Hari Raya Baritan

perahu

Jika kau sedang khusyuk-khusyuknya menikmati senja, lalu tiba-tiba muncul orang gila yang mengajakmu bicara, maka kau harus membaca kisah ini, kisah ketika saya mengikuti Hari Raya Baritan.

***

Begitu pintu kapal saya buka, gemuruh ombak begitu menghenyak telinga. Angin menampar, dingin menusuk tulang. Saya terkejut menyadari air laut menggenangi pinggiran kapal.

“Jun, sini sebentar. Bantu buang airnya!” Saya teriak memanggil salah satu anak buah saya. Di samping keranjang-keranjang ikan, Jun terperanjat dari tidurnya. Bergegas ia menghampiri saya, sementara dua orang temannya masih terlelap tidur dengan wajah tertutup kaus lusuh.

Ini pertama kalinya saya ikut mengirim ikan bersama mereka. Biasanya, jika ada pengiriman, saya hanya akan duduk manis di kursi kios, menyuruh mereka untuk mondar-mandir ke sana-ke mari.

“Pemalang masih jauh, Jun?” Tanya saya menyebut kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah. Tangan saya merogoh saku, mengambil sebungkus rokok, kemudian menawarkannya kepada Jun.

“Sebentar lagi juga sampai, Pak. Kenapa memangnya?”

“Tidak apa-apa.” Saya menggelengkan kepala. Korek gas saya nyalakan, namun angin laut membuatnya mati. Saya balikkan badan, menutup korek gas dengan telapak tangan dan kembali menyalakannya. Rokok menyala, saya hisap pelan-pelan rokok tersebut. Ada rasa hangat menjalar di dada saya.

“Bapak kenapa tiba-tiba ikut mengirim ikan? Ada seseorang yang ingin ditemuikah?”

“Ah, tidak. Tak ada niat apa-apa. Saya hanya ingin ikut kalian saja.”

Lalu saya dengar Jun kembali bertanya, namun derasnya ombak menyamarkan suaranya. Saya tak menjawab. Jun tak bertanya lagi. Saya alihkan pandangan saya menuju lautan. Seekor burung tengah menukik tajam ke dalam laut, lalu keluar dengan seekor ikan di paruhnya. Pikiran saya menerka-nerka seperti apa kota Pemalang yang akan saya kunjungi. Akankah ia penuh dengan gedung-gedung pencakar langit seperti Jakarta? Atau kota dengan pantai air bening seperti di Pulau Dewata? Saya tak henti-hentinya membayangkan keindahannya.

***

Dua jam kemudian perahu ditambatkan di Tempat Pelelangan Ikan Asemdoyong. Bau amis bangkit ketika angin berhembus. Dibantu beberapa orang–juga anak buah,  saya angkut kerangjang-keranjang ikan ke tepian yang langsung didatangi para pengepul.

“Dullah! Dullah!” Seseorang memanggil nama saya, saya celingak-celinguk mencari sumber suara, “Sini!” Seseorang yang bernama Jamal, yang ternyata pemesan langganan ikan saya menepukkan tangannya. Saya lantas mendekatinya, kemudian bercakap-cakap sebentar. Percakapan kami tak jauh-jauh dari ikan.

“Sepertinya tak cukup jika hanya bertemu beberapa saat saja. Jika mau, menginaplah sehari dua hari di rumahku. Kita lanjutkan pembicaraannya nanti malam.”

“Istrimu tak marah?”

“Ah, untuk apa istriku marah? Tenang, ia tak pernah marah jika ada orang yang menginap di rumahku.”

“Baiklah, kuselesaikan dulu mengurus kiriman ini.”

Setelah saya lepas kepulangan Jun dan kedua temannya, Jamal membawa saya menuju rumahnya. Kaki saya sedikit berjingkat menghindari kubangan air dan beberapa sampah yang terbawa oleh ombak. Terlihat beberapa warga tengah menjemur jala, juga ada yang tengah duduk-duduk di depan warung jualan mereka. Dengan sedikit anggukan kepala dan senyuman, saya sapa mereka satu per satu.

Walaupun air lautnya tak sebening di Dewata dan tak ada gedung-gedung pencakar langit seperti di Jakarta, namun ada yang khas dari kota ini, yaitu suasana desa pesisir yang begitu terasa. Pantai, rumah-rumah warga, dan gubug-gubug yang menjajakan makanan terletak saling berdekatan. Sangat beda dengan pesisir-pesisir yang pernah saya kunjungi sebelumnya.

Agak repot Jamal dan istrinya menyambut kedatangan saya. Mereka pepetkan kursi tamunya ke sisi dinding, kemudian menggelar karpet anyaman di tempat kosong samping kursi.

