Seorang Perempuan dengan Alat Pembaca Masa Depannya

 

 

Woman Drawing

 

Ini cerita tentang kakakku. Kau mungkin akan sedikit tak percaya jika membacanya. Tapi biarlah aku bercerita. Bercerita tentang bagaimana seorang pengangguran seperti dia tiba-tiba bisa menjadi kaya setelah bertemu makhluk asing. Kau bisa menyebut makhluk itu sebagai alien.

Kisah ini bermula ketika kakakku, Edith namanya, baru menamatkan kuliahnya dari jurusan Astronomi Universitas Edinburgh, Skotlandia. Ia berhasil lulus dengan nilai cumlaude dan banyak penghargaan yang pernah ia capai semasa kuliah. Ia pernah terpilih sebagai  mahasiswa berprestasi, pemenang lomba karya ilmiah remaja tingkat nasional, juga pernah mendapat berbagai beasiswa dari pihak universitas maupun yang lainnya, yang membuatnya tak pernah meminta uang dari orangtua untuk membeli buku ataupun sekadar makan.

Ia berumur 23 tahun saat baru lulus kuliah. Wajahnya berbentuk berlian, berdahi sempit, berdagu lancip, dan memiliki tulang pipi yang menonjol. Rambutnya ikal mayang berwarna pirang. Jika kau ahli dalam membaca karakter seseorang lewat bentuk wajahnya, kau akan menemukan makna bahwa seseorang seperti Edith termasuk tipe yang hangat dan diberkahi kemauan kuat serta keberuntungan dalam karir. Sayangnya, kata sebuah buku psikologi, orang dengan tipe seperti ini cenderung egois. Sifat inilah yang membuat Edith akhirnya menjadi pengangguran.

Suatu hari ia diterima di UK Space Agency, lembaga antariksa milik Inggris. Ia bekerja sebagai peneliti dalam bidang kosmologi, penelitian alam semesta secara keseluruhan. Belum satu tahun bekerja, ia sudah membuat masalah. Ia selalu ingin bekerja sendiri dan ingin sekali menjadi pusat perhatian. Di akhir tahun pertamanya bekerja, ia lalu dipecat dan menjadi pengangguran selama dua tahun lebih.

Selama dua tahun itu ia merasa terisolasi, sering terkucil dan mendapat cibiran dari tetangga maupun teman-temannya.

“Mahasiswa berprestasi kok nganggur!” Kata beberapa temannya saat ia tengah menghadiri sebuah acara reuni. Ada kesedihan yang sengaja ia tahan ketika ia mendengar cibiran seperti itu.

Mimpinya untuk menjelajahi luar angkasa pun pupus. Padahal, kau tahu, semenjak kuliah jurusan astronomi, kepada burung-burung yang selalu bertengger di kamarnya sering ia kabarkan, bahwa suatu hari nanti ia akan bisa terbang ke luar angkasa, melebihi jarak terbang terjauh yang pernah dilalui burung-burung itu.

“Coba bayangkan saat kau tengah memakai baju antariksa, memasuki sebuah pesawat penjelajah angkasa, dan menekan beberapa tombol-tombol ajaibnya,” ucapnya suatu hari dengan gerak tangan yang seolah tengah mengelus dan memencet tombol-tombol. Aku hanya menggeleng-geleng kepala saat melihatnya.

Kamar tidurnya pun penuh dengan hal-hal berbau astronomi. Dindingnya, jika kau percaya, penuh dengan hiasan planet dan gugusan bintang. Ia juga memajang beberapa tokoh ahli antariksa, seperti Yuri Alekseevich Gagarin, Neil Amstrong, Galileo Galilei, juga tokoh yang namanya dijadikan sebagai nama sebuah komet: Edmond Halley. Ia sering pula bercerita kepadaku tentang mimpinya untuk bertemu alien dan UFO.

“Apa kau percaya jika alien dan UFO benar-benar ada?” Tanyaku penasaran.

“Mereka pasti ada. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Kita saja yang selalu membatasi pikiran kita bahwa bumi hanyalah satu-satunya tempat kehidupan.” Aku tertawa mendengarnya. Edith sepertinya terjerat dalam cerita-cerita fiksi, dalam khayalan yang sebagian orang–termasuk aku– menganggapnya sebagai perempuan gila. Mana ada alien dan UFO?

