Tentang Bulan Yang Pernah Dicuri Seseorang

Untuk Anisah,

“Bu, kenapa bulannya tidak terang?”

“Karena dulu bulannya pernah dicuri orang.”

“Dicuri orang? Maksudnya?”

“Iya, dicuri orang. Jadi, dulu itu..” dan ibu mulai bercerita tentang bulan yang pernah dicuri orang.

***

Akan selalu ada gadis-gadis cantik di pasar. Entah itu penjual kue, buah, ataupun sayuran. Dan yang membuat mata Jun tertarik untuk melirik, ialah Nur, gadis penjual buah di sudut pasar. Tubuhnya sintal semampai. Rambutnya hitam bergelombang. Ada tahi lalat di bagian kiri dagunya. Jun sendiri kuli angkut di kios buah milik Haji Munir, yang kebetulan kiosnya tak jauh dari tempat Nur berjualan. Pertemuannya dengan Nur ialah saat Nur tengah memesan apel di Haji Munir dan lelaki yang baru naik haji tahun lalu itu menyuruh Jun untuk mengantarnya. Jun berdiri dari tempat duduknya. Ia angkat sebuah peti apel, lalu membawanya ke tempat dagangan Nur. Jun yang baru saja menurunkan peti apel dari pundaknya mendadak sumringah saat melihat wajah Nur. Putih, bersih, berseri, seperti namanya.

“Ini lapak Mbak Nur, ‘kan?” Tanya Jun dengan nada sedikit gagap karena tertegun melihat wajah gadis tersebut. Nur mengangguk.

“Ini pesanannya, Mbak.”

“Oh iya, taruh saja di sini.” Nur menunjuk kolong meja dagangannya.

Jun melongo. Tak bergerak. Matanya menatap wajah Nur.

“Mas..” Nur melambaikan tangannya di hadapan wajah Jun. Jun tersadar. Dengan segera ia taruh peti apel ke kolong meja dagangan. Setelah menerima ongkos angkut dari Nur, Jun lantas pergi. Namun pikirannya masih tertuju pada wajah Nur. Ia menyusuri setapak pasar dengan penuh senyuman, tak sadar jika selembar uang lima ribunya jatuh.

Esoknya, Jun datang lebih pagi dari biasanya, niatnya hanya satu: untuk melihat Nur membuka dagangannya. Pagi itu adzan shubuh belum berkumandang, Jun dikagetkan oleh sepasang remaja yang sedang asyik bercinta di depan kios Haji Munir. Mereka          bergegas bangun dan cepat-cepat lari saat Jun menghampiri.

“Kalian ini, kalau ndak punya uang buat sewa kamar, mbok ya jangan bercinta di pasar! Nikah saja sana biar bebas!” Seru Jun sembari melemparkan sapu.

Sambil menunggu Nur datang, Jun membersihkan bagian depan kios Haji Munir. Ia ambil sebuah gerobak untuk membuang sampah-sampahnya. Entahlah, tak seperti biasanya ia serajin ini.

Nur datang. Ia tersenyum ke arah Jun saat melewati lelaki itu. Jun membalas. Ia lalu mengikuti Nur dari belakang. “Mau aku bantu buka dagangan?” ucap Jun menyenderkan tangannya di meja dagangan Nur. Telapak tangannya ia taruh di dagu.

“Boleh, Mas,” jawab Nur malu-malu. Ia tundukkan wajahnya dari kerlingan Jun.  Mendadak degup jantung Jun terasa tak normal. Ada dag-dig-dug yang tak biasa. Lantas Jun mengambil beberapa buah apel lalu menatakannya di atas meja. Pasar masih sepi, belum ada pembeli sama sekali. Hening datang di sekitar mereka.

“Nur..” Jun membuka percakapan, “Nur punya pacar?” Jun sedikit ragu menanyakan hal itu. Ada kekhawatiran di hatinya jika Nur menganggukkan kepalanya.

Tetapi apa yang dikhawatirkan Jun tak jadi datang. Nur menggelengkan kepalanya. “Tidak, Mas.” Jawab gadis itu lirih. Senyum mengembang di bibir Jun.

Hari berganti hari seperti lalu-lalang pengunjung pasar yang silih berganti. Pertemuan Jun dengan Nur kini semakin sering. Mulai dari mengantar pesanan apel hingga mengantar Nur pulang. Jun juga tak sungkan-sungkan ketika Nur memintanya untuk membantu membersihkan sampah di sekitar tempat dagangan Nur.

