Perawan Tua dari Tuban

Tukang Tenun
Tukang Tenun

Di dalam sebuah kereta, saat pertama kali kami bertemu, Savitri—yang sekarang menjadi istriku—pernah bercerita: bahwa saat ia masih perawan, ia pernah hendak dinikahkan dengan paksa oleh Ibunya. Namun ia batal menikah karena suatu masalah. Sebelum aku berangkat kerja, izinkan aku untuk menceritakannya sebentar, bercerita tentang bagaimana Tuhan sangat pandai dalam mengatur jodohnya. Begini ceritanya..

Namanya Savitri, umurnya hendak tiga puluh tahun saat ia mendapat julukan Perawan Tua. Hari-harinya diisi dengan menenun batik di Desa Kerek, Kabupaten Tuban. Semasa SMA, ia pernah berpacaran dengan seorang anak nelayan. Namun hanya bertahan dua bulan karena si lelaki mengkhianati cintanya. Lelaki itu telah menjalin cinta diam-diam dengan perempuan lain. Semenjak itu, Savitri tak pernah lagi percaya dengan janji para lelaki.

Pelan, usia Savitri merangkak dari angka ke angka. Hingga akhirnya usianya hendak menginjak kepala tiga.

“Kau tak ingin menikah?” Tanya Ibunya suatu hari saat Savitri tengah menenun batik.

“Ingin. Tapi belum menemukan yang cocok.”

“Kau tak malu mendapat cibiran Perawan Tua?”

“Aku tak keberatan disebut Perawan Tua. Jodoh sudah ada yang mengatur, Bu. Biarkan saja, nanti juga bakal ketemu.”

“Jodoh memang sudah ada yang mengatur, tapi bukan berarti kau hanya diam saja di rumah. Berhentilah menenun! Carilah jodohmu secepatnya! Ibu ingin segera menimang cucu.”

Savitri tercenung. Ada kepedihan yang mendalam di hatinya. Ia menyadari, tak ada siapa pun di rumahnya selain ia dan Ibunya. Ayahnya telah meninggal belasan tahun silam. Savitri tak mempunyai kakak, pun adik. Ia satu-satunya harapan sang Ibu untuk menimang cucu.

Esoknya, tak tahan melihat Savitri terlalu lama menjadi jomlo, diam-diam sang Ibu pergi ke sebuah dukun untuk mendapat nasihat perihal jodoh Savitri. Di rumah dukun itu, ia mendapat nasihat agar Savitri rajin meminum air kelapa dan mandi kembang setiap malam selama tujuh hari. Pulang dari rumah dukun ia segera pergi ke pasar, membeli beberapa butir kelapa segar dan beberapa kembang.

“Minumlah agar kau cepat mendapat jodoh,” ucapnya menyodorkan segelas air kelapa kepada Savitri. Savitri menolak.

“Tahu dari mana kalau air ini bisa mendatangkan jodoh? Ibu pergi ke dukun? Tidak, tidak! Itu syirik! Aku tak percaya!”

“Syirik katamu? Oalah.. Dasar perempuan bebal tak tahu untung!” Teriak Ibunya geram. Matanya merah memendam marah.

Savitri yang tengah menenun batik tiba-tiba menghentikan tenunannya. Bahunya berguncang. Ada tangis yang hendak meledak. Ia lalu berlari ke kamar, membanting pintu dan menutupnya rapat-rapat. Tangis pecah saat ia membenamkan wajahnya di balik bantal. Ia menyesal telah meluaki hati Ibunya. Tak seharunya ia berucap seperti itu. Ia juga menyesal tak pernah berusaha mencari pendamping hidup. ”Berhentilah menenun! Carilah jodohmu secepatnya! Ibu ingin segera menimang cucu!” Kalimat itu kembali terngiang di kepala Savitri.

***

Tekad sang Ibu benar-benar kuat untuk menikahkan Savitri. Tepat pada malam pergantian umur Savitri yang ke-30, Ibunya mengajaknya untuk berunding tentang calon suami Savitri.

