BackpacKere: Semarang Dalam Nuansa Imlek

Hi, Guys? How are you doing? Tumben-tumbennya saya ngepost Trip Report. Haha, iya, kebetulan lagi jadi pengangguran, jadi banyak waktu buat jalan-jalan. Kemarin, tanggal 17 Februari, saya ada panggilan wawancara kerja di salah satu perusahaan di Semarang. Nah, karena dalam suasana Imlek, akhirnya coba-coba untuk bikin #ImlekTrip usai wawancara 🙂

Perjalanan dimulai pukul 05.25 dari Pemalang (tempat saya tinggal) menggunakan kereta Kaligung Mas jurusan Semarang Poncol. Just 2 hours. Sampai Semarang pukul setengah delapan. Lalu langsung cuss ke Simpang Lima pakai angkot buat sarapan dulu.

Simpang Lima
Simpang Lima

Niatnya mau cari Tahu Gimbal di sekitar Masjid Darussalam buat sarapan, tapi belum ada yang jualan. Yo wes sarapan bubur ayam saja. Usai sarapan, kemudian dilanjutkan jalan kaki ke tempat wawancara. Selesai wawancara jam sepuluhan. Dan.. Karena masih banyak waktu, akhirnya #ImlekTrip pun dimulai.

PECINAN

Tujuan pertama #ImlekTrip yaitu kawasan Pecinan. Dari tempat seleksi (Jalan Gajah Mada), saya jalan kaki ke arah Pecinan, ya sekitar 15 – 20 menitan lah. Memasuki kawasan Pecinan serasa memasuki Negeri Tirai Bambu dalam skala mini. Di kawasan Pecinan ini, tinggal ribuan warga keturunan Tionghoa, lengkap dengan tradisi, budaya, makanan, dan kehidupan sosialnya. Saat saya datang, banyak ornamen di sepanjang jalan dan gang untuk menyambut Imlek.

Gerbang Pecinan
Gerbang masuk kawasan Pecinan

Kebetulan di sini juga sedang diadakan Pasar Imlek Semawis. Pasar ini awalnya merupakan gagasan dari perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata). Pasar Imlek Semawis buka di malam hari sepanjang jalan Gang Pinggir.

Jadwal acara Pasar Imlek Semawis 2015
Jadwal acara Pasar Imlek Semawis 2015

Dan, karena datangnya kepagian, sementara acaranya malam hari, ya sudah jalan-jalan saja mengelilingi pasar sekalian cari Wedhang Blung atau Jamu Jum, sebuah minuman yang konon sangat tua dan jarang ditemukan di Semarang. Seorang teman menyarankan saya untuk mencarinya di Pecinan. Setelah tanya sana-sini tentang keberadaan wedhang blung, ternyata tidak ada seorang pun yang tahu keberadannya. Yang mereka tahu malah Wedhang Tahu, sejenis minuman yang beraoma jahe dan berisi sari tahu.

*menyerah* *kibar-kibar bendera putih* *selonjoran di emperan toko*

KOTA LAMA

Kesal karena tak menemukan Wedhang Blung, akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Kota Lama. Perjalanan menggunakan Bus Rapid Transportation (BRT), semacam busway-nya Semarang. Tarif naiknya jauh dekat Rp. 3.500, pindah rute di halte transit tak dikenai tarif. Dari Pecinan naik di Halte Hotel Novotel turun di Halte Layur. Dari Layur tinggal jalan kaki mengelilingi Kota Lama.

Di Kota Lama, berdiri bangunan-bangunan kuno nan eksotis dan megah peninggalan Belanda. Berdiri pula kanal-kanal air di sekitarnya. Pemandangan semacam inilah yang kemudian menajdikan Kota Lama medapat julukan sebagai Little Netherland.

Salah satu bangunan yang paling populer di kawasan Kota Lama ialah Gereja Blenduk, sebuah gereja yang berusia lebih dari dua setengah abad yang masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini. Dinamakan Gereja Blenduk karena bentuk kubahnya yang Mblenduk atau menggelembung.

Gereja Blenduk dari kejauhan
Gereja Blenduk dari kejauhan
Kubah Gereja Blenduk
Kubah Gereja Blenduk

 

Selain itu, berdiri pula beberapa bangunan kuno lainnya, sebut saja Stasiun Tawang, Pabrik Rokok Praoe Lajar, Gedung Jiwasraya, Gedung Marba, dll.