“Duduklah, kubuatkan teh sebentar untukmu.” Jamal lalu masuk ke dapur, istrinya ke luar entah ke mana. Begitu Jamal membuka tirai yang membatasi ruang tamu dengan ruang tengah, terlihat seseorang tengah tidur pulas di atas dipan. Mulutnya sedikit terbuka, dengkurannya terdengar sampai ruang tamu.

Sesaat kemudian terdengar suara percik bara kayu dari arah dapur. Bara? Di tahun serba modern ini Jamal masih menggunakan bara? Iseng saya tanya padanya, “Kau masih menggunakan tungku, Mal?”

“Iya, aku tak berani menggunakan tabung gas. Ngeri lihat berita akhir-akhir ini. Itu lho, banyak yang rumahnya hancur, bahkan yang punya rumah tubuhnya ikut hancur gara-gara tabung gasnya meledak. Aku wedhi, Dul.”

“Hahaha.. kamu ini penakut sekali,” saya tertawa kencang. Namun tawa saya ternyata mengusik tidur nyenyak orang yang ada di dalam ruang tengah. Saya dengar suara derit ranjang, sepertinya ia berpindah posisi tidur. Atau bangun? Entahlah.

Agak gerah di dalam, saya mencoba ke teras rumah untuk mencari angin. Ada istri Jamal tengah mengangkat jemuran. Gerakannya begitu pelan. Mungkin karena menahan perutnya yang tengah membuncit. Saya jatuhkan pantat saya di sebuah kursi kayu, menikmati semilir angin yang begitu lain dari yang biasa saya rasakan di kampung saya.

“Hamil ya? Berapa bulan?” Saya mencoba membuka percakapan.

“Enam bulan, Mas.”

“Enam bulan sebesar itu?” Saya sedikit kaget, “Anak pertama ya?”

“Untuk saya anak pertama, Mas. Tapi untuk Mas Jamal anak kedua.”

“Maaf, maksudnya?”

“Ini kehamilan pertama untuk saya. Tapi Mas Jamal sudah mempunyai dua anak dari istri pertamanya. Jadi ini anak kedua untuknya.”

“Oh…” Saya tak meneruskan percakapan.

Dari dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara Jamal memanggil, “Dullah, ini tehnya. Aku taruh di bawah ya! Aku tinggal sebentar, mau mandi. Kalau kau ingin mandi dulu juga tidak apa-apa.”

“Taruh saja di situ. Aku mandinya nanti saja.” Jawab saya  sedikit kencang melawan desiran ombak.

Sambil membawa keranjang berisi jemuran, istri Jamal kemudian duduk di samping saya, melepaskan satu persatu hangernya. Dengan nada pelan, saya tanyakan siapa lelaki yang sedari tadi tidur di ruang tengah.

“Oh, itu Abu, adiknya Mas Jamal. Dia sedang sakit.”

“Sakit? Sakit apa?” Kemudian, dengan tangan yang masih melepas satu persatu hanger, istri Jamal pun menceritakan panjang lebar perihal penyakit yang diderita Abu.

Sore itu hujan tiba-tiba turun, merusak senja yang hampir lengkap kala itu. Kami lalu pindah ke ruang tamu, duduk meringkuk menahan angin yang sesekali mengirim dingin ke tengkuk leher.

Kemudian saya rasakan pundak saya ditepuk oleh seseorang. Saya menoleh ke belakang, melihat Abu tersenyum lebar.

“Eh, Mas. Sudah bangun?” Saya menyalaminya, memperkenalkan diri, dan mempersilakan ia duduk di samping saya. Tubuh lelaki itu tinggi dan sedikit berotot, rambutnya cokelat lusuh, bibirnya sedikit kehitaman, mungkin ia seorang perokok aktif.

Setelah sedikit basa-basi, tiba-tiba dari mulutnya muncul sebuah ajakan, “Menginap lamakah di sini? Jika iya, kan kuajak kau untuk mengikuti upacara Baritan.”

“Baritan?”

“Itu semacam acara larung sesaji, Mas,” sela istri Jamal, “Ikut saja, mumpung masih di sini.”

“Besok kau harus bangun pagi. Bantu aku menghias perahu dan menyembelih kerbau. Oke?” Abu mengacungkan jempolnya.

