Salman dan Salma

“Walau enggak ada polisi, yang namanya aspal itu tetap keras. Kena kepala langsung benjut. Sakit. Bahkan bisa berdarah dan gegar otak. Kamu pikir mentang-mentang enggak ada polisi lalu tiba-tiba aspalnya berubah jadi kasur empuk? Mikir! Makanya pakai helm walau cuma dekat!”

Begitulah suatu sore Salman terkena marah oleh orangtuanya. Ia hendak ke minimarket untuk membeli penganan. Karena dekat, pikirnya, tak perlulah ia memakai helm. Padahal emaknya sudah teriak-teriak mengingatkan sebelum ia pergi.

“Pakai helm, Man!”

“Tak usah, Mak. Cuma ke depan gang juga.”

Namun, nasib sial menimpanya. Di depan gang, saat hendak menyeberang, sebuah mobil menyerempet sepeda motornya. Salman tak bisa mengendalikan laju sepeda motor itu. Ia terpelanting dan kepalanya membentur aspal. Segera ia ditolong oleh warga dan pengemudi mobil.

Namanya lengkapnya Salman Alfarisi. Kadang sering dipanggil “Ndul” oleh teman-temannya. Ia baru mendapatkan sepeda motor itu saat kenaikan kelas tiga SMA.

“Ini hadiah dari Emak karena kamu naik kelas. Nanti dipakai ya, biar tak berat diongkos kalau naik kendaraaan umum. Apalagi sebentar lagi Ujian Nasional, bisa gawat kalau terlambat. Mulai besok belajar nyetir ya. Pakai yang benar, jangan buat kebut-kebutan.”

Salman mengangguk bahagia, matanya berkaca-kaca melihat sepeda motor baru di depan rumahnya. Esok harinya, belajarlah ia dibantu oleh salah seorang teman.

“Ini tinggal ditarik, ‘kan?” Tanya Salman kepada temannya yang tengah berkacak pinggang di bawah pohon.

“Masukkan giginya dahulu ke depan, baru ditarik gasnya.”

Ceklek! Dimasukkannya satu gigi ke depan. Tuas gas ia tarik. Sontak sepeda motor melaju kencang tak terkendali hingga menabrak pohon.

“Kenapa gasnya ditarik kencang banget?” Hardik teman Salman kaget karena dirinya hampir tertabrak sepeda motor.

“Lho, di televisi juga begitu. Itu si Rossi kalau mau balapan juga narik gasnya begitu sambil rodanya diangkat-angkat.”

Mendengar jawaban Salman, temannya tak henti-hentinya tertawa.

“Heh, dia itu ‘kan pembalap profesional. Sudah ahli. Kamu ini, baru mau belajar naik sepeda motor sudah main tarik gas kencang-kencang. Tariknya pelan-pelan saja, Ndul! Bangun!”

Dan bangunlah Salman yang terkenal gundul itu sambil menegakkan sepeda motor dibantu temannya. Ia mulai belajar menyetir lagi. Dalam dua hari ia sudah pandai mengoper gigi dan berjalan di tikungan gang. Ia juga sudah pandai mengoperasikan tombol-tombol yang ada di setang sepeda motornya.

Merasa sudah ahli, ia mulai mencoba ke jalan raya. Namun seperti yang sudah diceritakan di awal, dirinya mendapat sial. Ia terserempet sebuah mobil, kepalanya benjut terkena aspal.

“Untung cuma benjut. Amit-amit deh kalau sampai gegar otak.” Ucap emaknya saat mengoleskan ramuan di kepala Salman.

Duh, Mak, benjut begini kok masih dibilang untung, keluh Salman dalam hati mengernyit kesakitan.

***

Esok harinya, sehari pasca kecelakaan, datang seorang gadis ayu menjenguk Salman. Kulitnya kuning langsat, tingginya semampai bak pramugari pesawat. Rambutnya hitam lurus memanjang dan terdapat sedikit tahi lalat di dagu yang menambah cantik parasnya yang ayu.

Namanya Salma, tanpa n. Ia teman dekat Salman sejak kelas satu SMA. Tak tahu mengapa mereka begitu dekat. Mungkin karena kemiripan nama. Oh, atau ada perasaan yang sama? Ah, rasanya tidak. Walaupun Salma begitu dekat dengan Salman, bahkan sering dibuat tertawa oleh tingkah lakunya, namun tak sedikitpun gadis itu menaruh hati padanya. Ya, hampir tiga tahun berkawan, tak pernah sekalipun mereka bermesraan. Mengutip istilah anak muda zaman sekarang, mereka terjebak dalam zona pertemanan.