“Nur, waktu Nur masih kecil.. Nur, Nur mendengar aku, kan?”

“Iya, Mas,” jawab Nur yang tengah sibuk menyapu sampah. Nur mendongakkan wajahnya ke langit, sebentar lagi terompah waktu akan menginjak maghrib.

“Nur, waktu Nur masih kecil, pernah tidak Nur mempunyai kebiasaan di sore atau malam hari?”

“Pernah, Mas. Nur kebetulan suka bulan. Setiap malam, entah itu hanya beberapa menit, Nur selalu menyempatkan diri untuk naik ke atas genteng, melihat bulan yang temaram.”

“Nanti malam Nur tidak sibuk, kan?”

Nur menggelengkan kepalanya. Tangannya masih sibuk memegang gagang sapu.

“Kalau begitu, akan kuajak Nur ke sebuah tempat di mana bisa melihat bulan dari dekat.”

Nur menghentikan sapuannya. “Di mana?”

“Ikut saja.”

Malamnya, setelah memakai celana jeans biru dan kaos kerah bulat berwarna putih, Jun datang menghampiri Nur. Wangi parfum menyeruak di sekelilingnya. Sebelum sampai di rumah Nur, Jun membuang rokoknya, mengusek-useknya hingga baranya mati. Ia tak ingin merokok di samping Nur. Nur pernah bilang bahwa ia benci dengan asap rokok.

Jun tiba di rumah Nur. Terlihat Nur tengah duduk di kursi depan rumahnya. Nur lalu berdiri menghampiri Jun. Semilir angin menggeraikan rambut gadis itu ke belakang.

”Ke mana kita pergi, Mas?”

”Ya seperti janjiku, kita akan ke bukit Gajah, melihat bulan.”

Mereka lalu berjalan ke bukit Gajah yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Bukit kecil di pinggir kampung yang bentuknya memang seperti Gajah. Jalanan semakin sepi, hanya ada rumah-rumah yang berdempetan, juga kebun kubis dan bunyi jangkrik.

Setelah sekitar hampir satu jam jalan kaki, mereka sampai juga di bukit Gajah.

“Edan, bulannya benar-benar dekat!” Nur berteriak kegirangan, matanya menatap bulan seolah tak berkedip. Mereka lalu duduk. Nur memeluk kakinya dengan mata yang masih menatap ke bulan. Jun sendiri menatap hamparan rumah-rumah. Tangannya tak henti-hentinya melempar kerikil ke bawah bukit.

Tiba-tiba Jun mendekatkan tubuhnya ke Nur. Ia berdehem.

“Nur, aku mau bilang sesuatu.”

“Apa, Mas.”

“Aku sayang Nur. Aku cinta Nur. Maukah Nur menjadi pacarku?”

“Pacar?”

“Ya, akan kuberikan segalanya untuk Nur,” kata Jun, ”kuberikan cintaku, jiwaku, hidupku, apa saja yang Nur mau.”

“Oh ya?”

Jun mengangguk.

“Kalau begitu, belikan Nur tiket nonton Dewa 19 ya..”

“Nonton Dewa? Di mana? Mana mungkin Dewa datang ke kota kita. Dewa cuma mau datang ke Semarang, mungkin juga Solo, tapi tidak ke kota kita. Kamu ini ada-ada saja.”

“Kita nonton di Jakarta, Mas. Belikan ya..”

“Jakarta? Tidak.. Tidak.. Ke sana naik apa? Ongkos kereta mahal, Nur.”

“Ya sudah. Kalau begitu, bawakan Nur itu saja,” ucap Nur menunjuk ke arah bulan purnama.

“Nur serius?” Jun sedikit tak percaya.

“Iya. Kalau Mas bisa, cinta Mas akan Nur terima, bahkan jika Mas melamar Nur.”

Jun  terdiam. Ia sadar, pendidikannya yang cuma sepenggal di sekolah menengah pertama, tak bisa mamahami benar keinginan Nur. Bagaimana caranya mengambil bulan? Jadi astronot? Tidak mungkin! Ijazah SMP saja tak punya.

“Pasti ada caranya. Harus!” gumam Jun dalam hati. Di dunia ini ketidakmungkinan memang hampir punah, namun segala sesuatu bisa dilakukan walaupun jauh dari kenyataan.

“Baiklah, akan aku usahakan.”

Nur lalu tersenyum. Tanpa sadar kepalanya ia sandarkan ke bahu Jun.