***

Pagi yang dijanjikan pun tiba. Abu menyuruh saya mengambil kerbau yang ada di kandang tak jauh dari rumahnya. Sementara ia sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk menghias perahu: cat kayu, kuas, bendera merah putih, kain warna-warni, janur kuning, …

Tak sulit untuk menemukan kerbau yang Abu maksud. Apa yang digambarkan olehnya tak meleset satu detail pun oleh saya. Setelah tak sengaja menginjak kotoran kerbau, saya lantas menuntun kerbau tersebut ke belakang rumah untuk disembelih. Agak repot juga menuntut kerbau yang beratnya hampir setengah ton. Kata Abu, yang ia butuhkan hanyalah kepala kerbaunya, karena kepala tersebutlah yang akan dilarungkan ke tengah laut bersama bermacam-macam sesaji. Bagian tubuh lainnya akan dimasak untuk acara tahlilan malam nanti.

Disaksikan beberapa warga, dengan sekuat tenaga saya dan Abu mencoba merobohkan tubuh kerbau besar itu. Kaki depan dan belakangnya kami ikat agar tidak menendang-nendang. Setelah kami rasa kerbaunya agak tenang, Abu lantas menggorok leher kerbau tersebut pelan-pelan. Kerbau itu melenguh. Darah perlahan menetes dari lehernya, membuat sebuah kubangan merah pekat. Segera kami pisahkan kepalanya untuk dilarungkan esok pagi. Tubuhnya kami serahkan ke Jamal untuk dikuliti dan dimasak. Jamal yang saat itu tengah memberi makan itik-itiknya, terheran-heran dan sedikit bengong. Seperti ia agak kaget dengan apa yang Abu berikan.

Kemudian kami berpindah ke depan rumah. Ada satu perahu yang harus kami hias. “Kau mengecat saja, biar aku yang membuat hiasan,” perintah Abu memberikan kuas dan beberapa kaleng cat. Awan berwarna santan memayungi kami berdua.

“Kau sekarang bekerja apa, Bu?” Tanya saya di sela-sela mengecat perahu.

“Aku menganggur akhir-akhir ini, Mas. Ikan-ikan di laut sedang berkurang. Ingin berjualan tapi bingung apa yang harus dijual,” ucap Abu, nadanya sangat lirih, sepertinya ia sangat berat untuk menjawabnya, “Aku tahu, Mas, urip iku kudu urup. Tapi ya mau bagaimana lagi, ndak ada yang bisa aku lakukan. Paling cuma bisa bantu-bantu Mas Jamal angkut-angkut keranjang ikan,” lanjutnya dengan tangan yang tengah sibuk memasang umbul-umbul.

Saya tak mengerti, desa yang terlihat makmur seperti ini ternyata banyak warganya yang hidup di garis kemiskinan. Saya dengar dari Jamal, banyak dari mereka yang terpaksa pindah ke kota untuk mencari penghasilan di sana. “Sing penting urip, Bu,” ucap saya menirukan apa yang dikatakan Jamal.

Lalu kami terdiam. Sibuk dengan apa yang kami kerjakan. Deburan ombak dan pekik bangau semakin menambah kesunyian di sekeliling kami.

***

Esoknya, hari yang dinanti-nantikan telah tiba. Pagi yang cerah membuat bumi Asemdoyong tampak tenang. Langit tampak kebiruan pagi itu. Cahaya matahari terasa lebih hangat dari sebuah pelukan yang paling menentramkan. Pada sisi jalan, beberapa orang tengah menunggu perahu berisi sesaji yang akan diarak keliling desa sebelum akhirnya dilarungkan ke tengah laut. Ya, sebentar lagi upacara Baritan akan dilaksanakan, upacara yang sebagian orang dianggap sebagai bentuk rasa syukur dan juga tolak bala. Seperti sebuah Hari Raya bagi mereka.

Saya lihat Abu tengah memakai pakain serba hitam, termasuk ikat kepalanya. “Hari ini aku yang menjadi pawangnya. Kau ikuti saja apa yang kulakukan nanti,” ucap Abu sambil mengoleskan wewangian berbau melati.

Tepat ketika kami keluar rumah, orang-orang bersorak-sorai sambil tepuk tangan. Abu menundukkan kepala, tanda rasa terima kasih kepada mereka. Lalu kami menuju perahu kecil yang telah kami hias, yang semalam telah kami isi dengan kepala kerbau, juga bermacam-macam sesaji: kelapa tua, telur ayam, bungan tujuh rupa, nasi putih, daging ayam, dan jenang 5 warna.

“Ini upacara adat setahun sekali. Jaga tingkah lakumu baik-baik, jangan sampai mengganggu prosesinya,” Abu membisikkannya di telinga saya. Saya segera mengangguk.

Bersama Abu, perahu kecil berisi sesaji tersebut kami arak keliling desa. Senyum mengembang di bibir Abu. Tak henti-hentinya ia menembangkan syair-syair jawa, juga puji-pujian kepada Tuhan.

