Sebuah Kenangan yang Semestinya Tak Kusimpan di Dalam Laci

 Laci

Bu,kenapa ia baik kepadaku? Ia baik kepadamu karena ia menyayangimu. Apakah ia akan terus baik kepadaku? Tentu saja, selama kau juga menyayanginya. Oya, bu, dia itu siapanya ibu?

Hawa gerah di kamar membuatku terpaksa keluar rumah. Kutaruh buku yang sedari tadi kubaca dan kuambil jaket cokelat milikku. Dengan agak santai dan terkadang menendang satu dua kerikil di sepanjang gang, kulangkahkan kakiku menuju taman kecil di seberang jalan. Kujatuhkan badanku di sebuah ayunan dekat pohon mangga. Kuayunkan beberapa kali ke depan dan ke belakang. Hingga akhirnya, jarak belasan meter di depanku, tak sengaja kulihat seorang lelaki yang tak asing lagi bagiku. Bram namanya. Ialah yang sempat mengisi kehidupanku. Dan seketika, kenangan tentang ia pun mulai menggulung-gulung memenuhi ingatanku.

***

“Nak, cepat mandinya, atau ibu tinggal!” Teriak ibu sambil mencari kunci mobil. Begitulah ibuku setiap pagi. Sebagai seorang pekerja kantoran, ia sangat sibuk di pagi hari. Membangunkanku untuk jam lima shubuh, menyiapkan sarapan pukul enam kurang sepuluh, dan mengantarkanku ke sekolah sebelum jam tujuh. Ia sangat berisik ketika aku enggan bangun atau berlama-lama di kamar mandi. Ia juga akan berisik saat pulang kerja ketika mengetahui aku belum mandi atau melihat kamarku yang berantakan. Begitulah ibu. Ia sangat cerewet, bising, dan berisik.

Lalu bagaimana dengan ayah? Ayahku seorang pensiunan. Ia pensiun karena sebuah penyakit yang menggerogoti tubuhya, sebuah penyakit yang membuatnya hanya bisa terbaring di ranjang dan duduk-duduk di kursi roda. Sebelum membangunkanku, ibu akan terlebih dahulu membangunkan ayah. Menuntunnya ke kamar mandi, mengganti pakaiannya, lalu menyiapkan sarapan untuknya. Pernah suatu hari aku bertanya kepada ibu kenapa ia tak menyewa pembantu saja, dan ia menjawab, “Dia itu ayahmu, suami ibu. Ibu sangat mencintainya.”

Hari berganti hari, hingga waktu terseret oleh arusnya, hingga datang suatu peristiwa yang membuat kami syok. Ayah meninggal saat aku pulang, saat ibu tidak ada di rumah. Kutemukan ia tak bernyawa di kamar mandi dengan satu kaki tersandar di atas toilet. Besar kemungkinan ayah terpeleset saat ia hendak buang air besar. Aku yang saat itu belum bisa mengoperasikan telepon, mencoba meminta bantuan tetangga untuk menghubungi ibu. Ibu pun pulang dengan isak tangis, lalu pingsan saat melihat jasad ayah.

Ayunan yang kududuki berhenti. Pandanganku masih tertuju kepada Bram. Ia masih sama seperti dulu. Tinggi, kekar, berjambang. Hanya saja ada sedikit keriput di wajahnya dan rambut yang sedikit memutih. Kuayunkan sekali lagi ayunan yang sedang kududuki. Dan angin pun menampar wajahku, membuat rambutku sedikit terurai ke belakang.

***

Semenjak sepeninggalan ayah, ibu kini berubah. Ia sering terlihat diam, tak berisik seperti biasanya. Namun kesibukannya kian bertambah. Gaji bulanannya telah habis untuk biaya pemakaman ayah, dan itu membuat ibu harus terpontang-panting mencari uang tambahan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bekerja di sebuah rumah kecil di kampung sebelah. Rumah itu terletak di sebuah gang buntu. Aku tak tahu apa yang dikerjakan ibu di sana, yang kutahu banyak sekali lelaki yang masuk ke dalam gang dan keluar dengan membawa satu dua orang wanita, salah satunya ibu.