Stasiun Tawang dan Poldernya
Stasiun Tawang dan Poldernya
Gedung Jiwasraya
Gedung Jiwasraya

 

Pabrik Rokok Praoe Lajar
Pabrik Rokok Praoe Lajar

KLENTENG SAM POO KONG

Usai puas mengelilingi kawasan Kota Lama, perjalanan dilanjutkan menuju Klenteng Sam Poo Kong menggunakan BRT dari Halte Kota Lama ke Halte Rumah Sakit Kariadi.

Klenteng Sam Poo Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He, orang-orang Indonesia menyebutnya Laksamana Cheng Ho. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Gerbang Klenteng Sam Poo Kong
Gerbang Klenteng Sam Poo Kong

 

Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati Laut Jawa, namun saat melintasi Laut Jawa, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit, kemudian ia memerintahkan untuk membuang sauh. Lalu mereka merapat ke pantai utara Semarang untuk berlindung di sebuah Goa dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. (Sumber: Wikipedia)

DSC00586

Komplek Klenteng Sam Poo Kong terdiri atas sejumlah anjungan yaitu Klenteng Besar dan gua Sam Poo Kong, Klenteng Tho Tee Kong, dan empat tempat pemujaan (Kyai Juru Mudi, Kyai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng). Klenteng Besar dan gua merupakan bangunan yang paling penting dan merupakan pusat seluruh kegiatan pemujaan. Gua yang memiliki mata air yang tak pernah kering ini dipercaya sebagai petilasan yang pernah ditinggali Sam Po Tay Djien (Zheng He).

Abaikan foto ibu-ibunya
Abaikan foto ibu-ibunya

Untuk masuk ke komplek klenteng dikenai tarif Rp 3.000,- untuk turis lokal dan Rp. 15.000 untuk turis mancanegara.sedangkan untuk masuk ke bagian Klenteng Besar, kita harus membayar lagi Rp. 20.000,- untuk membeli hio (dupa China). Di sini disediakan pula pakaian-pakaian khas Tiongkok untuk berfoto ria dengan biaya sewa Rp. 80.000,- per orang.

Dan saat baru beberapa menit menginjakan kaki di Klenteng Sam Poo Kong, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Terpaksa harus berteduh dan menunggu reda hampir setengah jam.

It's raining dogs and cats
Hujan, nggak ada kamu 😦

Sempat bertemu pula dengan kawanan bule dari England. Katanya cuma dua hari saja di Indonesia. Dan saat saya tanya mengapa pilih Semarang daripada Bali atau kota lainnya, mereka bilang katanya Semarang banyak tempat sejarah yang kece. Hadududu, tak salah saya ke Semarang .

Kawanan bule dari England
Kawanan bule dari England

Di komplek Klenteng Sam Poo Kong, selain berdiri klenteng utama, berdiri pula patung Laksamana Cheng Ho. Patung yang didatangkan langsung dari China ini merupakan patung Laksamana Cheng Ho terbesar di dunia. Memiliki tinggi 12.7 meter (tinggi patung 10.7 meter ditambah tempat patung 2 meter).

Patung Laksama Cheng Ho
Patung Laksama Cheng Ho
In memoriam of Zheng He / Cheng Ho
In memoriam of Zheng He / Cheng Ho
Narsis dulu…
Narsis dulu…
Yang lagi naksir saya, tenang, kedua gadis tersebut bukanlah pacar saya
Yang lagi naksir saya, tenang, kedua gadis tersebut bukanlah pacar saya

PAGODA AVALOKITESVARA BUDDHAGAYA WATUGONG

Usai dirasa hujan telah reda, perjalanan dilanjutkan menuju Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong. Karena namanya cukup panjang dan sulit dibaca, mari kita persingkat saja menjadi Pagoda Watugong. Hehe.. Dari Klenteng Sam Poo Kong menuju Pagoda kembali menggunakan BRT, naik di Halte RS. Kariadi turun di Halte Mega Rubber. Dari Halte Mega dilanjutkan naik angkot karena jaraknya cukup jauh untuk jalan kaki.

Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong
Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong

Pagoda ini dinyatakan oleh MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 45 meter, di mana di dalamnya terdapat Buddha Rupang besar. Masuk komplek pagoda tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis, yang penting pakaian dan sikapnya sopan.

Pagoda setinggi 45 meter
Pagoda setinggi 45 meter

Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan dengan ukuran 15 x 15 meter. Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih) yang menghadap empat penjuru angin. Hal ini bertujuan agar sang dewi memancarkan kasih sayangnya ke segala arah mata angin.

