang anak terkapar besimbah darah di samping mobil berwarna merah.

“Salwa!!” Drajat teriak tak percaya. Segera ia berlari menuju anak kecil yang tak sadarkan diri itu, memeluknya, mendekapnya dengan penuh tangisan.

Pemilik mobil keluar dengan tangan gemetar. Ia sama-sama tak percaya dengan apa yang dilihatnya: seorang anak kecil tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.

Drajat memandang ke arah pemilik mobil. Melihat tatapannya yang penuh marah, pemilik mobil segera kembali ke mobil dan menyalakan mesin. Kini Drajat berada di tengah kebimbangan: mengejar dan menghajar pemilik mobil, atau membawa anaknya yang sudah sekarat ke rumah sakit.

Ia ingin sekali membalas dendam kepada pemilik mobil, namun ia terlanjur berjanji untuk tidak berkelahi lagi. Langit yang sebelumnya seputih susu, tiba-tiba berubah menjadi sehitam kopi.

 

Jakarta, 21 Agustus 2016

 

Catatan:

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Iklan

3 thoughts on “Sepasang Kekasih Beraroma Kopi

  1. Ngantuk baca cerpennya. Nggak mutu. Belajar lagi, Mas. Siapa tahu besok bisa dapat Writer of The Year dari IKAPI. Dan buku2nya diterbitkan penerbit top Indonesia kayak Gramedia. 🙂

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s