Tentang Rendra dan Segala Cintanya

Curly Man

 

Kepada mantan, ini ada cerita untukmu. Bacalah pelan-pelan, dengan atau tanpa lagu sendu.

 

Aku mengenalmu lewat sebuah game berkelas yang kumainkan di jejaring sosial Facebook. Waktu itu malam menunjukkan pukul dua belas dan aku belum mengantuk. Malam yang beku, malam yang kaku, tanpa siapa pun di sisiku. Di tengah permainanku yang penuh jemu, kudapati kau menjadi salah satu lawan mainku. Segera kubuka akun facebook-mu, dan kuajak kau untuk berteman denganku. Iseng kubuka koleksi foto-fotomu. Dan oh Tuhan, inikah titisan Yusuf? Atau jangan-jangan kau malaikat yang sedang menjelma sebagai lelaki yang membuat jangtungku berdegup? Sejenak kurasakan bara cintaku mulai meletup.

“Hai,” kusapa kau malu-malu. Tak lama kemudian kau balik menyapaku. Segera kutanyakan apapun tentangmu, seorang lelaki dengan tahi lalat di samping dagu. Rendra namamu. Saat kuberkenalan denganmu, umurmu baru menginjak tiga windu. Kau berasal dari Makassar, kota penuh gemerlap sinar. Kulitmu sawo matang, rambutmu hitam bergelombang. Walaupun di foto profilmu kau terlihat kurus seperti wayang, namun di mataku kau lelaki yang sangat matang.

Dan malam-malam selanjutnya, melalui telepon kita habiskan waktu dengan berbagai percakapan. Percakapan tentang sebuah keinginan untuk melakukan pertemuan, juga keinginan untuk menjalin sebuah ikatan.

“Pandaku,” kau menyebut nama panggilan sayangmu untukku, “maukah kau menjadi kekasihku?” Deg! Aku terdiam sejenak. Mataku terbelalak. Hatiku berdegup penuh decak. Kata-kata yang selama ini ingin kudengar akhirnya kau ucapkan. Tuhan, terima kasih telah menanamkan benih-benih kasmaran.

Dan tak lama kemudian kuucapkan kata “Ya”, menerima cintamu dengan penuh bahagia. Bahagia karena cintaku kini tertaut, pada seorang lelaki yang selalu tampak lucu seperti badut, juga tampak seperti pujangga ketika tengah mengucapkan kata-kata cinta yang maut.

***

Rendra, aku tahu, hubungan jarak jauh memang membuat banyak orang skeptis, juga pesimis. Termasuk aku, yang pesimis tak bisa mempertahankan cinta kita hingga titik darah habis.

“Kau dapat mengisi hubunganmu dengan hal-hal berbau humoris dan romantis, juga perhatian-perhatian dengan berbagai jenis,” ucap salah seorang teman meyakinkanmu penuh optimis, “Namun jangan sampai hiperbolis, apalagi egois,” lanjutnya memberi advis.

“Bagaimana jika dia selingkuh?”

“Selingkuh? Jangan biarkan pikiran seperti itu bertumbuh. Itu hanya akan membuat pikiranmu riuh, membuat hatimu hancur luluh. Buatlah komitmen untuk tidak selingkuh.”

“Kalau aku kesepian dan butuh pelukan?”

“Ajak dia untuk ketemuan!”

Ketemuan? Ah, Rendra, kau termasuk orang yang tak bisa diandalkan. Tak pernah bisa memenuhi sebuah keinginan. Apakah kau masih ingat pada sebuah malam yang penuh dengan godaan kerinduan?

Saat itu usiaku hampir menginjak dua puluh empat tahun. Aku memintamu untuk datang ke Jakarta sebagai kado ulang tahun. Namun kau malah menghancurkan rencana-rencana yang telah lama aku susun.

“Aku tak janji untuk bisa terbang ke Jakarta.”

“Kenapa?”

“Tiket pesawat sedang mahal-mahalnya. Kau tak pernah lihat berita? Sekarang juga sedang ramai-ramainya berita pesawat jatuh yang membuat banyak orang kehilangan sanak saudara.”

Aku hanya melenguh mendengarnya.

Lalu, tepat di hari kelahiranku, kau hanya mengucapkan selamat ulang tahun melalui sms yang membuatku hatiku terasa ngilu. Kau, kenapa kau tak pernah tahu isi hatiku yang ingin sekali bertemu? Aku menangis pilu, hatiku seperti diiris dengan sembilu. Setelah itu, kuputuskan untuk tidak menghubungimu.

Namun aku kalah. Aku menyerah. Tepat di sebuah malam minggu, rinduku benar-benar membuncah.

Lewat sebuah telepon, aku pun berceloteh, “Semalam aku mendapat mimpi aneh. Kudapati hatiku tercongeh. Lalu perlahan-lahan meleleh. Sebelumnya aku juga mendapati mimpi yang sama-sama anehnya. Kudapati kau membelah diri seperti ameba, lalu mendua dengan seorang wanita.”

“Mendua? Kau bercanda. Tak mungkin aku mengingkari janji kita berdua. Aku tak mungkin selingkuh. Aku akan tetap mempertahankan cinta kita yang utuh.”

“Apakah kau akan mencintaiku selamanya?”

“Ya.”

“Walaupun ada beberapa orang yang tak suka?”

“Apapun yang orang katakan, cinta kita akan tetap kupertahankan.”