“Eh, ada cah ayu. Duh, ngapain repot-repot bawa buah segala? Ayo masuk! Salmannya ada di dalam kamar,” seloroh Emak Salman menyambut kedatangan gadis itu.

Masuklah Salma ke dalam kamar Salman. Dilihatnya Salman salah tingkat saat mengompres kepalanya dengan es batu. Keduanya saling melempar tawa kecil.

Awalnya Salma hanya basa-basi, menanyakan keadaaan Salman dan penyebab sakit di kepalanya. Lalu seperti biasa, ketika Salma bertemu Salman, akan ada obrolan panjang tentang apa yang dialami gadis itu seharian—bahkan bisa satu minggu ke belakang jika gadis itu lama tak bercerita kepada Salman. Kadang ia bercerita tentang teman-temannya, namun lebih banyak bercerita tentang kisah cintanya dengan Samudera, pacarnya yang ia kenal saat naik kelas tiga.

“Samudera sekarang masuk geng motor, Man,” lirih Salma mulai bercerita. “Tingkah lakunya tak bisa dikontrol.”

Begitu mengetahui akan ada obrolan panjang, Salman pun mengubah posisinya mendekati Salma. Ia khusyuk mendengarkan sembari berbaring.

Diceritakan oleh Salma bahwa sifat dan tingkah laku pacarnya berubah drastis semenjak masuk geng motor. Samudera sering balapan liar tengah malam. Jika bertemu di pagi atau siang hari, matanya selalu merah dan berkantung hitam.

“Akhir-akhir ini ia jarang memberi kabar, Man. Bertemu pun hanya beberapa kali saja. Aku takut ia bermain perempuan. Aku ingin putus, Man. Putus.”

Mendengar kata “ingin putus”, raut khusyuk Salman tiba-tiba berubah. Ada kebimbangan di dalam hatinya, antara sedih atau bahagia. Sedih karena melihat sahabatnya dirundung masalah, bahagia karena ada kesempatan untuk mengisi hati Salma yang tak lama lagi akan kosong.

***

Entah pada hari ke berapa Salman mulai naik sepeda motor lagi. Yang jelas saat benjol di kepalanya mulai menghilang, ia sudah berani ke sekolah menggunakan sepeda motor. Surat Izin Mengemudi segera ia bikin karena takut berurusan dengan polisi. Ia kini juga mulai berhati-hati dalam berkendara. Tak pernah lagi ia berkendara tanpa menggunakan helm.

Namun, namanya juga anak muda, pergaulannya terkadang sulit untuk dikendali. Janjinya untuk berhati-hati dalam berkendara bahkan ia ingkari. Semenjak mengenal sepeda motor, ia sering pergi ke sana kemari tanpa kenal waktu. Sepeda motornya pun sudah beda bentuk lagi. Bodinya ia preteli, knalpotnya ia ganti dengan knalpot yang tak kalah bisingnya dengan mesin parut kelapa. Klakson pun ia ganti dengan klakson yang memiliki suara seperti klakson truk pantura. Lampu depannya, bah, sudah ia ganti dengan lampu warna putih yang menyilaukan mata.

Weladalah, Man.. Man.. Sepeda motor bagus-bagus kok malah dimodifikasi tambah jelek kayak gini. Mereka itu, Man–orang-orang yang merakit sepeda motor ini, mereka itu orang-orang pintar. Tahu tentang otomotif. Rela kerja siang-malam cuma buat bikin sepeda motor yang aman, yang bagus. Kamu ini, belum juga lulus SMA, kok ya sudah main modifikasi gitu. Ya kalau hasilnya bagus, kalau kayak gini, ya tambah ancur, Man. Duh, Man!” Emak Salman hanya geleng-geleng kepala melihat anaknya yang tengah membongkar sepeda motor kesayangannya.

Salman tak menghiraukan ucapan emaknya. Ia terus saja mencopot beberapa bagian sepeda motor yang dirasa tak perlu ada. Hanya bikin berat saja, begitu katanya.

Saat berada di jalan raya, kelakuannya juga tak kalah hancur seperti sepeda motornya. Ia sering kebut-kebutan. Salip apapun yang ada di depannya. Bahkan ia pernah menyalip raja jalanan: ibu-ibu pengendara sepeda motor matic yang sering berjalan di tengah jalur dengan kecepatan sangat rendah.