“Benar kau tak tak ingin segera menikah? Atau ingin Ibu carikan calon suami? Ibu sudah mempunyai pilihannya.”

“Calon suami? Siapa?”

Sang Ibu lalu memberikan tiga pilihan calon. Pertama, Gunawan, anak Kepala Desa Kerek; lalu ada Kuncoro, kepala bidang pemasaran di pabrik Semen Gresik; dan terakhir Faris, anak Kyai Soleh, pengasuh salah satu pondok pesantren di kotanya. Tiga hari lamanya Savitri berpikir untuk menentukan pilihan. Hingga akhirnya pilihannya jatuh kepada Kuncoro. Segera ia dan Ibunya pergi ke rumah Kuncoro untuk mengadakan kunjungan.

Aku kaget saat mendengar Savitri menceritakan ini. Sangat aneh ketika pihak perempuan yang datang meminang lelaki, seperti perigi cari timba. Namun di Tuban hal semacam ini sudah menjadi tradisi. Tak ada rasa rikuh, pun tak menyalahi aturan agama.

“Kau pernah mendengar cerita Siti Khadijah? Dulu saat Siti Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad, perempuan suci itulah yang datang untuk melamar Sang Nabi,” begitu Savitri pernah bercerita. “Di Tuban, pihak perempuanlah yang berinisiatif menetapkan pilihan. Sementara keluarga pihak laki-laki, menjadi pihak yang berhak menolak pinangan jika tidak sesuai dengan keinginan hatinya,” lanjutnya memberi penjelasan.

Kunjungan ini dinamakan nontoni, atau melihat-lihat. Tak lain bertujuan untuk memberikan kesempatan, baik kepada Savitri maupun Kuncoro untuk saling melihat. Juga memberi kesempatan bagi orang tua mereka untuk saling menilai. Di acara kunjungan ini, orangtua Kuncoro dan Savitri sepakat untuk menikahkan anak mereka. Senyum tersungging di bibir orangtua sejoli itu.

Beberapa minggu kemudian mereka melaksanakan pinangan resmi. Hanya Ibu Savitri dan beberapa kerabatnya yang datang ke rumah Kuncoro. Mereka datang dengan membawa seserahan: kue gemblong, pisang raja, jananan pasar, minuman ringan, seekor kambing, dan beberapa slof rokok.

Kunjungan balasan pun dilakukan oleh Kuncoro. Ia bersama keluarga dan kerabatnya datang membawa satu ekor sapi, sembako, dan beberapa jajanan pasar. Kau tahu, kata Savitri, kunjungan keluarganya ke rumah Kuncoro disebut Ngemblok. Sedangkan kunjungan balasan dari Kuncoro disebut tuntutan. Aku hanya mengangguk ketika Savitri menjelaskan istilah kunjungan ini.

Dan hari-hari mereka pun diisi oleh kesibukan mengatur pernikahan. Mereka sibuk mempersiapkan segalanya. Dari undangan hingga prasmanan. Dari maskawin hingga perlengkapan pascakawin.

Namun, hari sial datang tak terduga. Saat hendak selametan, beberapa polisi datang menangkap Kuncoro. Kuncoro terjerat kasus korupsi pengadaan barang. Ia divonis tiga tahun masa tahanan. Keseharian Savitri yang ceria pun berubah menjadi kesunyian. Kesunyian semakin tebal ketika ia memutuskan untuk tidak menikah dengan Kuncoro. Baginya, menikah hanya sekali, dan ia menginginkan yang terbaik dan tak ingin menyesal di kemudian hari.

Savitri kembali mendapat sebutan Perawan Tua.

***

Sebelum kuceritakan bagaimana aku dan Savitri bisa bertemu, izinkan juga aku bercerita tentang kisah Klenting Kuning, Mbok Rondo Dadapan, dan Ande-ande Lumut. Kisah ini aku dapat dari Savitri. Ia bilang, kisah merekalah yang menjadi dasar mengapa pihak perempuan yang harus meminang terlebih dahulu.