Lalu kenapa kau tak ingin ke Jakarta untuk memberiku pelukan? Bertemu denganmu ialah hal luar biasa yang bersemayam di ranah impian. Jauh tak terjangkau, ucapku dalam hati menceracau.

***

Rendra, begitulah cinta kita pernah diuji. Lewat segala sesuatu yang nyata, bahkan lewat mimpi. Namun semuanya dapat diatasi, dengan menyatunya kita kembali.

Tapi, Rendra, mimpi yang pernah kualami, sepertinya benar-benar terjadi. Baru beberapa minggu berpacaran, kau menjauhiku perlahan-lahan. Kau tak pernah mengirim sms, membuat hatiku sedikit tergores. Kau juga tak pernah menelpon, membuatku sering menyendiri di atas balkon. Aku takut kau selingkuh. Membuat cinta kita yang utuh berubah menjadi hancur luluh.

Aku menyadari, yang mencintaimu bukan hanya aku seorang diri. Aku pernah memergokimu bertukar percakapan mesra dengan seorang perempuan di twitter, namanya Liana Zubir, ia seorang fotografer, juga merangkap sebagai penyair; juga di laman facebook aku mendapatimu tengah berbagi berfoto mesra dengan Rena, nama lengkapnya Rena Maulida Nur, ia sangat muda, kulitnya kuning kencur. Sedangkan aku? Ah, aku hanya karyawan hotel yang selalu berkelut dengan buku-buku.

Tepat satu hari menjelang hari ulang tahunmu, berbekal alamat yang pernah kau cantumkan di profil facebookmu, akhirnya aku nekat terbang ke kotamu. Aku memang tak menghubungimu, karena ini untuk kejutan di hari ulang tahunmu. Aku tak takut tersasar. Aku punya banyak teman di Makassar. Aku sudah menghubungi temanku, dan ia siap untuk mengantarkan ke mana saja aku mau.

Selama di pesawat aku mendunduk. Kekacauan di pikiranku menumpuk. Apa karena aku sering terlambat membalas sms? Hei, tanganku bukanlah tangan super ekspres! Ada banyak yang harus kulakukan selain memegang ponsel. Menulis novel; bekerja siang malam di hotel; juga mengurus anak pertama kakak yang sangat rewel—yang terkadang membuatku jengkel. Kau, ah, kenapa pikiranmu sangat boncel?

Menjelang senja aku sampai di kotamu. Langit di atas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin terpenuhi banyak kelabu. Birunya hanya muncul malu-malu. Segera kuhubungi temanku, “Sedang di mana? Aku sudah di bandara. Jemputlah aku sekarang juga.”

“Aku belum pulang kerja. Mungkin satu atau dua jam lagi aku ke sana.”

Mendengar jawabannya, kuputuskan untuk keluar bandara. Berkeliling sejenak di kota yang terkenal dengan kuliner dan pantainya. Saat keluar dari bandara, aku menatap wajah kotamu yang hiruk pikuk. Penuh dengan orang-orang sibuk.

Selama satu jam aku menggunakan Bus Damri. Lalu turun di jalan Lompobattang dan singgah sejenak di Rumah Makan Konro Karebosi. Memesan sop konro satu porsi.

Alunan lagu Naif terdengar memenuhi rumah makan, seolah menciptakan sebuah kenangan. Kenangan akan hubungan kita dahulu, saat pertama kali hati kita menyatu.

Denganmu semua air mata

Menjadi tawa suka ria

Akankah kau selalu ada

Menemani dalam suka duka

Denganmu aku bahagia

Denganmu semua ceria

Janganlah kau berpaling dariku

Karena kamu Cuma satu

Untukku*

 

Itu lagu yang pernah kau nyanyikan kepadaku, lewat video call pada malam minggu. Saat itu, seperti menjelma setangkai putri malu, aku menunduk penuh sipu.

Lagu hampir habis. Lalu tiba-tiba saja dari arah pintu masuk muncul sepasang manusia tengah berjalan berangkulan dengan romantis. Aku tersedak melihatnya. Mereka berangkulan sambil tertawa. Aku mengenal salah satu dari mereka. Itu kau, Rendra, lelaki bajingan yang ternyata mendua.

Segera kuhampiri kau dan kulayangkan sebuah tamparan. Tanpa sudi memberi pandang, aku mengumpat sebelum mengakhiri segala ikatan.

***

Rendra, kudengar kau sekarang telah berpindah ke Jakarta. Entah bekerja di mana dan sebagai apa, aku tak ingin memikirkannya, karena kau kini telah resmi menjadi milik seorang wanita.

Lalu hari-hari pun berlalu dengan cepat. Namun bagiku, semuanya berjalan lambat. Dan hari ini, di jam dua belas tepat, aku melihatmu tengah duduk di depanku saat sholat Jumat. Oh My God! Hatiku seperti dilempat oleh sebuah granat. Perlahan air mataku membasahi pipi dengan cepat, mengingat kisah cinta kita yang sangat singkat, yang selalu dipergunjingkan oleh masyarakat.

 

Purwokerto, 30 Mei 2014

*Cuplikan lagu Naif – Karena Kamu Cuma Satu

 

Catatan: Cerpen Ini diikutkan dalam proyek bulanan bersama Kontributor BOM Cerpen

Iklan

One thought on “Tentang Rendra dan Segala Cintanya

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s