Oalaah.. Bocah gemblung! Naik sepeda motor kok pecicilan!” Begitu teriak seorang ibu-ibu yang hampir jatuh dari sepeda motor ketika Salman menyalipnya.

Salman juga sering melanggar lalu lintas. Jika lampu merah menyala, ia selalu berada di barisan paling depan, bahkan lebih depan dari markah jalan. Dan begitu lampu kuning menyala—lampu yang memberikan interval waktu untuk mulai berjalan atau berhenti, bergegas ia menarik tuas gasnya kencang-kencang. Hemat beberapa detik, begitu pikirnya.

Mungkin ia tak tahu apa makna dari lampu-lampu itu: merah untuk berhenti, hijau untuk berjalan, dan kuning untuk pelan-pelan. Ya, pelan-pelan, bukan mengebut seperti dirinya.

Polisi pun sering dibuat kewalahan dengan tingkah lakunya.

***

Siang yang terik membuat Salma ingin dijemput dari sebuah pusat perbelanjaan. Di kedua tangannya tertenteng beberapa kantong belanja berisi pakaian dan beberapa boneka. Segera ia menelpon pacarnya. Tak ada jawaban. Sekali lagi. Tak juga ada jawaban. Kesal, ia lantas menelpon Salman, meminta sahabatnya itu untuk menjemput.

Sepuluh menit kemudian Salman datang dengan sepeda motor bisingnya. Pakaiannya begitu lusuh. Beberapa pasang mata langsung menatap mereka berdua.

“Ya ampun, cewek secantik itu kok ya mau sama cowok udik. Itu lho sepeda motornya. Aduh, bentuknya sudah mirip sepeda, tinggal rangkanya saja.”

“Iya, si cewek pasti anak borjuis. Lihat saja pakaiannya, bagus, ‘kan? Beda sama si cowok. Ini mah kayak di film-film, apa itu namanya lupa. Nah, Beauty and the Beast. Si cantik dan si buruk rupa.”

Mendengarnya, Salma dibuat malu oleh Salman. Ia ingin menghardik sahabatnya itu, namun tak berani. Segera ia meminta Salman untuk tancap gas. Di perjalanan, ia tak henti-hentinya dibuat kesal oleh cara mengendarai Salman. Di matanya, Salman tak jauh berbeda dengan Samudera, pacarnya.

***

“Jadi tidak nanti malam?” Seorang teman Salman menelponnya di penghujung sore.

“Waduh, kayaknya enggak bisa. Besok aku ujian terakhir.” Salman melirik emaknya. Nadanya begitu lirih menjawab telepon itu.

“Yah, padahal hadiahnya lumayan. Ayo lah!”

Lama menimbang-nimbang, akhirnya Salman menyetujui. Ia menyetujui ajakan temannya untuk ikut balapan tengah malam.

Pukul sebelas malam ia keluar rumah melewati jendela kamarnya. Sepeda motor telah ia titipkan terlebih dahulu di rumah tetangganya. Sejak isya ia telah menutup pintu kamarnya dan meminta orangtuanya untuk tidak mengganggu karena besoknya Ujian Nasional. Ingin fokus belajar, begitu katanya. Orangtuanya begitu bahagia mendengarnya.

Jalanan dekat alun-alun telah riuh oleh pemuda-pemuda tengah malam. Salman turut ikut di dalamnya. Malam itu ia akan beradu balap sepeda motor dengan beberapa temannya, dengan seorang perempuan sebagai hadiahnya.

Salman berapi-api malam itu. Tak peduli esoknya ada Ujian Nasional. Dan saat gilirannya tiba, saat bendera start hendak dikibarkan, terdengar bunyi sirine meraung-raung.

“Polisi! Polisi!” Sontak kerumunan pemuda tanggung itu lari tunggang langgang. Salman tak dapat menghindari. Mesin sepeda motornya mendadak mati saat hendak kabur. Alhasil ia digiring ke kantor polisi.

Selama hampir tiga jam ia diintrospeksi. Jam tiga dini hari ia baru bisa keluar dari kantor polisi. Di tangannya tergenggam selembar surat tilang. SIM-nya ditahan. Ia harus menebusnya seminggu kemudian. Matanya begitu merah saat sampai rumah. Kantuk tak bisa ia tahan. Ia limbung di kamarnya.