Pernah suatu hari ibu mengajak seorang lelaki–aku pernah melihatnya di gang tempat ibu bekerja–menginap di rumahku. Bram namanya. Ia berperawakan tinggi, kekar, dan berjambang. Awalnya aku tak meyukainya karena perawakannya yang mirip tokoh jahat penculik anak-anak di sinetron yang sering ibu tonton selepas isya. Namun hari ke hari aku mulai terbiasa dengannya. Setiap akhir pekan, ia sering mengajakku ke tempat bermain, mengajakku makan es krim, dan bahkan ia sering membelikanku mainan. Ia begitu dekat denganku, bahkan seperti ayahku sendiri.

Aku masih memandangi Bram. Cepat-cepat kualihkan pandanganku darinya. Aku tak ingin Bram melihatku. Apa jadinya jika ia melihatku? Hal-hal aneh pun mulai muncul di pikiranku. Ia pasti kaget ketika melihatku, lalu menghampiriku dan menanyakan kabarku. Atau, ia malah pergi karena menanggung rasa malu? Ah, tidak, tidak. Tidak ada waktu untuk menghayal. Kuturunkan badanku dari ayunan, lalu pergi ke sebuah pohon besar di ujung taman. Perutku berbunyi, kupesan semangkuk bakso untuk mengisinya.

***

Karena kebaikan lelaki itu, pernah suatu malam aku bertanya kepada ibu saat ibu sedang membacakan cerita sebelum aku tidur, “Bu, kenapa Om Bram baik kepadaku?”

“Ia baik kepadamu karena ia menyayangimu.”

“Apakah ia akan terus baik kepadaku?”

“Tentu saja, selama kau juga  menyayanginya.”

“Oya, bu, Om Bram itu siapanya ibu?”

“Sudahlah, tidur saja. Tak usah banyak tanya. Besok kau ada ulangan,” jawabnya yang disusul kecupan di keningku.

Esoknya, saat aku pulang sekolah, kulihat lelaki itu tengah duduk di ruang tamu. Tak seperti biasanya ia ia berada di rumahku saat jam pulang sekolah.

“Eh, sudah pulang. Bagaimana sekolahnya? Sini duduk,” ucapnya. Ia kemudian meraih tanganku, lalu mendudukkanku di pangkuannya. Semula biasa saja, namun keanehan muncul saat ia usai menanyakan soal ulangan dan lesku. Kurasakan hembusan nafasnya menyentuh leherku, disusul tangannya membelai pipiku, kemudian meremas dadaku. Aku memberontak, menepis tangannya, lalu berlari menjauhinya. Dengan rasa tak bersalah, ia tersenyum ke arahku, namun kubalas dengan tatapan penuh kebencian.

Di hari berikutnya, kejadian itu terulang kembali. Ia kembali meletakkanku di pangkuannya dan membelai pipiku, namun kali ini disertai ancaman. “Jangan pernah kau ceritakan semua ini kepada ibumu, atau kau akan merasakan kematian!” Ancamnya dengan meletakkan sebilah pisau lipat di pipiku.

Aku menangis dan hanya bisa menuruti kemauannya. Ia membawaku ke kamar mandi, melucuti celanaku, dan meremas pantatku. “Tenang, ini takkan sakit,” ucapnya. Namun sesaat kemudian aku merasakan nyeri yang paling perih di bagian duburku. Aku menjerit, menangis, dan berontak. Ia marah, menarik rambutku, lalu membenturkan kepalaku ke bibir bak mandi. Mataku berkunang, tubuhku limbung, darah menetes dari kepalaku. Di buram mataku, kulihat lelaki itu berubah menjadi serigala, dengan mata yang mencorong dan liur yang menetes, bagai sedang haus akan sesuatu.

Saat kuterbangun, lelaki itu sudah tak ada lagi. Hanya ada ibu yang sedang membopongku. Saat ibu bertanya apa yang terjadi denganku, kujawab aku terpeleset, dan kepalaku membentur bak mandi.

Beberapa hari kemudian, lelaki itu tak pernah kelihatan lagi. Senyum mengembang di bibirku, namun tangis meluap di mata ibu. Lekaki yang ia cintai pergi meninggalkannya.

Kuah bakso yang kumakan terasa asin. Tak kusangka air mataku jatuh. Dan tiba-tiba aku teringat pesan ibu ketika aku sering menangis, “Jadi anak laki-laki itu tidak boleh cengeng!”

Purwokerto, 13 Februari 2013

Iklan

4 thoughts on “Sebuah Kenangan yang Semestinya Tak Kusimpan di Dalam Laci

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s