Alkisah, hiduplah seorang janda bernama Mbok Rondo Dadapan. Sesuai dengan namanya, janda tersebut tinggal di kampung Dadapan. Ia mempunyai dua orang putri bernama Klenting Hijau dan Klenting Merah. Tak puas dengan dua putri, ia lalu mengangkat seorang gadis untuk menjadi anaknya. Gadis itu ia beri nama Klenting Kuning. Ia diberi nama Klenting Kuning karena kulitnya kuning langsat, berbeda dengan dua anak Mbok Rondo lainnya.

Sayang seribu sayang, nasib buruk menimpa Klenting Kuning. Ia diperlakukan sebagai pembantu dan harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Namun ia begitu sabar dan tabah melakukannya. Sebagai imbalannya, Dewa memberikan ia hadiah berupa sapu lidi ajaib.

Singkat kisah, seorang pangeran tampan bernama Ande-ande Lumut mengadakan sayembara untuk mencari seorang gadis yang akan dijadikan pendamping hidupnya. Ia mengadakan sayembara karena gengsi dengan harga dirinya jika ia turun ke kampung. Biarlah para perempuan yang datang ke istananya.

Mendengar sayembara tersebut, kedua anak Mbok Rondo datang dengan penampilan secantik mungkin. Klenting Kuning sengaja disuruh mencuci pakaian agar ia tak datang ke istana. Di tengah perjalanan menuju istana, sebuah sungai besar menghalangi mereka. Sungai itu dijaga oleh seekor ketam raksasa. Ketam itu hanya mau mengantar mereka menyebarang jika ia diberi imbalan ciuman. Kedua gadis itu menerima tawaran. Mereka akhirnya menyeberang dengan menaiki punggung ketam raksasa. Agak malu-malu mereka memberi ciuman kepada ketam raksasa usai menyeberang.

Klenting Kuning yang juga mendengar sayembara tersebut bergegas menyelesaikan cuciannya dan mengejar kedua kakak angkatnya untuk mencoba peruntungan. Ketika bertemu ketam raksasa yang hanya mau mengantarnya menyeberang jika diberi ciuman, Klenting Kuning marah besar karena merasa terhina. Ia lalu mencambukkan sapu lidinya ke sungai. Seketika sungai mengering dan secepat mungkin ia berlari untuk menemui Ande-ande Lumut.

Di dalam istana, Ande-ande Lumut ternyata menolak pinangan Klenting Hijau dan Klenting Merah karena kedua gadis tersebut telah ternoda oleh sikap mereka terhadap ketam raksasa. Kesucian Klenting Kuninglah yang kemudian mengantarkan Ande-ande Lumut menikahi gadis tiri itu.

***

Baik, sebentarnya lagi aku hendak berangkat kerja. Mari kuceritakan saja bagaimana aku bisa menikah dengan Savitri.

Sebagai penghilang kesedihannya setelah berbulan-bulan tenggelam dalam duka yang panjang, Savitri lalu berpindah ke Jakarta untuk mengadu nasibnya di sana. Kau tahu, selain rezeki dan kematian, jodoh juga menjadi misteri Tuhan. Kami tak menyangka, Tuhan yang Maha Baik mempertemukan kami dalam sebuah kereta. Aku yang berangkat dari Purwokerto–yang juga hendak ke Jakarta, bertemu dengan Savitri saat kami duduk berhadapan.

Di dalam kereta yang penuh sesak oleh para perantau, aku tak menyadari jika ada perempuan manis duduk berhadapan denganku. Aku baru menyadari saat ia mendongakkan wajahnya yang sedari tadi tertunduk tidur. Matanya bertemu mataku. Bola mata yang hitam dan indah sempurna. Seakan menarikku untuk masuk ke dalam matanya. Mata yang teduh. Mata yang tenang. Mata yang membuat bara cintaku meletup tak beraturan. Ia begitu manis dengan bibir tipis yang menyunggingkan senyum.