“Salman, bangun!” Samar-samar Salman membuka matanya saat mendengar suara itu. Ia melirik jam dinding. Enam empat lima. Hah? Salman melonjak kaget. Celaka! Lima belas menit lagi ia akan terlambat. Tanpa mandi ia langsung meluncur ke sekolah. Seorang satpam hanya geleng-geleng kepala begitu melihatnya menguluyur masuk saat bel hendak berbunyi.

Selama ujian ia tak bisa berkonsentrasi. Matanya begitu merah. Berkali-kali ia menguap saat mengerjakan soal. Berkali-kali pula pengawas menghardiknya.

Pukul 11:00 bel berbunyi. Hujan deras mengguyur sepanjang jalan. Namun, hal itu tak membuat Salman memilih bertahan. Ia ingin pulang. Tubuhnya butuh istirahat. Dengan mencangklongkan helmnya di tangan, secepat kilat ia meluncur menembus hujan. Di tengah jalan nasib sial tak bisa dihindari. Ia tergelincir saat menghindari genangan air. Terdengar keluh kesakitan. Tetes darahnya bergabung dengan tetes hujan, membentuk kubangan berwarna merah. Jeritan orang-orang menghiasi siang itu.

***

Kabar yang tak kunjung datang dari pacarnya membuat Salma ingin menyambari pemuda itu. Ia tahu di mana Samudera berada jika siang terik begini: di kedai kopi dekat sekolah. Ia pasti sedang berada di sana bersama beberapa teman geng motornya. Bergegas Salma meminta izin kepada ibunya untuk keluar.

“Tak diantar Pak Soleh saja, Sal?”

“Tak usah, Ma. Cuma mau ketemu teman saja kok.”

Dengan sepeda motor Salma meluncur ke kedai kopi. Selama di perjalanan pikirannya bercabang. Ia dihantui ketakutan-ketakutan. Ia takut pacarnya benar-benar bermain perempuan. Ia takut dunia malam membuat Samudera mengenal minuman keras. Ia takut gaya ugal-ugalan Samudera membuat pemuda itu bernasib sama dengan Salman: terkapar di tengah jalan.

Begitu Salma sampai di kedai dekat sekolahnya, ketakutannya benar-benar datang. Samudera tengah bersama perempuan. Emosi tak bisa ia tahan. Kata-katanya melengking menyebutkan sumpah serapah begitu tangannya menampar pipi Samudera. Dengan menahan air mata, ia melajukan sepeda motornya meninggalkan Samudera. Matanya berair. Tanpa menepikan sepeda motornya, tangannya merogoh saku celana, mengambil telepon genggam, lalu menelpon lelaki yang telah membuatnya sakit hati.

“Mulai sekarang kita putus!” Dan sepeda motor semakin dilaju dengan kencangnya.

***

Kejadian yang hampir menghilangkan nyawanya membuat Salman merasa jera. Ia berjanji tak lagi ugal-ugalan di jalan. Helm akan selalu ia pakai. Sepeda motor pun sudah ia ubah seperti semula. Ia kini peduli keselamatan. Ia selalu teringat pesan polisi yang terpampang di perempatan jalan, “Jadilah Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas dan Budayakan Keselamatan Sebagai Kebutuhan.”

Dan ketika traumanya mulai hilang, ia mulai berani ke jalan raya. Laju sepeda motornya tak berani di atas 40 km/jam. Begitu pelan, demi sebuah keselamatan.

Nasib buruk mungkin akan terulang ketiga kalinya jika ia tak segera menghidar ketika sebuah sepeda sepeda motor dengan kencangnya melaju ke arah dirinya. Beruntung ia bisa menghindar. Namun, naas bagi pengendara satunya. Ia terluka di bagian lengan kanannya karena gesekan dengan aspal. Helmnya terpental jauh, mungkin karena tidak dikunci. Segera Salman menstandarkan sepeda motornya dan bergegas menolong pengendara sepeda motor yang tak sadarkan diri itu. Saat sepeda motor itu diangkat, ada sebuah telepon genggam yang menyala. Terdengar suara dari dalamnya..

“Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Tadi itu saudaraku. Percayalah! Sayang.. Hallo, Sayang.. Salma sayang..”

Pemalang, 30 Oktober 2015

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.” #SafetyFirst

Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

 

Catatan: Cerpen ini terpilih menjadi finalis kompetisi menulis #SafetyFirst. Buku kumpulan cerpen “Safety First” dapat dipesan di http://nulisbuku.com/books/view_book/8118/safety-first

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s