Tukang Adzan

 

Namanya Mbah Syafi’i, orang-orang memanggilnya Mbah Pi’i, tukang adzan surau Baitul Makmur.

Surau itu sangat tua. Temboknya tebal, catnya putih (namun sudah banyak yang mengelupas), lantainya terbuat dari tegel. Untuk penerangan, surau itu masih menggunakan lampu minyak.

Surau Baitul Makmur tak begitu luas, hanya mampu menampung 40 orang. Jika bulan puasa tiba, orang-orang akan banyak yang sholat tarawih di halamannya, karena halamannya memang lebih luas dari surau itu. Pernah suatu hari ada orang yang bertanya kenapa surau itu tak diperluas saja, dan Mbah Pi’i hanya menjawab ringan, “Uang kasnya masih sedikit. Buat ganti listrik saja tak cukup, apalagi buat perluas masjid. Kamu ini ada-ada saja.”

Surau itu merupakan wakaf dari almarhum abahnya. Dan ia satu-satunya orang yang masih mau mengurus surau tua itu. Mengisi bak air, mengepel lantainya, menyapu halamannya, dan adzan. Suara Mbah Pi’i memang serak, parau, juga lirih. Namun jika adzan, suaranya begitu merdu, menyejukkan. Cengkoknya seperti cengkok seorang murottal handal.

Mbah Pi’i tinggal sendirian di gubuk bambu samping masjid. Gubuk itu hanya berukuran 4×5 meter. Di ruang tamunya tak ada kursi, hanya ada tikar anyaman sebagai tempat duduk. Di samping ruang tamu ada dipan beralaskan tikar pandan untuk tidur. Di ruang belakang, terongok kompor minyak tanah, periuk nasi, panci aluminium, cangkir, dan piring kaleng. Sepertinya itu dapur. Atapnya sedikit bolong. Jika hujan tiba, Mbah Pi’i akan sibuk mencari baskom dan ember untuk menadah air hujan agar tidak membanjiri rumahnya.

Ia hidup dari hasi penjualan rokok, gula, teh, kopi, kerupuk, dan jajanan di warung samping rumahnya, warung kecil yang terbuat dari bilik bambu. Ia memang hidup sendirian. Istrinya mati tertabrak kereta saat usia perkawainan mereka menginjak 20 tahun. Saat itu mereka baru saja selesai mencabut rumput di lapangan sepakbola untuk pakan kambing. Rumput itu Mbah Pi’i taruh di boncengan sepedanya. Ia tuntun sepeda itu, sedangkan istrinya berjalan jauh di belakangnya (karena perempuan itu jalannya memang pelan) membawa arit dan sedikit beras yang baru saja ia beli di toko pinggir jalan.

Saat melewati rel kereta, beras yang dibawa istri Mbah Pi’i tiba-tiba jatuh, tercecer di rel kereta. Mbah Pi’i yang di depan tak mengetahuinya. Ia terus saja berjalan menuntun sepeda tuanya. Istrinya memanggil, menyuruhnya untuk membantu, namun Mbah Pi’i tak mendengarnya. Istri Mbah Pi’i lalu berjongkok, dan mengambil beras tersebut sendirian.

Tiba-tiba terdengar bunyi kereta datang. Mbah Pi’i berbalik. Dilihatnya bayangan sang istri dari sorot lampu kereta tengah jongkok di rel. Mbah Pi’i lalu mengejar dan berteriak memanggil istrinya. Namun perermpuan itu tak sempat menyelamatkan diri. Tubuhnya terpelanting, tertabrak kereta jurusan Jogja-Solo.

Seratus hari setelah wafatnya sang istri, Mbah Pi’i menyuruhmu, anak semata wayangnya untuk merantau. “Sudah saatnya kau merantau. Susah jika cari uang di kota ini,” kata lelaki tua itu kepadamu.

Akhirnya, berbekal uang tabungan dan tas kulit imitasi berisi pakaian, kau pun merantau. Ke Jakarta, jadi kuli di salah satu kios buah. Dan sejak itu, Mbah Pi’i hidup sendirian. Ia akan bangun jam empat pagi, menimba sumur untuk mengisi bak wudhu surau, lalu adzan. Jam enam ia akan mengepel surau dan menyapu halamannya. Lalu ia akan membuka warung, dan berjualan. Begitu, setiap hari.

***

Empat tahun berlalu. Lama tak ada kabar, kau kini menjadi bos buah. Kau menggantikan bosmu yang mati karena serangan jantung. Kudengar kau menikah dengan seorang perantau asal Cirebon, Sari namanya, juga dikaruniai seorang anak perempuan yang tak kalah cantik dengan istrimu. Kalian kini tinggal di Tangerang, di sebuah kawasan perumahan.