Bagian dalam pagoda
Bagian dalam pagoda

Pada tingkat ketujuh terdapat patung Amitaba, yakni guru besar para dewa dan manusia. Dibagian puncak pagoda terdapat Stupa untuk menyimpan relik (butir-butir mutiara) yang keluar dari Sang Buddha. Bagian depan pagoda juga terdapat patung Dewi Welas Asih serta Sang Buddha yang duduk dibawah pohon Bodi. (Sumber: visitsemarang.com)

Patung Dewi Kwan Im
Patung Dewi Kwan Im
Patung Siddhartha Gautama di bawah Pohon Boddhi
Patung Siddhartha Gautama di bawah Pohon Boddhi
DSC00652
Patung Ing Yen Kwan Im di dinding Pagoda
DSC00654
Patung Jang So Kwan Im
DSC00656
Patung Hue Duo Po Sat

Bangunan kedua yang menyita perhatian dari kawasan Pagoda Watugong adalah Vihara Dhammasala. Bangunan Dhammasala ini mempunyai dua lantai. Lantai pertama adalah aula serbaguna yang mempunyai panggung di bagian depan, sedangkan di lantai kedua terdapat ruang Dhammasala yang digunakan untuk acara ibadah umat Buddha. Di dalam vihara ini terdapat patung Buddha duduk berwarna emas dengan ukuran besar. Di sekeliling Vihara Dhammasala, terdapat pagar dengan ukiran relief cerita Paticca Samuppada, yaitu proses kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal dunia.

Untuk memasuki vihara, ada ritual khusus yang harus dijalankan, yaitu menginjak relief ayam, ular, dan babi yang ada di pintu masuk vihara. Menurut keyakinan umat Buddha, ayam merupakan simbol keserakahan, ular adalah lambang kebencian, sedangkan babi melambangkan kemalasan. Dengan menginjak relief hewan-hewan ini, maka umat manusia diharapkan dapat meninggalkan karakter-karakter tersebut dan dapat masuk nirwana.

Vihara Buddhagaya ini dibangun menggunakan material-material yang diimpor langsung dari China. Baik genteng, relief-relief batu yang ada di tangga, lampu naga, kolam naga, air mancur naga, patung kilin dan burung hong, serta semua aksesoris yang ada di Vihara Buddhagaya merupakan material yang dibuat di China. Saat ini, Vihara Buddhagaya merupakan salah satu bangunan yang berada di bawah binaan Sangha Theravada, yaitu sebuah organisasi kebhikkuan yang berpedoman pada Kitab Suci Tipitaka Pali.  (Sumber: anekatempatwisata.com)

Vihara Dhammasala
Vihara Dhammasala
Ssstt.. jangan berisik. Sang Buddha lagi bobo cantik
Ssstt.. jangan berisik. Sang Buddha lagi bobo cantik

Kenapa disebut Pagoda Watugong? Karena di sini terdapat sebuah watu (batu) yang bebentuk gong.

Batu berbentuk gong
Batu berbentuk gong

Pagoda Watugong sendiri digunakan untuk ritual Tjiam Shi, yaitu ritual untuk mengetahui nasib umat manusia. Caranya dengan menggoyangkan bambu yang sudah diberi tanda hingga salah satu bambu terjatuh. Untuk membaca hasil ramalan, Anda dapat meminta bantuan kepada petugas yang ada. Namun jika sudah menggoyangkan bambu sebanyak 3 kali berturut-turut dan tidak ada bambu yang terjatuh, konon hari itu bukan hari baik untuk meramalkan nasib.

Waktu ke sini komplek pagodanya sedang sepi, karena waktu saya datang gerimis mengundang, kemudian disusul hujan deras yang cukup lama. Dan, usai puas berkeliling komplek pagoda dan berfoto-foto ria, akhirnya #Imlektrip pun usai. Saya kemudian pergi menuju Stasiun Poncol untuk mengejar kereta terakhir ke Pemalang. Dari Pagoda naik BRT Halte Kodim transit di Halte Elizabeth dan dilanjutkan ke Halte Stasiun Poncol. Sampai stasiun pas banget kereta belum berangkat.

Itulah sedikit Trip Report saya tentang #ImlekTrip. Sampai jumpa di trip berikutnya

Xin Nian kuai Le! Gong Xi Fa Chai 1 Imlek Cia Gwee 2566.

Iklan

3 thoughts on “BackpacKere: Semarang Dalam Nuansa Imlek

  1. mas, mau tanya saya nanti mau liburan ke semarang bersama keluarga, lihat dari artikel ini, kelihatannya tidak sulit untuk transportasi di sana yah? apakah BRT nya ada semua jurusan? Terimakasih

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s