Antologi “Misteri Jodoh”

Kumpulan Lomba Cerpen Nasional
Kumpulan Lomba Cerpen Nasional

Dua bulan lalu, dalam sebuah mimpi, seseorang mengetuk-ketuk pintu kamar saya sangat keras.

“Siapa?”

“Savitri. Cepat buka!”

Lho, tumben-tumbennya Savitri ke kost saya. Saya lalu membuka pintu, dan kaget melihat Savitri berwajah merah penuh marah.

“Ada apa?”

“Aku ingin mengadu sesuatu.” Ia lalu merasuk ke dalam kamar. “Kau ini penulis payah! Kau tak mengerti perasaan para tokohnya!”

“Hah? Maksudnya?” saya bingung melihat tingkat Savitri yang seperti kesurupan dajjal. Oh iya saya lupa, Savitri ini tokoh yang sering muncul dalam beberapa cerpen saya.

“Iya, kau tak pernah mengerti perasaan para tokoh dalam ceritamu, terutama aku. Aku bosan menjadi tokoh yang selalu bernasib buruk. Diperkosa, dibunuh, dijadikan tersangka. Selalu saja ada konflik. Sesekali ubahlah peranku menjadi seorang perempuan yang bernasib baik.”

“Lho, nasibmu memang sudah seperti itu. Kau akan selamanya bernasib buruk. Seperti Sukab dalam cerita-cerita Seno. Sebentar, kau mengeluh selalu ada konflik? Hei, tanpa konflik, cerita akan biasa-biasa saja. Datar. Aku tak mau!”

“Ya setidaknya buatlah ending yang bahagia untukku. Aku bosan, Mam! Bosan! Sungguh!”

“Tetap aku tak mau. Nasibmu sudah ditakdirkan seperti itu. Tak ada tokoh lain yang bisa memerankan nasib seperti itu kecuali kamu. Pokoknya aku tak mau!”

“Oalah, dasar penulis bajingan! Jangan harap aku mau menjadi tokoh dalam ceritamu lagi!”

Lalu tiba-tiba Savitri keluar kamar saya dan membanting pintunya keras-keras. Saya spontan terbangun dari mimpi dan khawatir jika Savitri benar-benar tak ingin menjadi tokoh dalam cerita saya lagi. Sorenya saya mencoba membuka laptop. Pelan saya wujudkan apa yang diinginkan Savitri: menjadikannya seorang tokoh yang bernasib baik. Dua hari kemudian sebuah cerita pendek telah selesai saya tulis, saya beri judul “Perawan Tua dari Tuban”. Cerpen ini secara keseluruhan bercerita tentang proses meminang yang wajib dilakukan terlebih dahulu oleh pihak perempuan Tuban, bukan dari pihak laki-laki seperti yang lazim dilakukan orang-orang. Savitri menjadi tokoh utama. Ia berperan sebagai seorang perempuan tua yang sulit menemukan jodohnya. Konflik muncul saat ia gagal menikah dengan seorang lelaki pilihan ibunya. Di akhir cerita, saya buat nasibnya menjadi lebih baik. Ia bertemu dengan seorang lelaki di dalam sebuah kereta. Beberapa bulan kemudian mereka menikah. Klise memang, namun setidaknya cerita ini bisa membuat Savitri bertahan menjadi tokoh dalam cerita saya.

Cerpen ini lalu saya ikutkan dalam Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pesma An-najah Purwokerto. Kemarin, dalam acara penghargaan, cerpen ini berhasil menjadi nominator. Saya kabarkan kepada Savitri dan ia sangat bahagia. Selamat, Savitri! Selamat!!

Iklan

2 thoughts on “Antologi “Misteri Jodoh”

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s