Siang begitu terik. Saat kau tengah duduk memandangi anak buahmu yang sedang membongkar peti buah, kau tiba-tiba teringat Mbah Pi’i, abahmu. Kau ingin sekali membawanya ke Tangerang untuk tinggal bersamamu. Kau lantas merogoh sakumu, meraih telepon genggam, dan menelpon istrimu untuk meminta izin apakah boleh membawa abahmu untuk tinggal di Tangerang. Tanpa keberatan, istrimu menyutujui.

Esoknya, dengan mobil yang baru saja dibeli beberapa bulan yang lalu, kau pergi ke kampungmu, menjemput abahmu. Kau ternyata masih ingat betul jalan menuju kampungmu. Tak ada macet dan halangan di jalan, kau pun sampai di kampung. Mbah Pi’i yang tengah tertidur di warung, melonjak kaget saat mendengar suara klakson mobil. “Siapa itu?” Teriak Mbah Pi’i.

Mbah Pi’i tercengang saat melihatmu turun dari mobil, tak yakin bahwa itu kau.

“Mahmud?”

Lelaki tua itu lalu berlari, memelukmu, dan menangis dalam kerinduan.

Di hari pertama di rumahmu, kau belum sempat mengutarakan keinginanmu untuk mengajak abahmu tinggal di Tangerang. Kau sibuk dengan masa kecilmu. Di hari kedua, kau masih juga belum sempat mengutarakannya. Di hari ketiga pun begitu. Hingga di hari keempat, kau akhirnya menyempatkan diri. Dengan halus, dibujuknya Mbah Pi’i untuk tinggal di Tangerang. Namun lelaki tua itu menolak.

“Abah tidak mau ke Tangerang. Abah masih tetap ingin di sini, mati pun ingin di sini. Siapa yang adzan nanti jika Abah ke Tangerang? Siapa yang akan membersihkan surau nanti jika Abah tak di sini lagi?”

Kau lalu terdiam. Hatimu surut. Kau tiba-tiba merasa dirimu kerdil. Kau tak tega melihat surau itu sepi. Kau teringat masa lalumu, saat kau harus bangun pagi-pagi sekali, bergantian menimba sumur dan menyapu masjid dengan abahmu. Kau teringat itu semua.

Namun, keinginan untuk membawa abahmu ke Tangerang begitu kuat. Di hari kelima, setelah dibujuk berjam-jam, dengan terpaksa Mbah Pi’i menurutimu. Dibawalah Mbah Pi’i ke Tangerang. Dan semenjak itu, surau terlihat sepi, kotor. Tak ada suara timba sumur, gemericik air, dan adzan. Orang-orang lebih senang sholat di masjid ujung kampung daripada harus mengurus surau tua itu.

***

Suatu hari, dalam tidur kau bermimpi. Dalam mimpimu kau tengah asyik menonton televisi, lalu didatangi abahmu yang keluar dari kamarnya. Dengan wajah yang tidak biasa, Mbah Pi’i memintamu untuk mengantarnya pulang ke kampung.

“Kenapa Abah tiba-tiba ingin pulang?” Tanyamu.

“Sudah, tak usah banyak tanya. Antarkan saja abah ke kampung.”

Seperti tersihir, kau lantas pergi ke kamarmu, berganti pakaian dan mengambil kunci mobil. Tanpa pamit ke istri dan anakmu, kau lalu mengantar abahmu pulang.

Dalam hitungan menit di dalam mimpimu, kau pun sampai di kampung tempat tinggalmu dulu. Kau bersama abahmu kemudian turun, lalu masuk ke rumah. Dilihatnya olehmu sebuah tikar kotor, sebuah dipan penuh sarang laba-laba, juga peralatan dapur yang sudah tak layak pakai.

“Duduklah, ada yang ingin abah bicarakan,” kata abahmu sambil membersihkan tikar lusuh itu, “Abah sudah tua. Umur abah sudah menipis. Tak kuat lagi mengurus surau itu. Maukah kau tinggal di sini menggantikan Abah?”

Tak berkata apa-apa, kau pun mengangguk.

“Sebentar lagi adzan dzuhur. Kau harus mengisi bak wudhu, lalu adzan. Bangunlah, jangan malas!” bergegas kau berdiri, lalu pergi ke surau.

Mimpimu terhenti oleh sebuah gigitan nyamuk di pipimu. Kau lantas menepuknya, lalu melanjutkan tidur. Tak tahu mimpi itu berlanjut atau tidak.

