Tapi Itu Tidak Dengan Kami

beda agama 

“Tuhan kita satu, cara berdoa kita saja yang berbeda; aku bersujud, kau berlutut.”

Malam itu..

“Ayaaah..” Teriak anakku saat aku pulang kerja.

“Kenapa baru pulang, Yah?” Tanyanya saat menghambur ke pelukanku.

“Ada kerjaan tambahan. Kamu kenapa belum tidur?”

“Belum ngantuk, Yah. Ini juga sekalian nunggu ayah pulang. Pingin tidur bareng ayah.”

“Iih, sudah besar kok masih minta tidur bareng ayah. Ya sudah, sebentar ya, ayah ganti baju dulu.”

Selang lima menit, aku pun sudah berubah penampilan, dari pakaian kantoran menjadi pakaian rumahan.

“Sini, Nak. Tadi di sekolah belajar apa saja?”

“Belajar Pancasila, Yah. Aku hafal loh sila-silanya.”

“Oh ya? Coba sebutkan sila pertama.”

“Ketuhanan Yang Maha Esa. Benar kan, Yah?”

“Pintar kamu, Nak.”

“Oh iya, Yah, tadi aku ditanya apa arti Ketuhanan Yang Maha Esa. Tapi aku nggak bisa jawab. Ayah tahu?”

“Oh, itu artinya apapun agamanya, Tuhan kita tetap satu.”

“Tapi, Yah, kalau memang Tuhan Maha Esa, kenapa ada manusia yang saling bertengkar antar agama?”

Aku terdiam. Tak bisa menjawab. Dan tiba-tiba ingatanku berpindah ke masa lalu, saat aku mempunyai seorang sahabat bernama Maria, anak seorang pemuka agama di gereja dekat rumah.

“Nak, pertanyaanmu terlalu tinggi untuk anak seusia kamu. Mungkin ayah akan ceritakan saja tentang perbedaan agama. Boleh kan?”

Ia pun mengangguk.

***

Sore itu, saat aku pulang kuliah, sengaja kuberkunjung ke rumah Bram–salah satu temanku–untuk meminjam buku catatan. Di tengah jalan, saat hendak menyebrang, kulihat seorang nenek tua tengah berdiri sendirian di tepi jalan, mungkin juga hendak menyebrang. Samar kulihat ia memanggil seorang pejalan kaki untuk membantunya menyebrang.

“Nak, boleh bantu nenek menyebrang?”

“Ke mana, Nek?”

“Ke masjid, nenek mau sholat ashar.”

“Hah? Maaf Nek, saya tidak bisa. Agama kita berbeda.”

Deg! Aku tersentak kaget. Pejalan kaki itu menolak memberi pertolongan karena beda agama. Aneh? Memang.

Tapi itu tidak dengan kami. Ya, kami, aku dan Maria. Satu hati beda agama. Dialah sahabatku. Aku mengenalnya saat aku kecopetan di tengah jalan, lalu ia memberiku uang untuk ongkos pulang. Kami pulang bersama naik bus. Dan percakapan di tengah perjalanan pun berlanjut hingga kami menjadi sahabat. Selama mengenalnya, kami tak jarang saling membantu. Ia pernah membantuku menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, juga pernah membuatkanku ketupat saat lebaran. Aku juga pernah membantunya menghias pohon saat Natal tiba, juga mengantarnya ke gereja saat ia tak ada kendaraan.

“Apapun tentang kebaikan, agama bukanlah penghalang,” katanya.

***

Kita berpindah ke satu tahun setelah perkenalan aku dan Maria. Hari itu aku merasa geram oleh berita-berita tentang konflik antar agama. Di suatu pagi, kudengar berita tentang segerombol ormas datang menghancurkan sebuah perkumpulan orang-orang sedang beribadah. Mereka merusak fasilitas peribadatan, bahkan memukuli orang-orangnya. Mereka memukuli sambil berteriak nama Tuhannya. Keji? Memang.

Tapi itu tidak dengan kami, aku dan Maria. Kami tak pernah saling beradu mulut karena masalah perbedaan agama. Pernah suatu hari ia mengamini doaku saat aku berdoa menggunakan nama Tuhanku. Ia pun pernah berdoa untukku menggunakan nama Tuhannya, dan aku mengamini. Karena bagi kami, apapun doanya, selama yang ia doakan baik, tak ada salahnya kita untuk mengamini.

***

“Sepertinya kamu sudah mulai ngantuk, Nak. Mau dilanjutkan atau disudahi?”

“Lanjutkan saja, Yah. Aku ingin mendengar kisah ia dan sahabatnya.”

“Oke, mungkin ini yang terakhir.”

Satu bulan yang lalu, berita mengejutkan muncul di televisi. Sebuah film yang entah dibuat oleh siapa, muncul untuk menghina nabi di salah satu agama. Dunia geram, protes muncul dimana-mana. Bahkan, ada sebuah demo yang berujung pada penghancuran sebuah gedung kedutaan dan menewaskan beberapa orang. Penghinaan dibalas dengan kemarahan. Penistaan dibalas dengan kemurkaan. Barbar? Memang.

Tapi itu tidak dengan kami, aku dan Maria. Kami tak pernah memperdebatkan tentang nabi di agama kami, tentang siapa Tuhan di agama kami, dan tentang bagaimana cara kami beribadah. Kami tak pernah memperdebatkan masalah itu. Darinya, aku tahu banyak hal tentang bagaimana Tuhannya menyuruh umat-Nya berbuat baik. Begitu juga dengannya, ia belajar banyak tentang agamaku, tentang caraku beribadah, tentang terpujinya nabiku, tentang kebaikan-kebaikan yang Tuhan tulis di dalam kitab-Nya.

***

“Tapi, Yah, kenapa ada orang-orang yang menghina agama lain?” Tanya anakku tiba-tiba.

“Mereka gagal dalam menghormati agama lain karena mereka tak memiliki cukup banyak cerita tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan agama lain. Mereka tak memiliki cukup banyak cerita tentang bagaimana cara menghormati agama lain.”

“Yah, kalau besar nanti, aku ingin seperti dua orang yang ayah ceritakan tadi.”

“Kamu harus seperti mereka, Nak.” Aku pun mengusap rambutnya. Tak lama kemudian ia tertidur. Di telinganya, kubisikkan sesuatu, “Nak, jika kau bertanya siapa dua orang yang ayah ceritakan tadi, itulah kami, orangtuamu, aku dan Maria.”

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s