Direct Assessment Indonesia Mengajar Angkatan XI

Ini sebenarnya kesempatan kedua saya mengikuti seleksi Indonesia Mengajar. Angkatan sebelumnya saya sempat ikut, namun gagal dalam Direct Assessment. Kali ini saya mencoba peruntungan lagi. Dan, dari 8249 aplikasi online yang masuk, nama saya tercantum dalam 195 peserta yang berhak mengikuti seleksi selanjutnya, yaitu Direct Assessment.

ESSAY

Seperti yang kita tahu, Indonesia Mengajar (IM) ialah sebuah gerakan yang diprakarsai oleh Pak Anies Baswedan saat beliau menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina. IM mengirim para sarjana untuk mengajar selama satu tahun di pedalaman Indonesia. Dalam visi-misinya, IM berpusat pada 2 hal yaitu kepemimpinan dan pendidikan. IM ingin membangun jejaring pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman akar rumput dan ingin melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Untuk menjadi Pengajar Muda (sebutan untuk guru di IM) kita terlebih dahulu harus mengisi aplikasi online yang berisi belasan essay tentang pengalaman kita, baik dalam organisasi maupun kehidupan sehari-hari.

Inti dari essay ini adalah tentang bagaimana aksi kita saat dihadapkan dalam beberapa masalah. Salah satu contoh pertanyaannya ialah: Ceritakan pengalaman Anda pada saat harus bekerja dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan dalam rangka menyelesaikan pekerjaan! Seberapa puas/tidak puaskah Anda dengan keadaan tersebut dan mengapa?

Tips dari saya isilah essay tersebut sejujur-jujurnya. Lho, kenapa harus jujur? Karena essay ini akan ditanyakan saat interview nanti. Untuk menjawab essay ini, gunakanlah metode STAR (Situation, Task, Action, dan Result). Dijamin Insyaallah bisa lolos untuk mengikuti seleksi selanjutnya.

DIRECT ASSESSMENT

Tanggal 9 Juni 2015 saya mendapat email bahwa saya lolos seleksi tahap I (aplikasi online). Saya mendapat jadwal untuk mengikuti Direct Assessment di UGM Yogyakarta tanggal 1 Agustus. Cukup panjang jedanya, lumayan untuk persiapan 🙂

Email Indonesia Mengajar

Direct Assessment (DA) ini ialah serangkaian seleksi dalam satu hari yang mencakup Self-presentation, Focus Group Discussion, interview (2x), micro teaching, dan psychological testing.

Oh iya, sebelum mengikuti DA, ada psikotes online (lupa tanggalnya kapan). Jenis psikotesnya PAPI (Perseptual and Preference Inventory). Ada 90 pertanyaan, AB-AB. Kita disuruh memilih mana di antara A dan B yang mendekati pribadi kita. Tidak ada jawaban benar atau salah. Tidak ada tipsnya juga. Intinya, jadilah diri sendiri, pilih yang sesuai dengan diri kita masing-masing.

Self Presentation

Saat hari H (btw, H-nya apaan ya?), usai pengenalan tentang IM oleh para pengurus IM, kami yang berjumlah 19 peserta kemudian dipecah menjadi 2 kelompok agar memudahkan dalam seleksi.

Sesi pertama adalah self presentation. Dalam sesi seleksi ini, kami disuruh presentasi tentang diri masing-masing dalam 7 menit. Bebas mau presentasi apa saja. Pas dengar teman-teman satu kelompok mempresentasikan diri mereka, boo, saya Cuma melongo dan tepuk tangan. Ada teman yang pernah di Jepang 1 tahun untuk studi, ada seorang aktivis, ada pula penggiat komunitas yang kegiatannya didukung oleh Kang Emil Walikota Bandung. Da aku mah apa atuh, Cuma remah-remah roti yang dikerubungi semut.

Tips dari saya, gunakan 3-4 menit untuk presentasi, sisanya untuk Tanya jawab. Gunakan metode Present-Past-Future dalam berpresentasi: siapa dan apa yang dilakukan kita sekarang, ceritakan pengalaman-pengalaman dan pendidikan yang pernah kita dapat, dan ceritakan pula ingin seperti apa kita di masa mendatang. Jangan lupa sertakan mengapa tertarik bergabung bersama Indonesia Mengajar.

Focus Group Discussion

Usai mendegarkan self-presentation dari teman-teman yang penuh inspiratif, dilanjutkan Focus Group Discussion (FGD). Di sesi ini, satu kelompok disuruh berdiskusi untuk memecahkan sebuah masalah.

