Savitri Jadi Sintren

Sintren

Pada malam bulan purnama, kau akan melihat penduduk Desa Lasem berkumpul di lapangan, melihat seorang perawan keluar dari kurungan ayam dan menari dengan memakai kacamata hitam. Ia akan menari dengan gerakan yang monoton. Dan jika sudah seperti itu, orang-orang akan percaya bahwa roh Dewi Lanjar telah turun ke bumi dan merasuki tubuhnya. Itulah tarian Sintren yang akan kau saksikan jika malam bulan purnama tiba.

Adzan maghrib berkumandang, Savitri mengucapkan hamdalah. Gadis 16 tahun itu telah selesai melaksanakan ritual sebelum menjadi penari Sintren, berpuasa dari subuh hingga maghrib. Ia bilang, ini bertujuan agar ia tetap dalam keadaan suci, tidak melakukan dosa dan berzina.

“Siapa yang mengajakmu bermain Sintren?” Tanya istri kakaknya yang sedang menyiapkan makanan untuk berbuka.

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa kau memilih menjadi penari Sintren?”

“Gadis-gadis di desa ini percaya, siapapun yang menjadi penari Sintren, ia akan cepat mendapatkan jodoh.”

“Benarkah?”

Savitri mengangguk. Ia lalu mengambil poci teh. Aromanya bergitu menyergap hidung. Harum. Dengan cara yang sungguh mumpuni, ia tuangkan teh dari satu cangkir ke cangkir lainnya, tanpa tumpah setetes pun.

“Dulu, ibu bisa bertemu bapak karena ibu menjadi pemain Sintren. Bulik juga seperti itu. Dan terakhir kemarin, Mbak Asih, ia menikah dengan Mas Arif juga karena Sintren. Makanya sekarang aku mencoba menjadi penari Sintren agar cepat mendapat jodoh.”

“Kau percaya?”

Savitri kembali mengangguk.

Di dalam silsilah keluarganya, dari Mbah Buyut hingga Savitri, hampir semua yang berjenis kelamin perempuan memilih untuk menjadi penari Sintren. Keluarga mbah buyut memang bukan keluarga orang kaya, mereka hidup sederhana. Namun Tuhan memberikan anugerah yang luar biasa. Bayi-bayi perempuan dalam keturunannya terlahir dengan kecantikan yang luar biasa. Mereka tumbuh dewasa dengan rambut ikal mayang, bulu mata lentik, bibir merekah, kulit kuning langsat, dan hidung mancung. Tubuhnya tinggi, langsing, dan gemulai. Tuhan sepertinya telah menakdirkan mereka menjadi penari Sintren. Tarian yang mistis, magis, dan hypnosis.

Kulihat Savitri meraih segelas teh yang baru saja ia tuangkan. Ia pun menyeruputnya, dan ah! Ia terlihat memasamkan mukanya, menahan lidahnya dalam geletar.

“Pahitkah?” Tanya istri kakaknya.

“Iya, sepertinya tadi aku lupa memberikan gula.” Mereka berdua tersenyum, lalu terdengar tawa kecil dari bibir mereka.

Anakku tiba-tiba memanggil. Aku pergi ke kamar, meninggalkan Savitri yang tengah berbuka dengan istri kakaknya.

***

Maghrib. Lalu isya. Kulihat purnama telah menampakkan sinarnya. Di lapangan depan rumahnya, bersama dengan sinden, pawang, dan beberapa pemain gamelan, Savitri mempersiapkan tempat pertunjukan. Gong, kecrek, rebana, gendang, dan kenong mereka tata. Kemenyan, kurungan ayam, dan pakaian yang akan digunakan oleh Savitri juga mereka siapkan. Tikar mereka bentangkan sebagai tempat duduk penonton.

Tempat pertunjukan telah siap. Gamelan ditabuh. Sinden menyanyikan tembang untuk memanggil warga. “Tambak-tambak pawon. Isine dandang kukusan. Ari kebul-kebul, wong nontone pada kumpul.” Begitu, berulang-ulang, hingga semua warga terkumpul.