“Mau ke Jakarta juga, ya?” Tanyaku sedikit gugup karena tak tahu topik perbincangan apa yang paling tepat untuknya. Ia mengangguk, lalu kembali terdiam.

“Kerja atau bagaimana?”

“Aku baru hendak melamar kerja. Ibuku bilang saudaraku tengah mencari karyawan. Aku hendak melamar di sana, menjadi pelayan restoran. Oh iya, saya Savitri.” Ia mengulurkan tangannya.

Tangan kananku sepontan bergerak untuk menjabat uluran tangannya. “Aryo.”

Dan kami pun bercakap-cakap seperti telah saling lama kenal, walaupun terkadang ia malu-malu dan terlihat sedikit sungkan, apalagi saat ia bercerita bahwa ia pernah hendak dinikahkan paksa oleh Ibunya.

Selama di Jakarta kami sering bertemu. Tak jarang aku datang menjemputnya saat ia pulang kerja. Pertemuan-pertemuan itu kemudian tumbuh menjadi cinta yang indah, yang manis, yang saling menyatukan. Aku mencintainya, ia mencintaiku. Dan dua bulan setelahnya, kami memutuskan untuk melaksanakan pernikahan. Sempat bingung saat hendak melaksanakan pinangan, apakah dari keluargaku atau dari keluarganya. Keluargaku akhirnya datang ke Tuban untuk melakukan perundingan. Sangat alot karena ini menyangkut adat-istiadat. Namun akhirnya kami setuju, bahwa yang meminang ialah dari keluargaku. Tak ada lagi istilah perigi cari timba. Tak ada lagi kisah Rasulullah dan Siti Khadijah. Tak ada lagi kisah Ande-ande Lumut dan klenting Kuning.

***

Satu bulan yang lalu kami baru saja melaksanakan pernikahan. Dan kini kami tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jakarta Selatan. Walaupun usiaku lebih muda darinya, cinta sejati tak akan pernah meruntuhkan cinta kami. Kini kami tengah membangun rencana-rencana. Tentang jumlah anak yang cukup dua, rumah sederhana dengan halaman penuh pot bunga, perjalanan-perjalanan keliling Nusantara, juga tentang masa tua yang tiga tingkat bahagia.

Hei, sekarang sudah pukul setengah tujuh. Aku harus segera berangkat kerja. Kau tahu, saat aku menulis cerita ini, aku senyum-senyum sendiri seperti orang kurang waras. “Tuhan memang pandai dalam mengatur jodoh!”

Purwokerto, 15 Agustus 2014

Catatan:

Cerpen ini dimuat dalam Antologi “Misteri Jodoh: Seri Pesantren Menulis 2”

Iklan

4 thoughts on “Perawan Tua dari Tuban

  1. Cerita yang bagus, Imam. Kisah mengalir lancar. Menarik dengan sentuhan tatacara adat Tuban. Ada beberapa keliru minor yang tak mengganggu seperti penyebutan ‘sebuah’ untuk dukun dan kata-kata yang salah ketik.

    Sejak mula membaca, aku sudah mengantisipasi adanya kejutan di akhir cerita. Siapa sebenarnya aku? Adakah dia punya tujuan khusus? Ternyata sampai cerita usai, ‘kekhawatiranku’ tak terbukti. Cerita tuntas mulus tanpa tambahan kejutan. 🙂

    • Terimakasih, Bang, atas komentar dan koreksinya 🙂
      Jujur, dulu saat menulis cerpen ini sempat bingung untuk memberi kejutan karena tema yang diberikan ialah “Misteri Jodoh”. Akhirnya mencoba bikin cerpen kearifan lokal dengan berani menjadikan cerpen ini happy ending, tak seperti sad ending yang biasanya penuh kejutan 🙂
      Tabik, Bang!

      • Happy ending bisa juga kok ada unsur kejutannya. Misal : ternyata suaminya Savitri ini adalah salah satu dari 3 calon yang dulu disodorkan ibunya. 😉

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s