Surat dari Jauh

Hallo, Nayla. Bagaimana kabarmu? Aneh rasanya jika beberapa tahun tak saling sapa tiba-tiba kau mendapat surat dari seseorang yang mungkin sudah tak ada di ingatanmu. Ini aku, Bram, teman sekaligus orang yang pernah jatuh cinta kepadamu. Kita bertemu terakhir kali sepuluh tahun yang lalu saat mengantarkanmu ke bandara. Saat itu kau memutuskan pergi ke Singapura demi pendidikanmu. Selain rindu, ada beberapa alasan yang membuatku mengirimkan surat ini untukmu, salah satunya aku ingin menceritakan sebuah lukisan aneh yang membuat geger kampungku. Sebuah lukisan yang terkadang membuatku susah tidur. Boleh kuceritakan sekarang? Aku berjanji akan menceritakannya pelan-pelan. Begini ceritanya…

***

Kisah ini berawal di pertengahan tahun 2002, tepatnya satu minggu setelah kepergianmu ke Singapura. Saat itu kami, maksudku aku dan keluargaku, baru saja pindah ke Jakarta karena sebuah pekerjaan yang membuat ayahku harus menetap di sana. Ayah memilih untuk tinggal di sebuah rumah kontrakan di tengah perkampungan. Rumah kontrakan yang sepertinya sudah lama tak disinggahi. Terlihat dari halamannya yang ditumbuhi rumput yang tingginya hampir selututku, juga cat temboknya yang terlihat mengelupas dimana-mana.

“Yah, kenapa kita tinggal di sini?” Tanyaku.

“Ayah sudah mencari kontrakan kemana-mana, tapi tak juga menemukan. Jakarta sudah penuh,” jawabnya.

“Tapi, Yah..” Aku memandang kosong isi ruangan. Sepi, pengap, gelap. Yang ada hanyalah sebuah lukisan anak kecil yang menempel di dinding ruang tamu. Sepertinya anak kecil itu berusia belasan tahun, rambutnya hitam pendek, matanya bulat cokelat, bibirnya tak tersenyum. Seperti lukisan yang menampung kesedihan.

“Nanti kalau rumah ini sudah ditinggali bapak, tolong lukisan itu jangan dipindahkan ya. Biarkan lukisan itu tetap di ruang tamu,” kata pemilik kontrakan.

“Siapa anak kecil yang ada di lukisan itu, Pak?” Tanyaku. Ia diam, tak menjawab, hanya mengelus-elus rambutku, lalu pergi meninggalkanku.

“Nanti kau juga akan tahu,” ucapnya di ujung pintu.

Nayla, saat itu usiaku 17 tahun, usia di mana seseorang sedang dalam tahap peremajaan. Dan perlu kau tahu, seperti halnya anak kecil, rasa takut akan hal-hal tertentu juga masih ada di dalam diriku, salah satunya takut akan hal-hal mistis.

Awalnya biasa saja, namun keganjilan muncul setelah satu minggu kami menempati rumah itu. Saat itu aku dan adikku sedang menonton film. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Di rumah hanya ada aku, adikku, dan juga ibu yang sudah tidur. Ayah belum pulang. Kami berdua sengaja menonton film untuk menunggu ayah pulang, karena jika kami tidur, tak ada orang yang akan membukakan pintu untuknya.

Kurapatkan tubuhku sedekat mungkin dengan adik. Ada ketakutan yang menyelimuti perasaanku.

“Kakak takut?”

“Tidak,” jawabku pura-pura.

Lima belas menit berlalu. Film yang kami tonton tengah mempelihatkan adegan super hero yang sedang menyelamatkan seorang wanita dari tangan penculik. Di tengah keseriusan kami menonton, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.

“Itu pasti ayah. Cepat buka pintunya!” Perintahku kepada adik.

Ia pun meloncat dari sofa dan berlari ke arah pintu. Kunci bertemu lubang. Ditariknya ia daun pintu. Begitu pintu terbuka, ia tersentak kaget. Tak ada siapapun di luar. Hanya ada angin yang menampar dan dingin yang mengiris.

“Kak…” Masih dengan tangan yang memegang daun pintu, ia memanggilku. Secepat mungkin aku berlari ke arahnya.

“Di luar tidak ada siapa-siapa.” Ucapnya lirih penuh ketakutan.

Kupeluk tubuhnya, lalu kututup pintu rapat-rapat. Saat kubalikkan badan, lampu tiba-tiba padam.

Lukisan di ruang tamu bergetar, lalu jatuh. Kami berdua ketakutan, berteriak sekencang mungkin, lalu berlari ke arah kamar. Itulah malam ganjil pertama kami.

Sehari setelah kejadian itu, Nayla, adikku tiba-tiba demam. Badannya panas, tubuhnya menggigil, dan tatapan matanya kosong ke arah langit-langit kamar. Kau tahu, Nayla, malamnya, adikku tiba-tiba hilang. Ia tak ada di kamarnya. Kami sekeluarga panik dan mencoba mencarinya. Tiga hari penuh kami cari, bahkan sampai ke kampung sebelah. Namun tak ada hasilnya. Adikku tetap tak ditemukan. Yang kami temukan hanyalah sepasang sandal miliknya yang tergeletak di depan gudang. Duka menyelimuti keluarga kami. Ia benar-benar hilang.

