Alice

Alice

Aku mengenalnya di dalam sebuah kereta yang kutumpangi dari Jakarta menuju Jogja. Ia terlihat tergesa-gesa saat memasuki kereta dan sempat menyerempet hingga membuat jatuh seorang lelaki tua. “Maaf.. Maaf..” Ucapnya membangunkan lelaki tua itu.

Ia kemudian meletakkan tas besarnya ke dalam bagasi di atas kepalaku dan mengangguk ke arahku sebelum akhirnya duduk di sampingku. Aku membalas ringan dengan anggukan dan senyuman ke arahnya.

Peluit kereta berbunyi. Kereta yang kutumpangi mulai bergerak meninggalkan stasiun. Dan ia, maksudku orang yang duduk di sampingku mendekat ke arah jendela, melambaikan tangan dan tersenyum ke arah seorang lelaki di bangku samping rel. Sepertinya itu pacarnya, pikirku.

Yang duduk di sampingku ialah perempuan berparas cukup cantik dan beralis hitam lentik. Yang mana jika melirik, wajahnya terlihat semakin eksotik. Ia berambut ikal mayang, mengenakan jaket kulit lengan panjang, dan celana jeans ketat yang memperlihatkan lekuk kakinya yang jenjang. Kulihat ia membawa beberapa buku (mungkin buku resep masakan) yang baru saja ia masukkan ke dalam tas kecil miliknya. Kurasa ia seorang juru masak. Atau sedang belajar masak? Ah, entahlah.

Kuambil sebuah buku dari dalam tasku. Sengaja aku membacanya karena tak ingin berlama-lama memandanginya. Ya, ya, sedari tadi aku memang memandanginya. Ia begitu beda di mataku. Ia membuat jantungku berdegup lebih kencang. Membuat aliran darahku tak tenang. Membuat hayalku tinggi menjulang.

Baru beberapa menit membaca, tiba-tiba ia melirik ke arahku. Bukan, bukan ke arah wajahku, lebih tepatnya ke arah buku yang sedang kubaca. “The Sheltering Sky ya, Mas?” Tanyanya mengagetkanku.

“Eh iya,” jawabku menutup buku, berpura-pura membaca judul di sampulnya, “kebetulan saya suka. Mbak sudah pernah baca?”

Kami pun mulai bercakap-cakap. Kuketahui namanya Alice. Bulan lalu ia baru saja berulang tahun ke-27. Ia sudah tujuh tahun di Jogja, dan sekarang bekerja sebagai pemilik restoran.

Ia bercerita. “Aku asli Jakarta. Dulu aku datang ke Jogja karena ingin melanjutkan pendidikanku, S2. Selama kuliah, untuk membiayai hidupku di Jogja, aku mencoba mencari penghasilan dengan menjadi guru les.”

“Guru les?”

“Iya, guru les privat. Namun itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Kelakuan muridkulah yang membuatku berhenti. Ia tak pernah konsentrasi saat aku menerangkan. Ia juga sering mengeluh dan ingin berhenti les. Sebagai gantinya, kuputuskan untuk bekerja berpindah-pindah sebagai juru masak di beberapa restoran kecil di Jogja. Sampai kemudian, berkat ilmu yang kudapatkan, aku ditunjuk sebagai juru masak di sebuah restoran besar.”

Ia membetulkan posisi duduknya, kemudian mulai melanjutkan bercerita.

“Dan saat aku lulus kuliah, dengan gaji yang sempat aku tabungkan, kudirikan sebuah restoran tak jauh dari kontrakanku.”

“Ijasahmu kau sia-siakan?”

“Tidak, tidak. Aku sendiri mengambil jurusan manajemen. Itu sangat membantuku memimpin restoran.”

Aku hanya mengangguk, juga membetulkan posisi dudukku.

“Kau sendiri, untuk apa kau ke Jogja?” Ia kemudian balik bertanya.

“Aku sendiri asli Jogja.”

Ketika kujawab bahwa aku asli Jogja, raut wajahnya tiba-tiba berubah.

“Kau asli Jogja? Kenapa aku tak tahu? Wah, bisa sering-sering mampir ke restoranku dong.”

“Mampir? Iya, itu pasti. Apalagi kalau digratiskan makan. Hehe..” Tawa kecil pun keluar dari bibir kami.