Namun mimpinya untuk bertemu alien dan UFO benar-benar dikabulkan oleh Tuhan. Suatu malam, saat aku tengah tidur satu kamar dengan Edith–sebelumnya kami tengah menonton film horor dan aku takut untuk tidur sendiri, aku terbangun karena ingin kencing. Namun mendapati Edith tak ada di ranjangnya. Aku mencoba mencarinya, dan menemukan ia tengah tergolek di ladang dengan sebuah benda berwarna merah saga di sampingnya. Bergegas aku menghampiri dan menyadarkannya. “Apa yang terjadi?” Tanyaku penuh takut.

Kemudian Edith bercerita bahwa ia terbangun dari tidurnya karena melihat cahaya dari luar menembus jendela kamarnya. Ia lalu mencoba keluar rumah. Alangkah terkejutnya ketika yang ia temui adalah sebuah pesawat yang tengah mendarat di ladang samping rumah kami. Bentuknya pipih dengan cincin putih besar yang mengelilingnya. Ada empat kaki untuk menyangganya. Ia yakin benar pesawat tersebut ialah UFO, bukan pesawat umum ataupun pesawat militer. Pelan ia hampiri pesawat yang baru mendarat itu. Namun saat pintu pesawat terbuka dan memancarkan sinar yang begitu menyilaukan matanya, Edith tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri.

“Lalu ini?” Aku menunjuk sebuah benda di sampingnya.

“Aku tak tahu.”

“Mungkinkah ini pemberian alien?”

“Alien? Mungkin saja. Mari kita bawa masuk.” Edith lantas aku papah menuju rumah.

Benda itu berbentuk persegi panjang berwarna merah saga. Ukurannya kira-kira 14 x 8 inci, dengan tebal hanya dua inci. Di sisi sebelah kanan ada sebuah lubang pipih panjang, mungkin untuk memasukkan sesuatu. Ada sebuah tombol merah besar bertuliskan “ON”  di atas permukaan dan beberapa tombol kecil di sebelahnya dengan warna yang berbeda-beda. Di atas tombol-tombol tersebut ada sebuah tulisan “N711”, mungkin nama ilmiah benda tersebut. Di atasnya, dekat dengan sisi depan, terdapat sebuah lubang kecil tertutup kaca.

Karena hati dan pikiran kami dipenuhi rasa penasaran, Edith pun mencoba untuk menekan tombol merah bertuliskan “ON”, seketika muncul sinar dari lubang kecil yang tertutup kaca dan membentuk layar hologram tembus padang berwarna biru. Kami kaget, takut, namun juga takjub. Refleks kami mundur menjauhi benda tersebut. Beberapa saat kemudian, dari layar hologram itu menampilkan sesosok makhluk berkepala lonjong dengan satu antena di atas kepalanya. Keduanya matanya juga lonjong dan memanjang ke samping belakang. Kakinya menyiku ke depan tak bisa lurus. Kami kembali takut, juga takjub.

Makhluk itu lalu bersuara, “Terima kasih telah mengaktifkan N711, sebuah alat yang dapat menampilkan masa depan seseorang. Masukkan sebuah foto siapa saja ke dalam lubang pipih di samping kanan, lalu tekan salah satu tombol di atasnya. Biru untuk karier, hijau untuk keuangan, dan kuning untuk jodoh. Selamat mencoba!”

Edith lalu mencoba dengan fotonya sendiri yang ia pajang di atas meja kamarnya. Ia tekan tombol berwarna kuning, seketika muncul hologram yang tengah menampilkan dirinya dengan seorang lelaki sedang melaksanakan upacara pernikahan. Seorang pengusaha mobil dari kota Glasgow. Ia berdada bidang, beralis tebal, memiliki postur sama pendeknya dengan Edith.

Edith mencubit pipinya, tak percaya dengan keajaiban alat itu. “Ini benar-benar menakjubkan!” Ia lalu memelukku bangga.

“Kau tak ingin mencobanya?” Edith bertanya. Aku menggeleng. “Kenapa?”

“Tak apa. biarlah masa depan menjadi rahasia Tuhan.”

“Baiklah.” Edith lalu menekan tombol merah besar, dan sinar hologram itu pun mengecil, lalu menghilang.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan?” Tanyaku sedikit menguap karena mengantuk. Edith diam, dingin, lalu sepi.