Di rumanya, Ibu Savitri terlihat tengah sibuk berdandan. “Pak, anak kita hari ini nari Sintren. Bapak ndak nonton?” Tanya perempuan setengah baya kepada suaminya.

“Iya sebentar, ini lagi ganti baju.”

“Cepetan, Pak, ntar keburu mulai.” Ia sepertinya tak ingin kelewatan melihat anak bungsunya pertama kali menjadi penari Sintren.

Di lain rumah, seorang istri mendadak kaget saat melihat suaminya berlari keluar rumah.

“Ke mana?” Tanyanya.

“Ke lapangan. Ini bulan purnama. Ada Sintren di lapangan. Katanya Savitri yang jadi penarinya.”

“Hah, Savitri? Ikuut!!” Ia kemudian mematikan televisi, lalu berdiri mengejar suaminya.

Pak Marto, yang baru saja menyalakan motor hendak pergi ke kampung sebelah, tiba-tiba saja mematikan motornya saat mendengar suara gamelan. Ia melongok dari balik ruji pagarnya dan bergabung dengan beberapa warga yang juga ingin menonton Sintren. Begitu juga dengan anak-anak yang sedang bermain petak umpet, mereka mendadak keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari ke arah lapangan.

Aku, bersama anak dan istriku, juga tak ingin ketinggalan menonton Sintren. “Ini satu bulan sekali,” kataku, “dan yang lebih menariknya, kali ini yang menjadi Sintren ialah Savitri, kembang desa kampung ini. Cepat, bu!” Aku menyuruh istriku untuk mepercepat langkahnya.

Lapangan telah penuh oleh warga. Mereka duduk di tikar. Kami sendiri, maksudku aku dan keluargaku, karena tak da tempat, memilih untuk menonton daribawah pohon mangga.

Usai dirasa semua warga telah terkumpul, sinden pun kembali bernyanyi. Kali ini tembang yang ia nyanyikan ialah untuk memanggil Savitri keluar.

Masih dengan pakaian biasa, kaos oblong dan celana pendek, Savitri lalu keluar dan duduk di depan Ki Roso, pawang Sintren. Diucapkannya ia mantra saat tangannya memegang kedua tangan Savitri di atas asap kemenyan. Kulihat beberapa penonton menutup hidungnya tak tahan dengan bau kemenyan.

Beberapa menit kemudian, usai Ki Roso membacakan mantra, ia-dibantu beberapa asistennya-mengikat tubuh Savitri dengan kain. Tubuhnya kemudian dibaringkan di tikar, digulung, lalu diikat.

“Kenapa ia diikat?” Tanya istriku yang baru pertama kali menonton Sintren.

“Lihat saja, tak usah banyak tanya. Kau pasti akan tahu maksudnya.”

Setelah gulungan tikar diikat kuat menutupi tubuh Savitri, Ki Roso lalu memasukkannya ke dalam kurungan ayam yang tertutup kain hitam. Ia juga memasukkan baju golek, jarit, celana cinde, sabk, sampur, jamang, kaos kaki hitam, kacamata hitam, juga perlengkapan rias.

“Lihatlah, percaya atau tidak, Savitri nanti akan memakai semua perlengkapan itu,” kataku meyakinkan istriku.

“Benarkah?”

“Lihat saja.”

Ki Roso terus membakar kemenyan, menghasilkan asap yang sangat tebal. Sambil berkeliling, ia pun merapal mantra. “Nemu kembang yona yoni, kembange siti mahendra. Widadari temurunan, merasuki badan nira.” Mantra itu ia rapalkan untuk mengundang roh Dewi Lanjar. Dewi yang akan merasuki tubuh Savitri. Dewi yang akan menjadikan Savitri terihat semakin cantik.

Suasana mendadak berubah menjadi mistis saat kurungan tiba-tiba bergetar. “Roh Dewi Lanjar telah turun,” bisikku.

Dengan diiringi bunyi gamelan, kedua sinden terus bernyanyi. “Kembang trate, dituku di sebrang kana. Kartini dirante, kang rante aran mang rana.”