Aku memang asli Jogja. Aku menghabiskan tahun-tahun terakhirku dengan bekerja apa saja. Pernah menjadi kru kapal persiar, menjadi penjual pakaian di Bandung juga pernah. Namun, entah kenapa aku sangat ingin kembali dan menetap di Jogja, kota kelahiranku. Seakan-akan kota ini punya suara yang kerap memanggilku pulang. Dan sekarang aku menjadi pegawai bank di kotaku sendiri.

“Ngomong-ngomong, buku apa yang kau bawa itu?” Tanyaku menunjuk ke arah tas kecil miliknya. Aku termasuk tipe orang yang suka mengobrol. Jika ada orang di sebelahku, sering kutanya apa saja tentang dirinya, tentang profesinya, tentang tempat tinggalnya, tentang apapun. Bukankah dengan mengobrol kita akan semakin akrab?

Dan tebakanku sebelumnya benar. Buku yang ia masukkan ke dalam tas kecil miliknya ialah buku resep masakan. Ia mengatakan bahwa buku itu merupakan resep masakan dari berbagai daerah di Indonesia. Ia ingin sekali menghadirkan masakan-masakan tersebut ke dalam restoran miliknya. “Kali saja banyak yang suka,” katanya.

Dan beberapa saat kemudian kami terdiam. Mungkin karena sudah kehabisan bahan obrolan. Kulihat mulutnya menguap. Lalu tertidur dalam perjalanan yang panjang. Napasnya halus, lunak. Wajahnya putih, bersih. Ah, andai ia jodohku, gumamku dalam hati. Dan aku kembali membuka bukuku, melanjutkan membacanya.

***

Dua jam kemudian kulihat ia bergerak. Matanya perlahan terbuka. Ia pandang aku sejenak, lalu beralih ke jendela.

“Sudah sampai mana kita?” Tanyanya sembari menutup mulutnya yang menguap.

“Kita sudah hampir sampai stasiun. Mungkin tinggal lima belas menit lagi.”

“Oh ya? Eh, hari ini sedang tidak sibuk, ‘kan? Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar. Ada festival jajanan nusantara di Alun-alun Kidul.”

Seperti tersihir, aku pun menurutinya.

Kereta akhirnya berhenti. Setelah keluar dari stasiun, kami lalu naik taksi menuju alun-alun. Terik mengiringi perjalanan kami. Kulirik wajah Alice dari kaca mobil. Bibirnya tipis, alisnya simetris, membuatku seperti terhipnotis untuk menulis sajak yang paling romantis.

Sesampainya di festival jajanan nusantara, kulihat Alice tampak senang berada di sana. Baginya, tempat itu seperti surga makanan di dunia. Tengkleng Klewer dari Solo, Mie Koclok dari Cirebon, Sate Jamur dari Yogyakarta, Tahu Tek Telor dari Surabaya, Mie Aceh dari Sabang, juga Nasi Pindang dari Semarang. Pun berbagai jajanan pasar lain, kue combro, bingka ubi, lapis gethuk, lepet, bolu kukus, klepon, dan banyak lagi.

“Hey, itu ada Sate Klatak! Bagaimana kalau kita mencicipinya?”

Kemudian kami memesan dua porsi Sate Klatak dan duduk di kursi bawah pohon untuk melepas lelah sejenak.

Sebagai pembuka pembicaraan, kutanya padanya siapa lelaki yang ada di stasiun tadi. Dan ia menjawab, “Itu kekasihku. Kami sudah pacaran 2 tahun.”

Deg! Aku seperti tersambar petir. Perempuan cantik itu ternyata sudah mempunyai kekasih. Aku terdiam. Hatiku menciut.

***

Tak terasa matahari hampir tergelincir. Kami pun berpisah, pulang ke rumah masing-masing. Sesaat sebelum berpisah, Alice menyerahkan secarik kertas untukku. “Ini kartu namaku. Sering-seringlah mengobrol denganku. Sia-sia saja jika hanya sampai di sini.”

Aku pun pulang dengan senyum yang mengembang. Gerimis mulai menitis sore itu.

Sesampainya di rumah, aku menemukan seekor kucing basah kuyup di depan gerbang rumahku. Tubuhnya kotor, kakinya berdarah. Ketika kudekati, kucing itu ketakutan. Ia mencoba lari, namun terjatuh. Kakinya tak kuat menahan tubuhnya sendiri. Aku yang merasa kasihan melihatnya, kemudian membopongnya masuk ke dalam rumah. Kubersihkan tubuhnya dengan handuk, lalu kulilitkan kapas di kakinya yang berdarah. Ia kuletakkan di dalam sebuah kardus mie instan yang sebelumnya sudah kualasi dengan kain hangat. Kucing itu kemudian tertidur pulas. Diikuti olehku yang tertidur di sofa.