Akan tetapi, pertanyaan itu masih terbayang di benak Jun sampai berhari-hari. Bagaimana caranya mengambil bulan?

Hingga akhrinya, pada suatu malam, dalam tidur Jun bermimpi bertemu seorang lelaki tua berjenggot putih panjang.

“Eyang ini siapa?” Tanya Jun dengan bibir bergemetar.

“Namaku Mbah Tapak Angin, penunggu Gunung Slamet.”

“Ini tempat apa, Mbah? Kenapa saya bisa bertemu panjenengan?” Jun heran. Matanya celingukan ke sana ke mari.

“Ini batas tidur, tempat antara mimpi dan kenyataan. Jun, jika kau benar-benar mencintai Nur dan ingin membahagiakannya, datanglah ke Gunung Slamet. Akan kuajarkan kau bagaimana cara mengambil bulan. Jangan pernah datang di hari Minggu Legi, Selasa Wage, juga Sabtu Pahing. Dan satu lagi, jangan membawa seorang pun ke sini!”

Lalu tiba-tiba Jun terbangun. Mimpinya terhenti oleh suara erangan kucing di dekat jendela. Jun lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.

“Apa benar mimpi ini kenyataan? Jika benar, akan kubuktikan besok pagi!” Gumam Jun dalam hati. Jun lalu kembali ke kasur, meneruskan tidurnya.

Esoknya, tanpa pamit kepada siapapun, usai sholat shubuh Jun menguakkan pintu rumahnya. Berbekal tas karung berisi pakaian dan sarung, Jun melangkahkan kakinya menuju jalan raya, mencari bus yang akan membawanya ke Gunung Slamet. Langkah kakinya mengendap-endap meninggalkan desa.

Tepat ketika lampu jalanan dimatikan, jun tiba di tepi jalan raya. Kilau lampu bus membuat jantungnya berdentam. Jun mengacungkan tangannya. Bus mendekat, berhenti beberapa depa dari tempatnya berdiri. Jun tahu, ia pernah dengar bahwa di Gunung Slamet sana memang ada penunggu yang bernama Mbah Tapak Angin. Dan tak jarang, banyak juga yang jauh-jauh ke sana hanya untuk bersemedi, meminta ini itu. Makanya, ia niatkan di malam Jum’at Kliwon itu untuk ke sana.

Tiba di terminal Pemalang, Jun mencari warung makan. Ia sempatkan beli nasi uduk untuk mengisi perutnya yang kosong. Usai membayar makan dan membeli beberapa batang rokok, Jun melanjutkan perjalanannya menggunakan bus Teguh menuju daerah Purbalingga. Di dalam bus, ia sempat bertanya kepada penumpang di sebelahnya di mana ia harus turun untuk sampai di Gunung Slamet.

Bus sampai di daerah Randudongkal. Sopir membelokkan busnya, meluncur mulus ke arah perbatasan antara Pemalang dan Purbalingga, bebas dari sesak kendaraan yang padat merayap karena ada perbaikan jalan. Jun menghirup nafas dalam-dalam.

Sesampainya di daerah Goa Lawa, Jun turun. Ia lanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Slamet dengan jalan kaki. Siang itu, matahari menggigit melumat kulit. Jun mengusap peluhnya. Ada rasa kering di tenggorokannya.

Matahari kian tergelincir ke arah barat. Siang, lalu senja. Jun hampir sampai di puncak Gunung Slamet. Sesekali ia betulkan penutup kepalanya. Angin yang meluncur deras dari pundak bukit yang koyak kadang menggigilkan tulangnya. Tapi tekad Jun yang mencintai Nur mengembuskan kehangatan di tubuhnya. Jun menghela napas, meluruskan lengkung punggung sambil mendongak ke atas. Perlahan ia perhatikan langit membentuk payung raksasa berwarna hitam. Petir menggelegar, kilat memecah. Sebentar lagi hujan akan tumpah. Ia menoleh ke belakang, menyaksikan semburat cahaya dari rumah-rumah penduduk di kaki bukit, semacam kunang-kunang di hamparan sawah milik bapaknya.

Akhirnya, Jun tiba juga di Gunung Slamet sebelum hujan turun. Ia rebahkan tubuhnya di goa dekat air terjun. Saat matanya hendak terpejam, tiba-tiba seberkas cahaya menyilaukan muncul dari dalam goa. “Siapa itu?!” Teriak Jun menutup matanya dengan lengan tangan.

“Ini aku, Mbah Tapak Angin.” Seorang lelaki tua muncul mendekati Jun.