Lalu kurungan dibuka. Seketika muncul Savitri dengan dandanan yang luar biasa. Berkacamata hitam, menggunakan baju tarian khas jawa, dan wajah terias mirip pemain India. Dan yang lebih luar biasanya lagi, ia kini tak terlilit oleh seutas tali pun. Ia pun menari dengan gerakan monoton, membuat tepuk tangan semakin membahana dari tangan penonton.

“Penonton, Savitri ini menari tapi tidak sadar, dia bergerak sendiri,” kata pawang. “Penari Sintren kalau dilempar uang, tubuhnya akan roboh sendiri. Silakan dicoba,” lanjutnya.

Seorang penonton mencoba takut-takut. Dilemparkannya gulungan uang kertas ke tubuh Savitri. Bruuk! Savitri pun roboh ke belakang. Beberapa penjaga sigap menangkap. Lantas Ki Roso meniup wajah Savitri. Ia pun kembali menari, bak wayang di tangan dalang.

Berulang kali Savitri dilempar uang, berulang kali ia roboh dan harus ditangkap. Kemudian penonton yang melempar uang-uang tadi, oleh Ki Roso diperbolehkan menari dengan Savitri.

Setelah pertunjukkan dirasa cukup, Savitri lantas dimasukkan kembali ke dalam kurungan ayam. Ki Roso kembali memutarkan asap kemenyan berkeliling kurungan. “Mau eling, sekiyen eling,” rapal Ki Roso.

Kurungan pun diangkat. Dan kulihat baju Savitri lenyap dari tubuhnya dan terganti dengan baju awal yang ia pakai; kaos oblong dan celan pendek. Tampak sedikit pusing, ia lalu berdiri, membungkuk, dan memberi salam kepada penonton. Tepuk tangan pun membahana. Tarian Sintren usai.

***

Aku pernah mendengar tentang asal-usul Sintren dari ibunya Savitri. Ia menceritakannya kepada Savitri saat mereka sedang makan siang, beberapa hari sebelum Savitri menjadi penari Sintren.

Dulu, saat Indonesia masih dijajah Belanda, banyak sekali kalangan elite birokrasi Eropa yang gemar berpesta dan berdanasa mewah di gedung-gedung pertunjukkan. Rakyat Jawa, khususnya daerah Pantura iri kepada mereka. Dari ke-iri-an itulah, muncul tari Sintren sebagai bentuk kesenian yang merupakan ekspresi imitasi dari sebuah produk kebudayaan elite.

Katanya, Sintren ini perlambang kebebasan. Ini dapat dilihat dari bentuk pertunjukannya. Adegan saat penari diikat dan dimasukkan ke dalam kurungan merupakan lambang kebebasan yang direnggut. Saat penari terbebas dari tali yang mengikatnya merupakan simbol kebebasan. Diikuti dengan menari sebagai ekspresi dari kebebasan tersebut.

Dari cerita yang kudapat ini, aku lalu menceritakannya kepada istri dan anakku. Mereka sepertinya senang saat aku menceritakannya, dan terkadang mereka mengeluarkan suara “oh” yang panjang, menandakan bahwa mereka benar-benar mendengarkan.

***

Minggu. Lalu bulan. Usai penampilan pertama mereka di Desa Lasem, kelompok Sintren yang ditarikan Savitri pun terkenal. Mereka sering tampil setiap malam purnama tiba, di Desa Lasem, di desa-desa sebelah, bahkan sampai ke kecamatan lain. Dan beberapa bulan yang lalu, mereka sempat diundang oleh bupati untuk tampil di pelataran kantor kabupaten dalam rangka menyambut kedatangan presiden.

Namun keanehan terjadi saat mereka kembali tampil di Desa Lasem. Seperti biasa, tubuh Savitri diikat dengan tali. Ia lalu dibaringkan di tikar, digulung, dan diikat. Oleh pawang, ia kemudian dimasukkan ke dama kurungan ayam.

Di sinilah keanehan muncul. Saat kurungan dibuka, Savitri ternyata masih menggunakan pakaian biasa. Penonton pun heran. Bising muncul dari arah mereka.

“Tenang penonton semuanya. Sepertinya saya salah mengucapkan mantra,” ucap Ki Roso menenangkan.

