Cacing Aida

Cacing

 

Satu minggu yang lalu, hujan turun deras disertai angin kencang. Menurut lembaga yang mengamati cuaca, hujan dan angin tersebut akan memporak-porandakan kampung  Tanjung. Kepala Desa telah mengumumkan Siaga 1. Warga segera diungsikan ke balai desa. Dilihatnya dalam sebuah berita, dalam sebuah video amatir yang diunggah oleh seorang warga, angin kuat mendorong pohon-pohon tumbang. roboh merusak rumah, kendaraan, juga jalan. Genteng-genteng dan atap seng beterbangan. Sebagian bangunan roboh, runtuh menjadi debu. Para pengungsi menangis mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri, gemeretak tembok-tembok retak, dan gemuruh angin hebat.

Paginya, bantuan-bantuan datang silih bergantian. Berkarung-karung beras, puluhan roti gandum, botol-botol kecap dan saus, biskuit dan telor asin, juga berdus-dus mi instan. Ada juga yang membawa berbalok-balok kayu, terpal, bilik bambu, dan tikar. “Ini untuk bahan makan sementara, juga untuk membuat dapur dan WC umum,” ucap Pak bupati di tengah sambutannya. Para pengungsi sedikit tersenyum, tapi tak banyak juga yang matanya sayu dan murung, menangisi harta bendanya yang terbawa angin puting beliung.

***

Ini hari ketujuh setelah bencana tersebut. Di tenda pengungsian, terlihat dua bocah saling berpelukan di sebuah sudut. Dua kakak beradik, beradu kepala, dan saling melingkarkan lengan, berpelukan. Mereka Samsul dan Aida. Dua bocah yang baru saja bangun tidur dan tengah menunggu antrean mandi. Mereka harus pergi ke sekolah. Sekolah sementara, sekolah yang dibangun dengan tenda di atas lapangan bulu tangkis. Di sampingnya, bapaknya duduk meminum kopi dan merokok. Ia juga tengah mengantre mandi. Sebentar lagi Bapak akan berangkat ke pasar naik mobil bak terbuka bersama beberapa orang. Ia akan mencari genteng, semen, dan pasir. Hari ini Pak Lurah menugaskan beberapa pria dewasa untuk membangun kembali rumah-rumah yang roboh.

Pintu kamar mandi terbuka. Seorang perempuan berdarster keluar dari kamar mandi. Ia ibu dari kedua bocah tersebut. Akhir-akhir ini perempuan berdaster itu disibukkan oleh memasak, memasak, dan memasak. Kadang diselingi membakar sampah di kebun. “Malu jika tidak bantu-bantu,” ucap perempuan itu suatu hari ke suaminya.

Bapak lalu menyuruh kedua bocah itu masuk. “Mandi yang bersih,” perintah Bapak. Suaranya serak, mungkin karena sering kedinginan di tenda.

“Samsul, bantu adikmu menggosok sabun. Jangan sampai terkena mata.”

Samsul mengangguk, Samsul lalu mengambil handuk.

Aida memang masih belum bisa mandi sendiri. Ia baru saja masuk TK. Kakaknya, Samsul, kini kelas 6 SD. Dua bulan lagi ia akan mengikuti Ujian Nasional. Ia harus berangkat sekolah, mencari bekal untuk ujian. Ia harus mengejar masa depannya yang masih panjang, yang belum tahu akan jadi apa.

Mereka lalu masuk ke kamar mandi. Ketika hampir selesai mandi, Emak memanggil mereka berdua. “Samsul, Aida, cepat mandinya. Ini nasinya sudah matang.”

Kedua bocah itu cepat-cepat menyudahi mandinya, kemudaian berlarian ke tenda pengungsian.

***

Sepulang sekolah, Samsul melihat Bapak tengah menurunkan semen dari truk. Ia menyapanya. Bapak tersenyum. Ia menyuruh Samsul untuk cepat-cepat ke tenda. “Ajak adikmu makan siang.”

Ia lantas lari ke tenda, menghampiri Aida yang sedang bermain boneka. Samsul memeluk bocah perempuan itu, lalu mengajaknya makan siang bersama. Usai makan siang, Samsul langsung menerobos masuk ke dapur, mengambil layang-layang yang terselip di dinding bambu.

“Kemana?” Tanya Emaknya yang sedang meniup tungku.

“Mau main layangan, Mak.” Bocah laki-laki itu lantas berlari keluar rumah.

Sesampainya di lapangan, Samsul bergabung dengan beberapa temannya. Dilihatnya ada yang bermain kelereng, lompat tali, petak umpet. Ia juga melihat adiknya yang baru saja bermain mobil-mobilan. Samsul sendiri memilih bermain layang-layang. Adiknya ia panggil untuk membantu menerbangkannya.