Sesampainya di bibir pantai, setelah dirapalkan doa-doa oleh Abu, perahu kecil berisi sesaji tersebut lantas kami naikkan ke atas perahu yang berukuran agak besar untuk dilarungkan ke tengah laut, Abu menyebutnya perahu sopek.

“Bantu aku mengangkatnya! Bismillah..” Sekuat tenaga kami naikkan perahu kecil tersebut ke atas sopek. Deru mesin perahu terdengar sesaat setelah sesaji kami naikkan. Perahu pun melaju ke tengah lautan.

Tepat menjelang tengah hari, upacara Baritan ditutup dengan diturunkannya perahu sesaji dari atas sopek, dibiarkan mengalir hingga ke tengah laut, membawa rasa syukur atas hasil laut yang telah diterima, juga membawa tolak bala agar dimudahkan melaut di hari-hari berikutnya. Kebahagiaan siang itu memaksa air mata menetes dari ujung mata Abu. Ia tak henti-hentinya memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan. “Alhamdulillah.. Alhamdulillah..” kedua tangannya dilekatkan pada dada, membentuk sembah, menunduk, “Terima kasih, Tuhan.”

Usai perahu dilarungkan, kami lalu kembali ke tepi pantai. Di perjalanan menuju rumah, tak henti-hentinya mata saya menatap kolam yang baru saja kami gunakan untuk “Upacara Baritan”. Sesungguhnya, kepala kerbau yang kami larungkan ialah batang pisang, rakit kami anggap sebagai sopek, tampah sebagai perahu kecil, pohon-pohon sebagai orang-orang, dan kolam sebagai lautan. Sudah dua tahun Abu kehilangan istrinya, Nur, yang membuat pikirannya tidak normal dan sering mengajak siapa saja yang ditemuinya untuk ikut merayakan upacara Baritan bersamanya. Lalu pikiran saya kembali teringat oleh cerita istri Jamal sore itu.

Dua tahun yang lalu, ketika perkawinan Abu dan Nur baru berjalan 10 bulan, Abu mengajak istrinya yang tengah hamil muda itu untuk ikut melarungkan sesaji. “Di daerahmu tidak ada upacara seperti ini, ‘kan? Ikutlah sesekali,” ajak Abu penuh semangat.

Mereka berdua kemudian naik ke atas perahu sopek yang berisi hampir 50 orang. Awalnya perahu tersebut melaju stabil menuju tengah laut. Namun baru sekitar 300 meter keluar muara, tiba-tiba mesin perahu mati. Penumpang panik, membuat perahu oleng dan miring, lalu datang ombak besar yang langsung menghantam perahu hingga terbalik. Hampir semua penumpang tenggelam, termasuk Abu dan Nur. Mereka terpisah ketika perahu terbalik.

“Nur!! Nur!!” Teriak Abu berenang ke sana-ke mari memanggil-manggil nama istrinya.

Namun semuanya terlambat, terlambat bagi Abu untuk menolong istrinya. Tubuh Nur hampir menyentuh dasar laut ketika Abu menemukannya, dan nyawanya tak tertolong ketika Abu mengangkatnya ke permukaan.

Semenjak kehilangan istrinya, Abu sering menyendiri. Jauh dari dunia. Jauh dari keramaian. Jauh dari semuanya. Bahkan, setiap malam selalu terdengar tembang pilu mirip lolong dari bibirnya.

Saya ajak Abu untuk duduk di kursi depan rumah. Awalnya ia hanya duduk diam memandang lautan, namun tak lama kemudian saya lihat pundaknya berguncang-guncang. Lalu terdengar isak tangisnya. Di antara isak tangisnya, lamat-lamat terdengar ia menyebut-nyebut nama istrinya. Dalam dada saya ada suara menggemuruh. Saya yakin, di antara tangisannya ada rasa kehilangan yang begitu dalam di hatinya. Ingin saya menenangkannya, tapi tiba-tiba Jamal datang membawa nampan berisi teh hangat. Abu mengusap air matanya.

“Bagimana acara Baritannya? Seru? Hahaha!!” Jamal tertawa melihat saya kelelahan. “Ini teh hangatnya, minumlah!”

Baru saja hendak menyeruput teh, tiba-tiba Abu menepuk pundakku, lalu terdengar suara ajakan dari mulutnya, “Menginap lamakah di sini? Jika iya, kan kuajak kau untuk mengikuti upacara Baritan besok pagi.”

“Mati!” Gerutuku dalam hati.

Pemalang, November 2013

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s