“Aku akan menjadikan ini sebagai ladang bisnis,” ia lalu berdiri dan mengambil benda pemberian dari alien itu, “Ceritakanlah kepada teman-temanmu tentang kehebatan alat ini!” Langkahnya sangat cepat menuju kamar tidur. Sosoknya menghilang ditelan kegelapan.

***

Waktu menderap laju seperti sebuah pesawat yang tengah berpacu. Cerita tentang kehebatan alat pemberian alien itu menyebar ke seantero kota. Oleh Edith, gudang ia sulap sebagi tempat kerja. Mula-mula yang datang ialah teman-temanku. Mereka menanyakan tentang karier mereka setelah lulus sekolah. Ada yang senang karena diterima kuliah di universitas ternama, ada yang bekerja di perusahaan besar, namun ada pula yang sedih karena pengangguran seperti Edith sebelumnya. Mereka lalu menceritakan kehebatan alat tersebut kepada orang tua dan tetangga mereka. Ada yang percaya, ada pula yang tidak. Mereka yang percaya kemudian menyusul ke rumah kami. Duduk tenang menunggu antrean. Setelah mendapat panggilan, mereka lantas menanyakan tentang masa depan mereka. Tentang karier, keuangan, maupun jodoh. Edith tak memberi tarif pasti untuk sekali meramal dengan alatnya, ia hanya mengatakan “seiklhasnya saja” kepada mereka yang datang.

Di tengah-tengah ketika Edith dengan mudahnya mendapat berlembar-lembar uang, ibunya yang taat beragama tak henti-hentinya mengingatkan bahwa apa yang dilakukannya melanggar agama. “Kau tak boleh percaya dengan alat itu!”

“Aku memang tak sepenuhnya percaya. Tapi mereka yang datang selalu bilang bahwa ramalan alat ini benar-benar nyata. Lihatlah Smith yang tiga bulan lalu datang ke sini, kemarin ia kembali datang ke sini setelah mengetahui bahwa apa yang diramalkan benar-benar terjadi. Ia kini telah menemukan jodohnya, tepat seperti apa ditampilkan oleh alat ini.”

“Tapi itu menyalahi kehendak Tuhan. Kufur! Berhentilah!”

Namun Edith tak acuh dengan larangan ibunya. Bahkan ia semakin kebanjiran pelanggan ketika musim kampanye tiba. Banyak calon anggota dewan yang datang untuk mengetahui apakah mereka terpilih dalam pemilu atau tidak. Mereka yang diramalkan terpilih, tak segan-segan memberi uang dalam jumlah banyak kepada Edith, bahkan sampai satu koper lebih. Edith pun kini menjadi miliuner di kota kami, hanya bermodalkan alat pemberian dari alien.

Dan hal yang di luar kehendaknya pun muncul pada suatu malam ketika Edith tengah hendak tidur. Malam itu, ia mencoba untuk mengetahui masa depannya lagi, kali ini tentang kariernya di masa depan. Ia masukkan fotonya sendiri ke dalam sebuah lubang di sisi alat itu. Namun ketika ia menekan tombol berwarna biru, alat itu tak berkerja. Ia tekan tombol itu berulang-ulang, namun tetap saja tak bekerja. Kesal, ia lalu menendang alat itu hingga membentur dinding kamar tidur, dan seketika muncul sebuah sinar biru dari lubang kecil di alat tersebut. Sinar itu membentuk hologram. Bukan, bukan tentang karier Edith di masa depan, sinar itu justru menampilkan tentang kematian dirinya: Dua orang perampok menyatroni rumah Edith. Mereka mengincar alat itu. Edith terkejut. Ia terbangun. Salah seorang perampok lalu memukul Edith dengan stik golf. Tubuh Edith limbung. Sebelum kabur, mereka sempat menggagahi tubuh Edith. Lalu malam terasa semakin gulita. Dan hujan tengah lebat-lebatnya di jendela.

***

Hari ini rumah kami ramai. Bukan, bukan oleh mereka yang ingin mengetahui masa depan mereka masing-masing, namun oleh mereka yang tengah berkabung. Dua hari yang lalu, orang-orang menemukan tubuh Edith terapung di sungai Forth, dengan luka memar di kepala, dan tubuh yang tanpa busana.

Mimpinya mungkin kini sudah terwujud, ia mungkin telah bertemu alien, di alam sana.

 

Purwokerto, April 2014

 

NB: Cerpen ini diikutkan dalam Menulis Bulanan bersama Kontributor BOM Cerpen 

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s