***

Hari, lalu minggu. Aku semakin dekat dengan Alice. Walaupun ia sudah mempunyai kekasih, namun kami sering bertemu. Berfoto-foto di Borobudur, menikmati senja di Parangtritis, jalan-jalan di Malioboro, juga makan di Angkringan Lik Man. Ia juga pernah datang ke rumahku di pagi buta, saat ulang tahunku ke-28. Pagi itu, ketika jelaga belum sepenuhnya terusir dari langit, ketika cahaya masih mengintip malu-malu di ufuk timur, aku dikagetkan oleh suara ponsel berdering. Alice memanggil.

“Hey, maaf kalau pagi-pagi menelpon. Kamu sedang di rumah, ‘kan? Keluarlah sebentar, aku di depan.”

Dengan langkah sedikit goyah dan mata  yang belum sepenuhnya terbuka, aku keluar kamar membukakan pintu untuknya. Dengan membawa kue dengan lilin berbentuk angka 28 dan kotak ukuran sedang berpita merah, ia pun mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Aku menyambutnya dengan kegembiraan, walau sebenarnya sedikit kesal karena menganggu tidurku.

Kupersilakan ia masuk.

“Sepi ya? Sedang ke mana yang lain?” Tanyanya melihat-lihat isi ruangan.

“Bapak sedang kerja di luar kota. Ibu menginap di saudaranya yang menikah. Adikku tak tahu ke mana, semalam ia keluar dengan teman-temannya. Hanya ada aku dan Kitty.”

“Kitty? Siapa itu?”

“Oh, itu kucingku. Kutemukan ia beberapa minggu yang lalu di depan pintu gerbang.”

Dan tiba-tiba Kitty keluar. Kucing berekor pendek dan berbulu cokelat itu melongok dari balik pintu kamarku. Ia lalu berlari ke arahku, menempelkan dirinya di kakiku.

“Hey, kucingmu lucu juga. Boleh aku yang mengasuhnya?”

“Mengasuhnya?”

Aku terdiam. Setelah lama menimbang-nimbang, dengan sedikit berat hati kuserahkan Kitty kepada Alice. Toh aku juga tak punya waktu untuk merawatnya, akhir-akhir ini aku sedang disibukkan oleh kerja lembur di kantorku.

“Kau bisa kapan saja main ke rumahku jika merindukan Kitty,” ucap Alice membopong Kitty.

***

Malamnya, saat aku baru pulang kerja, tiba-tiba ponselku berdering. Alice kembali memanggil. Saat kupencet tombol jawab, terdengar suara tangis di ujung sana.

“Kenapa?” Tanyaku.

Dalam tangisnya, kudengar Alice menyuruhku ke rumahnya. Aku bergegas memakai pakaianku dan mengendarai mobilku ke rumahnya.

Ketika ia membukakan pintu, ia langsung menghambur ke pelukanku.

“Tenanglah, ceritakan apa yang terjadi.”

Alice pun bercerita. Bahwa beberapa jam yang lalu, lewat sebuah percakapan telepon, ia baru saja putus dengan pacarnya, lelaki yang kulihat di stasiun saat aku pertama kali bertemu Alice. Mereka putus karena tak tahan dengan jarak. Selain itu, lelaki itu juga memutuskan Alice karena Alice jarang membalas pesannya.

Hey, tidakkah kau tahu bahwa Alice orang yang sibuk? Ia Manajer restoran! Gerutuku dalam hati, mencaci maki lelaki yang telah menyakiti Alice.

Di dalam pelukanku, kurasakan sekujur tubuh Alice lemas. Suara tangisnya terdengar makin keras. Membuat hatiku memanas, ingin menonjok lelaki itu dengan pukulan yang paling keras.

Mendengar isak tangisnya, aku seperti terhisap memasuki lorong panjang. Hitam. Kelam. Dan seketika, beberapa nama yang sempat mengisi hatiku perlahan muncul dalam ingatanku.