Nayla, keberadaan lukisan itu menyimpan banyak misteri. Sempat kuberanggapan bahwa adikku menghilang gara-gara lukisan itu. Mungkin ia diculik untuk dijadikan teman anak kecil itu, pikirku.
Dua minggu setelah hilangnya adikku, kuputuskan untuk mencari tahu asal-usul lukisan itu. Sore itu aku bertemu dengan seorang pria penjaga warung dekat rumahku. Umurnya sekitar 40-an. Kutanya padanya apakah ia mengetahui tentang lukisan itu. Ia mengangguk, lalu mulai bercerita.

“Nak, lukisan itu sudah ada sejak bapak berumur 12 tahun. Anak kecil yang ada dilukisan itu ialah teman bapak, Ale namanya. Dan rumah yang kau tempati sekarang ialah rumah yang dibangun oleh ayahnya untuk dikontrakkan. Sehari setelah rumah itu dibangun, Ale dan beberapa temannya, termasuk bapak, masuk ke dalamnya dan bermain di sana. Namun naas, saat Ale menyandarkan tubuhnya ke tembok, ia tak sengaja menyentuh kabel listrik yang mengelupas. Tubuhnya tersetrum. Nyawanya meregang saat hendak dibawa ke rumah sakit. Semenjak kepergian Ale, ayahnya sering diam dan tak pernah keluar rumah. Sebagai bentuk kerinduannya kepada Ale, ia pun membuat lukisan wajah Ale dan menaruhnya di rumah kontrakan itu.

Kau tahu, Nak, rumah itu telah disinggahi banyak orang, terakhir 4 tahun yang lalu. Dan semuanya berakhir sama. Setiap penghuni rumah itu mempunyai anak umur belasan tahun, anak itu akan menghilang tiba-tiba entah ke mana.”

Aku menelan ludah. Tak ingin mendengarnya terlalu panjang, aku pun berpamit pulang. Di tengah jalan saat hendak sampai rumah, kulihat sosok anak kecil mirip Ale berdiri di seberang jalan tepat depan rumahku. Ia menatapku. Aku merinding, lalu bergegas lari menuju rumah. Saat kututup pintu dan kuintip dia dari jendela, sosoknya tak lagi kulihat. Ia tak ada di seberang jalan.
Malamnya, Nayla, aku benar-benar tak bisa tidur. Kubolak-balikkan tubuhku berulang kali, bahkan kubenamkan wajahku ke bantal agar bisa tidur. Saat kubalikkan badanku ke arah kanan, tepatnya menghadap pintu kamar, kulihat seberkas cahaya masuk lewat celah bawah pintu.

“Ah, ayah pasti lupa mematikan televisi lagi!”

Aku pun meloncat turun, dan saat kubuka pintu, tak ada apapun yang menyala di ruang tengah. Televisi mati, begitu pula lampu ruangan. Dan kau tahu, Nayla, saat kutoleh wajahku ke arah sofa, percaya atau tidak, kulihat Ale tengah duduk di sana. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku. Seperti tersihir, tubuhku tertarik olehnya, kakiku melangkah mendekatinya.

“Namaku Ale,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

“Ka.. Ka.. Kau anak kecil yang ada di lukisan itu?”

“Iya. Jangan takut, tenanglah. Aku tak akan menakutimu.”

Kusambut tangannya yang terulur.

“Maukah kau ikut denganku?” Tiba-tiba ia berdiri.

“Ke mana?”

“Ke gudang. Kau pasti rindu adikmu kan? Kan kupertemukan kau dengannya.”

Ia lalu meraih tanganku, membawaku ke gudang belakang rumah. Saat pintu gudang dibuka, entah nyata atau mimpi, kulihat hamparan taman lengkap dengan pohon, kolam, juga tempat bermain terhampar luas di hadapanku. Di sudut taman, di sebuah ayunan berwarna merah, kulihat adikku tengah bermain dengan teman sebayanya. Ia menoleh dan tersenyum ke arahku. Ingin kuhampiri dia, namun tangan Ale menahanku.

“Kau tak boleh ke sana.”

“Kenapa?”

“Kalian berbeda. Ia hitam, kau putih. Kau harus memilih salah satu.”

Aku terdiam. Kuarahkan pandanganku kembali ke arah adikku. Di kebimbangan hatiku, kuputuskan untuk memilih bertemu dengannya.

“Aku memilih hitam.”

“Kau yakin?”

“Iya.”

“Tatap mataku.” Ale mengulurkan tangannya, lalu menggenggam kedua tanganku.
Saat kutatap matanya, kurasakan mataku berkunang, tubuhku melemah, limbung, lalu jatuh. Di buram mataku, kulihat semua orang terdekatku perlahan menjauh, mengecil, lalu menghilang. Saat kutersadar, adikku terlihat nyata di hadapanku. Aku pun bangkit dan berlari ke arahnya, diikuti Ale yang berjalan di belakangku.

Sejak malam itu, aku tinggal bersama adikku, Ale, dan teman-temannya dalam waktu yang tak kuketahui. Dan orangtuaku takkan pernah menemukanku, selamanya.

***

Nayla, masihkah kau bertahan membaca suratku sampai di sini? Maaf jika suratku terlalu panjang. Sebelum kuakhiri suratku ini, ada satu rahasia yang harus kukatakan kepadamu. Bahwa di bawah gudang itu, tertanam jasadku, adikku, Ale, juga jasad anak-anak yang pernah tinggal di kontrakan itu. Dan jika kau ingin betemu denganku, datanglah ke kontrakkan itu. Kan kuajak kau ke sebuah taman yang mirip dengan taman di Eden.

Purwokerto, 4 Januari 2013.

Iklan

6 thoughts on “Surat dari Jauh

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s