“Mbah?” Jun berdiri menghampirinya. Ia cium tangan lelaki tua itu dengan hormat. Kemudian mereka bercakap-cakap sebentar sambil menunggu hujan reda.

Satu jam kemudian, deras hujan berubah menjadi rintik-rintik. Mbah Tapak Angin menyuruh Jun bangkit untuk memulai ritual. Sebelum mulai memasuki alam lain, Jun diharuskan terlebih dahulu duduk telanjang dada di sebuah batu besar. “Lipatlah kedua tanganmu di dada, lalu pejamkan matamu!” Perintah lelaki tua itu. Dingin menyergap menyelimuti kulit Jun.

“Sudah siap?” Tanya Mbah Tapak Angin. Jun menganggukkan kepalanya. lalu, dengan mengecipakkan air tiga kali, Mbah Tapak Angin memberi aba-aba supaya Jun mengosongkan pikirannya, memusatkan semuanya pada hening dan sepi.

Dengan mudah, roh Jun keluar dari raganya, lalu memasuki batas antara gelap dan terang. Ia melayang, seperti daun yang jatuh dari pohonnya. “Jun, pikirkan apa yang ingin kau dapatkan, lalu ambillah jika ia sudah ada di hadapanmu.” Terdengar suara Mbah Tapak Angin entah dari mana.

Dalam ruang antara gelap dan terang tersebut, pikirannya terpusat pada bulan bulat utuh sekecil jeruk mandarin. Dan, dalam sekejap, bulan kecil sudah ada di hadapannya. Pelan-pelan ia ambil bulan itu. “Benarkah ini bulan? Aku mendapatkan bulannya!! Nur, aku mendapatkan bulannya!!” Teriaknya senang dengan membentangkan kedua tangannya. Sebentar ia putar-putarkan tubuhnya di ruang antara gelap dan terang tersebut.

“Jun, apakah kau sudah mendapatkan bulannya? Sekarang, aku akan kembalikan kau ke ragamu!”

Mbah Tapak Angin mendekati Jun. Ia usap kening lelaki bertubuh kekar cokelat itu. “Sekarang, bukalah matamu. Lihatlah apa yang ada dalam genggamanmu.”

Jun lalu membuka matanya. “Ini nyata!” Ucap Jun sambil mengucek-ucek matanya. “Nur pasti akan senang melihatnya.” Ia lalu membungkus bulan tersebut dengan ikat kepalanya. Namun, ketika Jun menenggadahkan kepalanya, langit terlihat sangat gelap, tak ada bulan di sana.

“Kenapa tiba-tiba gelap? Bukankah ini purnama?”

“Karena yang kau ambil itu benar-benar bulan.”

Jun terheran-heran. Di bawah sana, terlihat orang-orang berbondong-bondong keluar rumah, melihat langit yang terlihat seperti karpet hitam.

“Ini pasti ulah serigala. Ia telah memakan bulannya!”

“Tidak, tidak! Mungkin bulannya tertutup awan!”

“Atau jangan-jangan, sebentar lagi kiamat?”

Dan jauh di tepian pantai sana, air pasang tiba-tiba surut. Di televisi sendiri, semua stasiun berlomba-lomba menyiarkan berita tentang bulan yang tiba-tiba menghilang.

“Apa yang harus saya lakukan, Mbah?” Jun terlihat panik.

“Jika kau mau, tukarlah bulan itu dengan yang palsu.”

“Yang palsu? Bagaimana caranya?”

“Sekarang, kembalilah ke posisi semula. Akan kukirim kau ke tempat di mana kau bisa mendapatkan bulan yang palsu.”

Jun membetulkan posisi duduknya. Ia lipatkan kedua tangannya. Kemudian roh Jun kembali melayang, lepas dari raganya. Ia masuk ke sebuah tempat luas namun remang, pengap, dan pekat. “Jun, apakah kau melihat benda bulat mirip bulan? Itu bulan palsunya, Jun. ambillah! Akan kugelapkan tempat itu setelah kau mengambilnya.” Terdengar suara Mbah Tapak Angin menggema. Jun lalu mulai mencari benda tersebut. Setelah di dapat, tempat itu tiba-tiba gelap.

“Mbah!! Mbah!!” Teriak Jun minta tolong. Namun beberapa saat kemudian, muncul seberkas cahaya putih dari jauh. Ia dekati cahaya itu. Dan ketika ia sampai, alangkah terkejutnya ia melihat sebuah tempat seperti miniatur cakrawala, lengkap dengan matahari juga planet-planetnya.

