Potongan Cerita di Bawah Bantal

 

Teruntuk kau, yang sekarang tengah berada di pelukan seseorang, bagaimana kabarmu di negri seberang sana? Semoga kau baik-baik saja seperti yang kuharapkan. Oh iya, maaf jika surat ini mengagetkanmu. Aku hanya ingin berbagi kisah saja. Berbagi kisah yang semestinya kau simpan rapi di bawah bantalmu, agar selalu kau ingat tatkala hendak tidur, bahkan mungkin akan sampai ke mimpimu. Ya, kisah-kisah kita, kisah-kisah yang semestinya tak kau lupa. Boleh kumulai?

***

02 Februari 2010. Entah kebetulan atau disengaja oleh Tuhan, aku bertemu denganmu di sebuah acara penghargaan lomba menulis se-Jawa Tengah. Aku ingat betul saat itu kau menjadi juara 2, sedangkan aku hanya seorang fotografer, meliput acara untuk kuposting di blogku. Kau tahu, saat kau maju untuk menerima penghargaan, saat aku memotretmu, rasa senang berlesatan di tubuhku. Kau terlihat cantik, anggun, manis. Mungkin saat kau diciptakan, Tuhan begitu sedang bergembira, pikirku saat itu.

Dua jam berlalu. Sesi penerimaan penghargaan pun selesai. Aku yang saat itu tak ingin kehilangan momen berbincang-bincang denganmu, mencoba mengejarmu saat kau berjalan ke arah pintu keluar.

“Mbak, boleh ngobrol-ngobrol sebentar?”

Saat itu pun kita berkenalan. Kusebut namaku, Imam. Kau, Arina. Kita pun hanyut dalam obrolan ringan. Hingga akhirnya rasa kantuk pun datang.

“Aku ngantuk. Ingin pulang,” katamu, “kalau ingin ngobrol-ngobrol lagi, kau boleh menghubungi nomorku. Ini.” Kau pun menyerahkan secarik kartu nama, bertuliskan namamu, nomor handphone-mu, bahkan alamat rumahmu. Iya, alamat rumahmu. Dan kutahu, ternyata rumahmu tak jauh dari kontrakanku, sekitar 300 meter.

Hari berganti hari, dan akhirnya kita menuju hubungan yang lebih serius. Kita berpacaran, tepat di malam valentine. Aku masih ingat, saat itu kau begitu malu-malu saat hendak menjawab pertanyaanku. “Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Kau berpura-pura tak mendengarku, bahkan kau alihkan pandanganmu menuju ke depan, tak melihatku yang ada di sampingmu. Hening menyelimuti kita selama beberapa menit. Lalu kuberanikan untuk bertanya sekali lagi. “Bagaimana?”

“Kau serius?”

“Iya.” Jawabku singkat.

“Akan kujawab jika kau mau menutup matamu.”

Aku pun menutup mataku. Kurasakan ada hembusan di sekitar telingaku. Lalu sebuah sentuhan—mungkin bibir—mendara di pipiku.

“Aku juga mencintaimu.” Ucapmu lirih. Kita pun resmi berpacaran.

Kau masih ingat kan tentang kenangan itu? Semoga masih.

***

Play.

I remember

All the things that we shared

And the promise we made

Just you and I

Pause.

Sengaja kuputar lagu itu saat menulis surat ini, karena kita akan berpindah ke dua bulan setelah kita jadian. Waktu itu kita baru saja pulang dari sebuah toko buku. Dan kau mengajakku berkunjung ke rumahmu.

“Mampir ke rumahku dulu ya. Kebetulan bapak ibuku sedang di luar kota.”

Motor tuaku pun melaju ke rumahku. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya kita bercanda, bahkan merayu yang entah siapa dulu yang memulainya.

“Kau tahu, seistimewanya daerah Yogyakarta, masih jaut istimewa kamu di hati aku,” ucapku merayu. Kau pun tertawa, lalu mencubitku. “Dasar gombal.”

