Wanita Mungil Dalam Kepala

Berusaha melupakanmu, sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tak pernah kukenal.” – Anonim

Senin 3 Januari kucoba menyingkirkan

Semua benda kenangan yang kudapat darimu

Sore itu, di perjalanan pulang dari sebuah bank tempatku bekerja, dari balik jendela kereta kusaksikan kota, penghuni, dan segala aktifitasnya berjalan melawan arah. Semacam ingin menjauh berlalu begitu saja. Di dalam kereta ekonomi dengan bangku-bangku penuh coretan anak sekolah, aku seperti terlempar ke masa lalu saat melihat kotak masuk ponselku. Ya, kotak masuk itu, di sana masih tersimpan belasan pesan darimu. Belasan bahkan puluhan pesan saat kita masih bersama. Kereta ini seakan menghantarkanku kembali ke beberapa minggu yang lalu menjelang natal penuh damai. Di malam itu, kau memutuskan untuk menjauh dariku, berhenti mencintaiku dengan alasan yang tak masuk akal.

Sayang, sepertinya hubungan kita berhenti sampai di sini. Ibu tak mengijinkan. Apalagi tahun depan aku harus ke Australia, melanjutkan pendidikanku. Kau pasti tahu kan bagaimana hubungan kita nanti?

Kau tahu, saat kau mengirim pesan itu, hatiku seperti tertancap puluhan pecahan kaca, menyayat, lalu membekas. Saat itu tubuhku melemas, aku terjatuh bersandar dinding, menggenggam erat ponsel, dan membayangkan itu hanya mimpi.

Suara rem beradu dengan roda dan rel tiba-tiba mengagetkanku, lalu menghapus ingatanku tentangmu. Ah, tak disangka aku sudah sampai stasiun. Jam menunjukkan pukul delapan malam, aku bergegas pulang ke kontrakan. Sesampainya di kontrakan, saat kubuka kamarku yang hanya berukuran 3×4, lagi-lagi kau kembali hadir di ingatanku. Ya, kau hadir lewat benda-benda yang pernah kau berikan dulu. Jam weker warna hitam, buku-buku fiksi dari penulis favoritku, bahkan dinding berwarna biru laut yang dulu pernah kita cat bersama.

Kucoba untuk mengabaikan ingatanmu dengan tiduran di ranjang kecilku, berharap aku tertidur dan ketika bangun ingatanku tentangmu menghilang seketika. Di tengah lamunanku tentang cara melupakanmu, tak sengaja mataku tertuju ke arah foto berbingkai di atas meja, fotoku bersamamu di depan Lawang Sewu. Foto yang di bawahnya bertuliskan namaku dan namamu, Bram dan Karlina. Lama kuperhatikan, tiba-tiba foto itu bergetar, bergerak, lalu jatuh. Segumpal asap keluar, lalu menjelma menjadi sesosok makhluk tembus mirip denganku. Aku kaget, terjatuh, lalu bergerak ke arah pintu, mencoba untuk keluar.

“Ka.. Ka.. Kau siapa?” Tanyaku penuh gagap.

“Tenang saja, ini aku, dirimu dalam foto itu.”

“Ka.. Ka.. Kau ini aku?” Masih dalam keadaaan tak percaya, kucoba untuk mengucek mataku, berharap ini hanya mimpi. Namun ini kenyataan, ia tampak nyata di hadapanku.

“Tenang, jangan takut. Aku takkan terlihat oleh siapapun, kecuali kamu. Aku di sini hanya akan membantumu untuk melupakannya.”

Lalu ia mendekatiku, meraih tanganku, dan mengajakku untuk kembali ke ranjang.

“Duduklah, jangan takut seperti itu.”

Aku mencoba mengatur nafasku, meraih segelas air putih, lalu meminumnya.

“Benar kau akan membantuku? Dengan cara apa kau akan membantuku untuk melupakannya?”

“Oke, mula-mula kau harus menyingkirkan semua benda-benda yang ia berikan.”

“Tapi..”

“Tapi apa? Kau mau aku bantu atau aku pergi?”

Baiklah, baiklah.”

Kemudian kita mulai menyingkirkan benda-benda yang pernah ia beri. Mulai dari foto, baju, bahkan jam weker.

Yang ini juga?” Sosok lain diriku tiba-tiba bertanya.

Jangan. Walau itu pemberiannya, tapi itu buku favoritku. Jangan dibuang. Susah mencarinya.”

Oke, oke, baiklah. Kalau yang ini?” tangannya memegang selembar surat kecil. Selembar surat yang pernah ia tuliskan di hari ulang tahunku.

Yang itu buang saja. Toh kalau dibaca hanya akan menambah ingatanku saja.”

Oke.”

Dua jam berlalu. Kini kamarku bersih dari segala benda-benda yang pernah kau beri. Dan kau, perlahan menghilang dari ingatanku.

***

Selasa kukumpulkan semua teman-temanku

Dan kubuat hari ini yang terindah bagiku

Bagaimana keadaanmu hari ini setelah kemarin membereskan benda-benda darinya? Baik kah?” Sosok lain diriku bertanya.

Lumayan.”

Maukah kubuatkan kopi? Kita minum kopi sebentar sembari menonton dvd.”