Vania, pacar pertamaku. Aku putus dengannya karena kita beda keyakinan. Orang tuanya tak menyetujui, pun dengan orang tuaku. Untuk melupakannya, aku bekerja di kapal pesiar. Di sana aku bertemu dengan perempuan asal Aceh, Lita namanya. Aku menyukainya, dia menyukaiku. Kami pun berpacaran. Namun hanya bertahan beberapa bulan saja, jaraklah yang menjadi penyebabnya. Dan pacarku yang terakhir, Erin, aku bertemu dengannya saat aku bekerja sebagai karyawan bank di kotaku. Dia satu kantor denganku. Kebaikannya-lah yang membuatku dekat dengannya. Namun suatu hari aku memergokinya berjalan dengan pria lain. Kami lalu putus.

Dan sekarang ada Alice di sisiku, perempuan yang baru saja berpisah dengan kekasihnya. Ada kesempatan untuk mengisi hatinya yang kosong.

Pelan-pelan, kuseka air matanya dengan jariku.

***

Satu hari. Empat hari. Tiga minggu. Hingga akhirnya datanglah satu kesempatan untuk mengungkapkan keinginanku untuk menjadi kekasihnya. Malam itu kuhubungi Alice untuk menanyakan sedang di mana.

“Aku sedang di restoran. Ada apa?”

“Aku ingin bertemu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”

“Tapi sekarang aku sedang sibuk. Ke marilah satu jam lagi.”

Aku pun mengucapkan kata Sip!!, lalu menutup telepon.

Bergegas aku mandi dan berpakaian rapi, mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam rencana untuk mengungkapkan isi hati.

Jam menunjukkan 10 malam ketika aku sampai di restorannya. Kujatuhkan pantatku di kursi dekat jendela. Kulihat masih banyak pengunjung di dalam restoran. Di antara mereka ada yang sedang mengobrol dengan tawa yang terbahak-bahak, ada juga yang sedang mengobrol tanpa suara sama sekali sambil melipat kedua tangan di atas meja dan mendekatkan kepala mereka.

Suara musik blues mengapung di ruangan. Kulihat Alice tengah menuangkan minuman ke dalam gelas. Segera kulambaikan tanganku ke arahnya. Ia menoleh. Usai mengelap tangannya dengan kain, ia lalu berjalan ke arahku dan duduk satu meja denganku.

Awalnya hanya basa-basi ringan, dilanjutkan obrolan yang panjang. Lalu kuberanikan diri untuk mengungkapkan cinta kepadanya. Kugenggam tangannya yang dingin, “Alice,” tanganku sedikit gemetar, “aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Aku menunggu beberapa saat, tetapi ia tak juga menjawab. Ia tertunduk. Diam. Namun beberapa saat kemudian, sebuah kalimat muncul dari bibirnya yang mungil, “Aku juga mencintaimu.”

Duarr!! Tiba-tiba seperti ada petir yang meledakkan di hatiku. Seketika bibirku melengkung penuh senyum dan rasa bahagia berlesatan di sekujur tubuhku.

***

Esoknya, sebagai perayaan hari jadian kami, ia mengajakku mengunjungi rumahnya. “Ke marilah, kita masak Chicken Steak Teriyaki bersama,” ajaknya lewat sebuah telepon. Aku pun ke sana, membawa sedikit kue untuknya.

Saat aku sampai di rumahnya, ketika hendak kuketuk pintu, kudengar suara pukulan berkali-kali dari arah belakang. Segera aku berlari ke sana. Dan kulihat Alice tengah memegang sebuah balok kayu, memukulkannya berkali-kali ke seekor kucing yang digantung terbalik di sebuah tali. Lidah kucing itu terjulur keluar, lehernya nyaris patah, tubuhnya memar penuh darah.

Alice menatapku. “Kucingmu bajingan! Ia memakan daging ayamnya!”

“Kau yang bajingan!” Mataku memerah. Tanganku terkepal kuat. Tanpa sadar kulemparkan kue yang kupegang tepat ke arah kepalanya. Matanya menatap ke arahku. Mendelik. Dingin. Seperti mata iblis dari neraka.

***

Hari ini aku menyendiri di Parangtritis. Kelakuan Alice yang telah membunuh kucingku membuatku menangis. Hatiku teriris. Alice yang dulu manis, di mataku kini berubah menjadi iblis berwajah bengis. Dan aku, tak lagi mencintai Alice.

Pemalang, 7 Juni 2013

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s