Saat FGD kemarin, kami diberi sebuah kasus di mana kami berperan sebagai Pengajar Muda yang harus meningkatkan minat belajar dan prestasi anak-anak pedalaman. Ada 6 usulan yang diberikan oleh Tim Assessor. Secara individu masing-masing peserta harus menyusun mana yang menjadi prioritas. Sangat alot ketika usulan tersebut kami utarakan untu disusun berdasarkan kelompok, bukan individu lagi. Di sini tak ada pemimpin diskusi dan tak ada voting. Semua hasil harus disepakati lewat musyawarah.

Tips dari saya, saat diskusi kelompok aktiflah dalam menyampaikan pendapat, namun jangan terlalu dominan jang jangan bertele-tele karena waktunya terbatas. Jika menjadi minoritas, terima saja apa yang disampaikan mayoritas. Dan jangan berdebat, karena ini Focus Group Discussion, bukan Focus Group Debate.

Interview

Ada dua sesi dalam interview ini. Sesi pertama kurang lebih satu jam, sesi berikutnya setengah jam dengan tim assessor yang berbeda. Inti dari interview ini adalah tentang apa yang telah kita tulis dalam essay. So, ingat-ingat lagi apa isi essay-nya. Belajar pula tentang body language dan tips-tips interview (googling aja. Hehe). Ketika interview, jujur saja saat menjawab karena mereka tim assessor yang hebat, tahu kita berbohong atau tidak, tahu grogi atau tidak. Maka dari itu kudu tahu sedikit pengetahuan tentang body language.

Micro Teaching

Nah, ini sesi yang ditunggu-tunggu. Kenapa? Karena sesi ini yang paling pecah. Mental kita diuji di sini. Jadi, selama 7 menit kita berperan sebagai guru di mana peserta lain dan para mantan Pengajar Muda berperan sebagai muridnya yang aduhai sangat gila :))

Sebelumnya, materi yang hendak kita sampaikan sudah diberi tahu terlebih dahulu jauh-jauh hari oleh tim assessor agar kita bisa mempersiapkannya semaksimal mungkin. Kebetulan saya mendapat materi PKn kelas 3 tentang “Mengamalkan Makna Sumpah Pemuda”. Saya tidak bawa bahan praketek apapun karena bingung apa yang mau dipraktekkan. Teman-teman yang mendapat materi IPA atau materi lain ada yang membawa kura-kura sebagai bahan prakteknya. Weew!! O_O

Saat mengajar, setiap peserta akan dihadapi dengan simulasi yang berbeda-beda. Simulasi ini bertujuan agar kita siap dengan keadaan yang sewaktu-waktu bisa terjadi saat bertugas nanti. Ada yang berhadapan dengan simulasi terjadinya gempa di saat mengajar, ada yang mendapat simulasi di mana tiba-tiba ada penjual jajanan masuk kelas, ada pula simulasi di mana orang tua murid datang menjemput anaknya untuk membantu di ladang. Saya sendiri mendapat simulasi ketika seorang anak tiba-tiba ngompol di celana dan menjadi bahan per-bully-an. Kita dituntut untuk bisa menjadi problem solver yang baik dan cepat.

Yang bikin pecah ialah kelakuan “anak-anak’ yang sangat rewel, ngeyel, dan susah diatur (baca: macam orang gila). Bahahak, piss teman-teman! 😀

Siapkan mental saja saat menghadapi mereka. Enjoy this session! 😀

Pshyco-test

Sesi terakhir ialah psikotes gambar. Kami diberi 3 lembar kertas untuk menggambar. Kertas pertama untuk menggambar pohon; kertas kedua menggambar manusia; kertas ketiga menggambar rumah, pohon, dan manusia. Tak ada tips khusus karena menyangkut kode etik. Intinya sih banyak latihan menggambar saya sebelum seleksi.

Dan akhirnya tepat jam 5 sore kami selesai mengikuti Direct Assessment. Sebuah seleksi yang panjang namun tak terasa. Sebelum berpisah, kami saling bertukar kontak dan tak lupa foto bersama 😀

Besar harapan, ada di antara kami yang lolos menjadi orang-orang yang beruntung terpilih sebagai Pengajar Muda, salah satunya saya. Amiin 😀

IMG-20150802-WA0001 IMG-20150802-WA0000

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s