Kini ada dua bulan di tangan Jun. kanan yang asli, kiri yang palsu. “Jun, taruhlah bulan palsunya di sebelah benda bulat berwarna biru. Bulan itu yang akan menyinari malam di bumi. Sekarang, kau bisa memberikan bulan yang asli kepada Nur.” Lalu pelan-pelan Jun taruh bulan palsu itu.

“Pejamkanlah matamu. Akan kukembalikan kau ke ragamu.” Lalu, setelah roh Jun kembali ke raganya, ketika ia membuka matanya, ia bahagia melihat bulan ada di tangannya. Ia juga bahagia melihat malam kembali bercahaya, walau tak terlalu terang seperti biasanya. Di bawah sana, orang-orang berteriak kegirangan melihat bulan kembali di posisinya. Air laut kembali pasang, dan hampir semua televisi menayangkan berita tentang kembali bulan di langit.

Singkat cerita, tidak perlu berpacaran terlebih dahulu, akhirnya Nur resmi menjadi istri Jun setelah gadis tersebut menerima bulan asli sebagai mas kawinnya.

***

Dan beberapa tahun kemudian, ketika aku sudah menikah, pada suatu malam sebelum tidur, anakku bertanya, “Bu, kenapa bulannya tidak terang?”

“Karena dulu bulannya pernah dicuri orang.”

“Dicuri orang? Maksudnya?”

“Iya, dicuri orang. Jadi, dulu itu..” dan aku mulai bercerita tentang bulan yang pernah dicuri orang, seperti yang pernah ibu ceritakan kepadaku.

Purwokerto, 6 Oktober 2013

Terinspirasi dari film Despicable Me

Iklan

7 thoughts on “Tentang Bulan Yang Pernah Dicuri Seseorang

  1. Maaf kak ikut komen, saya dapat link dari facebook, hihi. Salam kenal ^^

    Saya suka diksinya: temaram, sintal, memecah, dan kata2 lain yang gak biasa. Sangat memperkaya pilihan kata 😀

    Tapi berhubung saya belum pernah nonton filmnya (Despicable Me), saya jadi kurang ada bayangan pas Jun itu bertapa, hehe.

    Latar tempatnya kuat, di Jawa Tengah (dengan disebutkan kota2 seperti Pemalang atau Purbalingga), tapi latar waktunya saya bingung kak, kalau misalnya ini terjadi di jaman baheula, tapi kok udah ada tv ya? kalau misalnya udah agak masa kini, ada beberapa orang yang bilang : “Mungkin dimakan serigala.” Seolah2 saat itu kepeercayaan masyarakat masih animisme, belum ada agama.

    Satu lagi, mungkin bagian ada remaja yang bercinta di depan toko itu tidak usah ada kak, hehe. Saya kurang sreg gitu, tida ada relevansinya juga dengan cerita ^^

    Maaf ya kak, saya sok2 komentar begini, hehe.
    Semangat berkarya… 🙂

    • Terima kasih May telah berkunjung ke sini 🙂
      Sebenarnya ini terinspirasi dari Despicable Me saat Gru mencuri bulan, tonton aja filmnya. Lucu :))
      Latar yak? Ngga persis tahun berapaan, yang jelas di daerah pedesaan. Hehe 🙂
      Duuh, kalo yang soal remaja bercinta, maaf kalo kurang relevan, itu cuma buat bumbu doang 🙂
      Makasih May atas komentarnya.. Jangan sungkan2 buat main2 🙂

  2. hm, menarik. meski menurutku agak janggal. semula cerita bergulir manis layaknya kisah asmara. Mulai aneh saat Nur meminta bulan. Nur, kamu nggak lagi ngigau kan?
    dan ternyata Jun begitu ingin mengabulkan pinta Nur. Lewat bisikan gaib, bertemulah dia dgn Mbah Tapak Angin. Proses perjalanan Jun bertemu si Mbah rasanya terlalu panjang diceritakan.
    Lalu Jun berhasil mencuri bulan, dan Nur pun bahagia.

    Jika Despicable Me dianggap berhasil menyajikan kisah ‘gru mencuri bulan’ tentulah sebab ini film untuk anak-anak. Kartun pula! Ada banyak pengabaian logika dalam kartun yg bisa dimaafkan. Tapi ketika ide yg sama dipindahkan ke lain format, tentu lain pula ceritanya.
    Salam. 🙂

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s