***

Esoknya, saat kau baru saja pulang kerja, kau tiba-tiba tersentak kaget saat menemukan abahmu terkapar di dekat tangga. Tubuhnya tak bergerak sedikit pun, namun nafasnya masih terasa. Bergegas kau bopong tubuh lekaki tua itu ke dalam mobil, mengantarnya ke rumah sakit. Namun di tengah jalan nyawa lelaki tua itu tak tertolong. Ia meragang nafas terakhirnya. Bulu kudukmu berdiri, kau baru saja satu mobil dengan Izroil. Tangis pecah dari matamu.

***

Beberapa bulan setelah wafatnya Mbah Pi’i, saat kau pulang kerja, di tengah kemacetan kaca mobilmu tiba-tiba diketuk oleh seorang lelaki. Orang itu sangat tua, berjenggot, dan memakai baju putih.

Kau lalu membuka kaca mobilmu dan melongok ke arah lelaki berbaju putih itu. “Ada apa, Pak?” Tanyamu.

“Bisakah kau antar aku ke alamat ini?” Ucap lelaki berbaju putih sembari menyodorkan secarik kertas.

Alamat itu sangat jauh. Sangat amat jauh. Jika menggunakan mobil, mungkin akan memakan waktu 15 jam lebih. Namun kau tiba-tiba membukakan pintu untuknya. ”Masuklah, kan kuantar kau ke tempat itu.”

Kau lalu menerobos kemacetan, mengendaraimu mobilmu dari satu kota ke kota lain. Menembus malam yang dingin tanpa merasa haus, lapar, ataupun lelah.

Sesampainya di suatu desa, kau seperti melihat sebuah bangunan yang tak asing bagimu. Sebuah rumah dari bilik bambu dan ada warung di sampingnya. Rumah itu terletak di samping surau tua.

“Berhentilah, kita sudah sampai,” ucap lelaki tua berbaju putih.

Kau bersama lelaki berbaju putih lalu turun dan masuk ke rumah samping surau itu. Dinginnya malam membuatmu menyusupkan tanganmu ke saku baju.

“Istirahatlah di sini, besok aku ingin sedikit meminta bantuan darimu.”

“Bantuan? Bantuan apa?”

“Kau harus bangun bangun jam 4 pagi. Kau timba air sumur yang ada di surau itu, lalu kau isi bak wudhunya. Kau juga yang harus adzan dan mengimami sholat shubuh. Tidurlah sekarang.”

Kau lalu meraih sebuah sarung pemberian lelaki tua berbaju putih itu dan tidur di tikar. Tubuhmu meringkuk saat angin menerpa sarungmu.

***

“Bangun! Hampir jam 4 pagi!” Teriak lelaki tua berbaju putih membangunkanmu.

Sambil mengucek-kucek matamu, kau pun bangun. Langkahmu sedikit limbung menuju surau. Kau lantas menimba sumur, mengisi bak, lalu mengucurkan air wudhu. Kau masuki surau tua itu. Duduk bersila. Mengaji. Berdzikir. Lama. Gerimis shubuh hari membuat surau semakin menampakkan kesunyian.

Beberapa saat kemudian terdengar parau adzan dari toa surau. Warga yang masih terlelap tidur mendadak bangun keheranan. “Siapa itu? Tumben ada yang adzan.”

Beberapa dari mereka yang penasaran bergegas mengambil alat sholat, lantas pergi ke surau sekadar ingin tahu siapa yang adzan.

Setelah adzan usai, seorang lelaki memberanikan diri bertanya, “Kau siapa?” Tanyanya kepadamu.

“Aku ini Mahmud, anak Mbah Pi’i. Aku yang akan menggantikannya mengurus surau ini.”

Usai sholat shubuh, dalam sedikit gugup, lelaki tua berbaju putih pamit kepadamu.

“Mau ke mana?” Tanyamu.

“Tugasku sudah selesai. Aku harus pergi.” Lelaki tua berbaju putih lantas menembus rintis gerimis. Terjingkat-jingkat menghindari genangan air.

***

Semenjak kedatanganmu, surau Baitul Makmur kini ramai. Mobilmu kau jual untuk membangun kembali surau tua itu. Sisanya kau gunakan untuk memperbaiki rumah, juga untuk modal usaha kecil-kecilan di warung samping rumahmu. Kaulah yang kini menggantikan Mbah Pi’i: bangun jam empat pagi, menimba sumur untuk mengisi bak wudhu, lalu adzan. Jam 6 kau akan mengepel surau, menyapu halamannya, lalu membuka warung dan berjualan.

Kau kini menemukan kehidupan barumu: menjadi tukang adzan, selamanya.

 

Pemalang, 27 Mei 2013

Iklan

3 thoughts on “Tukang Adzan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s