Setya Novanto, Buruh, dan Kebutuhan-kebutuhan yang Tak Terpenuhi

11218913_10154332832902995_3464683248833543187_n

Apa hubungannya Setya Novanto dan para buruh? Sama-sama banyak tuntutan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tapi semua itu tak sebanding dengan kinerja yang dicapai (sorry to say). Buruh, yang gajinya bahkan sudah kepala tiga, masih minta tuntutan untuk naik gaji dan tunjangan. Biar bisa ganti motor, ganti gadget, nonton di bioskop, beli AC, isi amplop buat dibagi-bagi pas pulang kampung.

Ya hampir sama kaya Setya Novanto. Kerjanya (eh kerja nggak sih?) gitu-gitu doang tapi banyak keinginan. Pengin beli ini itu buat isi rumah, biaya ajak sanak keluarga kalau lagi ada kunjungan luar negeri. Belum lagi kalau istrinya minta Hermes dan oleh-oleh. Weladalah, kudu keluar banyak duit.

Mereka, maksud saya Setya Novanto dan rekan-rekan kerjanya, juga punya rasa gengsi dan malu saat kerja. Lho iya tho, siapa yang tak malu jadi pejabat tapi kamera handphone-nya cuma 2 megapixel, sepatunya sepatu pasar, parfumnya beli di konter hape? Belum lagi kalau kumpul keluarga pas lebaran atau arisan, kudu bawa ini itu untuk dipamerkan.

Bedanya, kalau buruh minta naik gaji dengan berdemo, Setya Novanto beda lagi cara memenuhi keinginannya. Ndak mungkin blio ngajak rekan-rekan satu timnya di DPR buat turun ke jalan demo di depan Kementerian Keuangan? Ndak mungkin juga mereka punya usaha sampingan jualan Biospray dan hijab di Facebook. Ndak level! Hih!

Lha terus piye carane biar kebutuhan dan keinginannya terpenuhi? Ya salah satunya dengan menjadi “orang baik”, menolong orang-orang yang membutuhkan jasanya. Pengin perpanjang kontrak? Blio siap membantu. Pengin proses perizinannya mulus? Tangan blio terbuka 24 jam. Pengin apalagi? Wes, tinggal telpon dan ajak ketemuan, semua langsung lancar.

Dan sebagai cara untuk meyakinkan kepada konsumen bahwa jasanya begitu cespleng, blio kemudian mencatut nama Pak Presiden. Manusia mana yang tak yakin jika nama orang nomor satu di Indonesia sudah disebut?

Tapi, untuk soal seperti ini, mengutip ungkapan Umar Kayam, “harus ada sesuatu untuk sesuatu”. Bagi-bagi saham lah, amplop lah, kendaraan lah. Pokoknya harus ada “tanda terima kasih”. Masalah nanti ketahuan, blio-blio ini sudah punya prinsip “Jangan pernah jujur di hadapan hukum dan media”. Laba dari hasil pekerjaannya juga bisa dipakai untuk isi amplop untuk kemudian diselipin di saku para penegam hukum. Yang penting jangan sampai kena pasal. Kalaupun kena pasti cuma dapat teguran doang.

Dan agar nama baiknya tetap terjaga, blio-blio ini siap untuk melaporkan balik orang-orang yang telah mencemarkan nama baik blio. Weladalah, Pak, pasal pencemaran nama baik hanya berlaku jika korbannya benar-benar mempunyai nama baik. Panjenengan kok pede amat diri panjenengan itu punya nama baik. Gumun aku, Pak.

Eh, sek sek Pak Setnov, panjenengan itu benar-benar orang baik ding. Lha wong istri panjengan aja bilang “Say, kalau gue analisis, lo jangan nolong orang lagi deh.”

Pripun? Ndak enak tho jadi orang baik? Sudah Pak, mundur saja, terus ganti profesi jadi tukang jualan kudung. Ini mama saya siap jadi pemasok. Tapi tetep, kudu ada sesuatu untuk sesuatu. Wani piro? Heuheu..

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s