Ia pun kembali menutup Savitri dengan kurungan. Mantra kembali ia rapalkan. Namun lagi-lagi, saat kurungan dibuka, Savitri masih tetap menggunakan pakaian biasa.

“Ada apa ini?” Tanya seorang penonton keheranan.

“Mungkin roh Dewi Lanjar sedang sibuk,” celetuk salah seorang warga.

“Atau mungkin benar apa kata pawang, ia salah mengucapkan mantra.”

“Atau jangan-jangan Savitri sudah tidak perawan? Ingat kata orang-orang terdahulu, roh Dewi Lanjar tidak akan memasuki penari Sintren yang sudah tidak perawan.”

“Tapi Savitri kan belum menikah.”

“Apa dia telah diperkosa?”

“Diperkosa? Siapa yang memerkosa?”

“Mungkin si Topik, preman yang sering nongkrong di jembatan ujung jalan. Tahun lalu ia masuk penjara karena memerkosa anak SMA.”

“Ah, tidak mungkin. Dia itu masih ditahan, tak mungkin dia balik ke sini.”

“Lalu siapa?” Bising semakin menyelimuti penonton.

“Savitri!! Apa yang sebenarnya terjadi?” Teriak seorang warga tiba-tiba.

Di samping kurungan, dengan tangan yang memeluk kaki dan wajah menunduk tertutup pahanya, Savitri terlihat sesenggukan. Ia menangis, teringat kejadian bulan lalu.

Malam itu, usai tampil di kampung sebelah, ia diantar pulang oleh Ki Roso. Namun di tengah jalan hujan tiba-tiba turun. Mereka lalu berteduh di bangunan bekas pabrik di pinggir jalan. Hening menyelimuti mereka berdua. Entah setan apa yang sedang membisiki telinga Ki Roso, niat jahat pun timbul di pikirannya. Dengan ilmu sirep yang ia miliki, ia lalu menidurkan Savitri. Diseretnya tubuh gadis itu ke dalam pabrik. Dilucutinya semua pakaian Savitri. Namun sepertinya ilmu sirep Ki Roso hanya bertahan beberapa saat saja. Savitri yang tengah tertidur tiba-tiba terbangun. Gadis itu tersentak kaget, memberontak, mencoba melepas genggaman lelaki tua itu.

“Diam atau kau kubunuh!” Teriak Ki Roso menutup mulut Savitri dengan tangan kirinya. Tangan kanannya menggenggam sebilah pisau.

“Tenang, aku tak akan menyakitimu. Aku melakukan ini dengan cinta, bukan dengan nafsu. Aku berjanji akan menikahimu.”

Di bawah ancaman pembunuhan, Savitri pun menangis. Ia pasrah dengan semuanya. Pasrah dipersunting Ki Roso yang lebih pantas menjadi ayahnya.

Di lapangan, penonton masih terheran-heran, menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi dengan Savitri. Kulihat Ki Roso berkeliling mencoba menenangkan penonton yang semakin bising. Di tengah kegaduhan warga, Savitri tiba-tiba berdiri. Sorot matanya menuju ke arah Ki Roso. Tangannya mengepal, matanya memerah penuh marah. Ia kemudian meraih bongkahan batu di dekatnya, lalu berlari ke arah Ki Roso sambil meneriakkan nama lelaki tua itu. Sepenuh tenaga, dihamtamkannya batu itu ke kepala Ki Roso. Tubuh lelaki tua itu terkapar ke tanah. Ia hantamkan lagi batu itu ke kepala Ki Roso. Lagi. Lagi. Hingga darah keluar dari kepala lelaki tua itu. Hingga kepalanya nyaris terlihat peyang, membuat mata lelaki itu hampir keluar.

Penonton panik. Berteriak. Berhamburan penuh ketakutan. Teriakan-teriakan mereka membuatku merayap bersembunyi ke dalam lubang kecil di bawah pohon.

Purwokerto, 11 Mei 2013

Catatan:

Cerpen ini dimuat dalam “Jendela-jendela Aba; Antologi Cerpen RetakanKata 2013”

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s