Aida sangat berbeda dengan bocah perempuan pada umumnya. Potongan rambutnya pendek, kulitnya cokelat. Wajanya tidak cantik, tubuhnya kurus kering tak menarik. Ia suka memanjat pohon, hal yang hanya pantas dan perlu kekuatan seperti dimiliki anak laki-laki. Ia juga kerap bermain kelereng, mobil-mobilan, bahkan bermain bola. Semuanya dilakukan dengan telanjang kaki. Bapak tak pernah memarahinya. Ia membiarkan Aida bermain permainan laki-laki dan bertelanjang kaki.

Menjelang sore, Samsul berhenti bermain. Layang-layang ia turunkan. Benang ia cepat-cepat gulung. Ia harus bergegas balik ke pengungsian karena ada kegiatan untuk anak-anak. Kali ini kegiatan menggambar. Ia juga mengajak Aida ke acara tersebut. “Kali saja kamu dapat permen dan makanan ringan,” ucap Samsul menggendong Aida. Sesampainya di posko, suasana masih sepi. Hanya ada Mbak Citra dan Mas Agung yang sedang mengobrol di meja. Mereka yang akan memandu acara menggambar. Sebenarnya Samsul tak ingin datang ke acara tersebut. Ia tak suka menggambar. Ia lebih suka bernyanyi, menyanyikan lagu Ungu ataupun Wali. Namun ia terpaksa, karena hampir semua teman-temannya datang ke sana.

Acara dimulai. Mbak Citra dan Mas Agung membagikan buku gambar dan pensil berwarna. Samsul terdiam sejenak. Matanya tertuju pada reruntuhan rumah-rumah. Ia memikirkan apa yang akan ia gambar. Di benaknya terlintas sebuah rumah mewah, ia hendak menggambar rumah tersebut. Namun ia tak tahu harus dari mana ia memulai.

Lima menit berlalu. Belum ada secoret gambar pun di kertas Samsul. Samsul melirik teman di sampingnya. Ia tengah menggambar sebuah gunung lengkap dengan sawahnya. Samsul menoleh ke belakang, temannya tengah menggambar seorang anak sedang bermain layang-layang. Samsul kembali terdiam. Matanya ia arahkan ke lapangan berumput. Ada seekor kambing di sana.

“Yang sudah boleh dikumpulkan,” ucap Mbak Citra mengagetkan. Samsul terperanjat. Ia cepat-cepat menorehkan pensil di buku gambarnya. Beberapa menit kemudian Mbak Citra menghampiri Samsul.

“Kamu menggambar apa, Dek?”

Nggambar kambing makan rumput, Mbak.”

“Mana kambingnya?”

“Kambingnya sudah pergi, Mbak. Tinggal rumputnya.” Jawab bocah lelaki itu polos. Mbak Citra tertawa.

***

Beberapa hari kemudian, dalam tidur siang, Aida menangis. Samsul yang berada di sampingnya lalu mendekap Aida, mencoba menenangkan. Namun semakin lama, tangis Aida semakin terdengar keras. Samsul lantas mencari Emak ke dapur. Emak datang. Karena takut tangis Aida semakin keras, Emak menggendong Aida ke luar tenda. Aida sedikit tenang. Ditaruhnya tangan Emak di dahi Aida, tubuhnya terasa panas. Aida sepertinya demam. Emak lalu menyuruh Samsul ke posko kesehatan untuk meminta obat demam.

Esoknya, sakit Aida bertambah parah. Ia kehilangan nafsu makan. Tubuhnya terlihat kurus, lemah, lunglai. Perutnya sedikit membesar. Ia juga seing muntah dan diare. Bergegas Emak membawanya ke posko kesehatan. Emak duduk memangku Aida, mengantre.

“Aida Nurmala.” Dokter memanggil. Emak lalu masuk ke ruang dokter.

Dokter bilang, Aida terkena cacingan. Ada beberapa larva cacing di perutnya. Mungkin karena kondisi tenda pengungsian yang kumuh, juga Aida yang sering jajan sembarangan.

“Ini ada obat, Bu. Diminum sehari tiga kali. Insyaallah anak Ibu cepat sembuh,” ucap dokter seraya menyerahkan sekantung plastik berisi obat-obatan.

Saat sampai di tenda pengungsian, Emak menyuruh Samsul untuk menjaga adiknya. Dibaringkannya Aida di kasur. Samsul mengibas-kibaskan kipas di sampingnya.

“Kak,” ucap Aida lirih, suaranya serak, “seperti ada puluhan cacing di perutku,” keluhnya kepada Samsul.

Samsul lalu teringat Emak yang tadi pagi tengah membelah buah dan menemukan seekor ulat di dalamnya. Samsul lantas pergi kedapur mencari pisau. Ia tersenyum. Kini ia tahu bagaimana cara menyelamatkan adiknya.

Purwokerto, 8 Juli 2013

Iklan

5 thoughts on “Cacing Aida

  1. oh. no. NOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO. kenapa berakhiran dengan kalimat2 yang menuntun pada pikiran si Samsul ini akan ngebelah perutnya Aida? Seram sekali dan gak sanggup bayanginnya 😐

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s