Kita pun sampai di rumahmu. Kuletakkan tubuhku di sofa tengah.

“Mau makan nggak? Kubuatkan mie rebus ya,” tanyamu. Aku pun mengangguk.

Kau lalu menuju ke dapur, sedangkan aku memainkan remote tv, mencari acara yang bagus.

Beberapa menit kemudian kau datang dengan membawa semangkuk mie instan, dan dua gelas kopi. Percakapan pun larut hingga cangkir menyisakan ampas. Lalu kita berpindah menuju balkon, duduk berdua menatap bintang.

“Lihat ada bintang jatuh,” teriakmu kencang, “kita harus mengucapkan permohonan.

Kemudia mita menelungkupkan kedua tangan, memejamkan mata, lalu mengucap doa. Kau percaya bahwa bedoa saat bintang jatuh, Tuhan pasti akan mengabulkan.

“Apa permintaanmu tadi?”

“Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku nanti.” Kau pun tersenyum.

Malam itu juga kau menceritakan tentang berbagai angan kita, tentang hubugan kita, tentang masa depan kita. Kita juga membuat sebuah janji, yang kau namakan setia. Yang kau harapkan agar hubungan kita tak seperti kisah cinta para artis, yang kandas di tengah perjalanan.

Kau masih ingat juga kan tentang cerita itu?

***

Maaf jika surat ini terlalu panjang. Karena seperti yang sudah kejelaskan di awal, aku hanya ingin berbagi kenangan yang semestinya kau simpan rapi di bawah bantalmu, agar selalu kau ingan tatkala hendak tidur, bahkan jika mungkin, kenangan ini akan mampir ke mimpimu.

Oke, kulanjutkan ceritaku lagi.

Hari berganti bulan, waktu pun larut bersama arusnya. Hingga akhirnya kita sampai di bulan Desember. Dan kisah ini mirip dengan penggalan lirik terakhir di lagu Mocca – I Remember.

Yes I remember

When we dancing in the rain in that December

And the way you smile at me

Yes I remember

Lagu itu mengingatkanku tentang kisah kita di awal bulan Desember. Mungkin kau masih ingat, karena saat itu bertepatan dengan ulang tahunmu. Hari itu kuajak kau bertemu di taman kota. Dan sudah kurencakan aku akan datang setelah kau datang terlebih dahulu.

“Sayang, di mana? Kok belum datang?”

“Sebentar, ini masih di jalan.”

Sesampainya di taman kota, kulihat kau tengan duduk di bangku kayu berwarna coklat. Pelan kuhampiri kau dari belakang. Dan seketika kututup matamu dari belakang.

“Siapa ini?” Ucapmu sambil meraih telapak tanganku.

“Happy birthday, Sayang.” Aku pun memberimu sebuah hadiah, lalu memelukmu.

Dan kau ingat, saat aku memelukmu, Tuhan tiba-tiba meneteskan air dari langit. Semula satu, dua, tiga, lalu banyak, membentuk rintik-rintik hujan. Dan kau, layaknya pemain film India, langsung melepas pelukanku, berlari ke tengah taman, lalu menari bersama hujan. kau pun tersenyum senang. Dan kurasa, saat itu surga tengah berada di sekeliling kita.

Kau, masihkah mencintai hujan seperti saat kau masih dalam pelukanku? Semoga.

***

Ah, tak kusangka suratku sudah sepanjang ini. Kau pasti lelah kan membaca suratku ini? Baiklah. Sebelum kuakhiri suratku ini, maukah kau menyanyikan lagu I Remember milik Mocca saat kita bertemu nanti? Kuharap kau mau.

Imam

Sepanjang perjalanan Pemalang – Purwokerto, 4 September 2012

#30HariLagukuBercerita Mocca – I Remember

Iklan

2 thoughts on “Potongan Cerita di Bawah Bantal

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s