Bolehlah. Tapi jangan kebanyakan gula, tak baik untuk kesehatan.”

Kemudian ia pergi ke dapur, sementara aku mengambil handuk, lalu pergi ke kamar mandi. Sebuah lagu milik Abdul and The Coffee Theory kualunkan sembari menyirami tubuh dengan air. Begitulah, hingga kuulangi lagu itu dua kali. Kegelisahan kembali menghadiri ingatanku. Kau, iya kau, ternyata dengan menyingkirkan benda-benda darimu tak mampu untuk melupakanmu dengan cepat. Kau kembali merasuki pikiranku.

Bram, jangan lama-lama. Nanti kopinya dingin.”

Iya.” Bergegas kuambil handuk, menyeka tubuh dan rambutku, lalu berjalan menuju dapur, mengambil kopi, dan meminumnya.

Kau kenapa tampak gelisah seperti itu?”

Bram,” begitu kumemanggil sosok lain diriku, seperti ia memanggil namaku, “aku tak bisa melupakannnya begitu saja. Ia masih saja menghantuiku. Kau tahu kan, cinta pertama tak semudah itu dilupakan?”

Lalu?”

Maukah kau membantuku lagi?”

Membantu? Sebentar,” ia kemudian berhenti sejenak, mungkin sedang memikirkan sebuah cara, “kau masih menyimpan daging yang kau beli semalam kan? Ajak saja teman-temanku ke sini. Ajak mereka untuk berpesta daging panggang. Kau tinggal pergi ke mini market untuk membeli minuman bersoda dan sedikit makanan ringan. Mudah kan?”

Tapi kau? Kau nanti di mana?”

Aku? Kan sudah kubilang, aku tak akan terlihat oleh siapapun, kecuali kamu.”

Oke, kau memang cerdas.”

Bergegas kuambil telepon, menghubungi teman-temanku, lalu pergi ke minimarket untuk membeli sedikit makanan ringan.

Malamnya, sebuah besi pemanggang daging telah kuletakkan di atas perapian. Kita menuju pesta kecil-kecilan. Sebuah api kecil sebagai penghangat dan bulan sabit sebagai penerang. Di sini kau dileburkan bersama bunyi-bunyi musik beat, asap rokok, bau daging terpanggang, dan malam yang dingin. Ya, ingatanku tentangmu menyatu bersama mereka, dan kau mulai menyusut meninggalkan ingatanku.

***

Rabu aku menunggu kabar dari dirimu

Kamisku coba mencarimu

Namun kau entah dimana

Waktu seperti gurun pasir luas tanpa batas, sedangkan aku hanyalah pengembara tanpa bekal, tanpa teman. Sendirian, berjalan ke masa lalu. Ingin kutemui dirimu, mencoba merayumu untuk tidak berpisah, lalu berjalan berdua ke masa depan. Aku ingin menggandeng tanganmu menuju taman tengah kota, mengajakmu duduk di bangku taman, lalu membiarkan cerita mengalir begitu saja. Cerita tentang masa lalu kita, tentang hari ini, dan tentang apa yang ingin kita gapai di masa depan.

Kucoba untuk merebahkan tubuhku di ranjang, memandangi langit-langit kamar berwarna putih. Di saat seperti itu kuberharap kau tiba-tiba mengentuk pintu kamarku, dan saat kubuka, kau langsung menghambur ke pelukanku. Meminta maaf karena telah meninggalkanku. Kulirik ke arah ponsel, berharap ada pesan darimu yang mengabarkan kau akan pulang minggu depan. Satu dua jam berlalu. Namun ponselku tetap tak berdering. Kau tetap tak memberiku kabar. Sedangkan malam, menunjukkan pukul 12, aku pun mematikan lampu kamar, lalu memejam. Tidur.

Esoknya, kucoba untuk menanyakan nomor handphone-mu ke teman-teman dekatmu. Satu jam mencari, namun tak ada yang mempunyai. Tak ingin menyerah begitu saja, aku pun mencoba membuka facebook, sebuah jejaring sosial yang pertama kali menemukan kita. Kuketik namamu di kotak pencari, namun tak kutemukan juga. Mungkin akun facebook-mu sudah dinon-aktifkan, pikirku saat itu. Atau Tuhan memang sudah menakdirkan kita takkan bertemu kembali? Entahlah. Yang jelas membuatmu kembali ke pelukan itu sulit, sesulit aku melupakanmu. Dan kau, tetaplah seorang wanita mungil dalam kepalaku.

***

Jum’at aku putuskan

Ini hari terakhirku

Bagiku untuk meratapi kamu

Hari itu, kau akhirnya pulang walau tanpa memberitahuku sebelumnya. Kau pulang hanya untuk menemuiku setelah seseorang memberikan kabar untukmu. Namun sesuatu hal mengejutkanmu saat kau tengah membaca koran di bandara internasional.

Bram (29), seorang karyawan bank ditemukan gantung diri di kamar kontrakannya. Dari surat yang ditemukan di tangannya, diduga ia tewas karena masalah percintaan.

Pemalang, September 2012

#30HariLagukuBercerita

Abdul and The Coffee Theory – Proses Melupakanmu

Iklan

2 thoughts on “Wanita Mungil Dalam Kepala

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s