Aku Mencintai Ibu, Tapi Tidak Hari Itu

Aku mencintai ibu, tapi tidak hari itu..

Sore itu kulihat ayah tengah sendirian di teras rumah. Pandangannya kosong menghadap jalan raya sambil sesekali menghisap rokok dan mengibaskan kipas anyaman. Pelan kuhampiri dia. Namun setelah sampai pintu, kuurungkan niatku untuk menghampirinya. Sepertinya ia tidak ingin diganggu, ucapku dalam hati. Saat kubalikkan badanku untuk kembali ke kamar, tiba-tiba Ayah bersuara. “Eh, Alfian. Sini, Nak, duduk.”

Kudekati Ayah, lalu duduk dipangkuannya.

Sudah mandi, Nak?”

Belum, Yah. Nanti lah, nunggu ayah saja. Alfian pingin dimandiin sama ayah.”

Ih, sudah gede kok minta dimandiin.” Ayah kemudian mencubitku, lalu tertawa kecil.

Yah, ibu di mana? Kok belum pulang?”

Ibumu masih kerja, Nak. Paling sebentar lagi pulang.”

Tapi nanti ibu bawa mainan robot lagi kan, Yah?”

Pasti dong. Eh mandi dulu yuk, nanti ibumu marah loh.”

Kemudian ayah berdiri, lalu menggendongku ke kamar mandi.

Kini aku sudah berada di kamar mandi. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhku saat Ayah mengguyur air ke tubuhku.

Dingin, Yah,” ucapku sambil berjingkrak-jingkrak, berharap dingin menjauh dariku.

Lima belas menit sudah aku bermain dengan air, sabun, dan shampoo. Lalu ayah mengangkatku, mengambil handuk, lalu membersihkan sisa-sisa air yang menempel di tubuhku.

Nah, sekarang anak ayah sudah ganteng,” ucapnya usai menyisir rambutku.

Kudengar suara pintu gerbang dibuka. “Itu pasti Ibumu. Sana salaman.”

Aku pun berlari keluar, memeluk Ibu, lalu menyalaminya. Kulihat ibu memberikan sebuah plastik hitam besar kepadaku. Pasti itu mainan robot lagi, ucapku penuh senyum.

Malamnya, kami bertiga duduk bersama di ruang makan, menikmati makan malam yang baru saja dibeli ibu. Namun nafsu makanku hilang, saat kuketahui apa yang ada di dalam plastik hitam tadi bukanlah robot, namun boneka. Dahiku kukerutkan. Kalian tahu kan, hampir sebagian anak laki-laki tidak menyukai boneka, termasuk aku.

Kulipatkan tanganku di atas meja, kututup mulutku, berharap ibu mengerti apa maksudku.

Kenapa kamu tidak mau makan, Nak?” Tanya Ibu.

Aku diam. Tak menjawab.

Nak, kamu kenapa?”

Ibu jahat. Kenapa Alfian malah dibelikan boneka? Alfian tidak suka boneka!”

Oh, jadi gara-gara itu kamu ngambek? Ya sudah nanti Ibu belikan robot mainan buat kamu. Sekarang makan ya.”

Kugelengkan kepalaku.

Ayo makan!”

Nggak mau!!” Teriakku keras.

Cepetan makan!!” Tiba-tiba muka ibu memerah. Suaranya mengeras. Ia mendekatiku. Lalu menamparku.

Cepetan makan!!” Gertaknya penuh marah. Lalu ia mengambil sesendok nasi dan memasukkannya ke dalam mulutku. Aku menahannya, namun ia memukulku. Aku pun terpaksa menelannya. Berkali-kali ia menyuapiku dengan penuh paksaan, hingga akhirnya ia berhenti saat aku muntah.

Kenapa dimuntahin??” Ibu menggebrak meja. Lalu memukulku dengan piring. Nasi berjatuhan di lantai dan bajuku. Telinga dan pipiku sobek. Darah mengucur deras. Aku menangis penuh sesenggukan. Lalu Ayah memelukku, mengendongku ke arah kamarnya.

Bilang ke anakmu, jangan suka bikin orangtua naik darah!” Teriak ibu. Tangisku semakin menjadi.

Itulah awal pertama kali aku membenci ibu.

***

Aku mencintai ibu, tapi tidak hari itu..

Dua bulan berlalu. Luka di telinga dan pipiku mulai membaik. Sore itu, ibu mengajakku ke rumah nenek. Kami pergi hanya berdua, tanpa Ayah. Seminggu yang lalu Ayah harus kembali ke Amerika, bekerja di kapal pesiar.

Tepat pukul tujuh malam, kami sampai di rumah nenek.

Eh, cucuku datang. Ada apa, Nak? Kok tumben ke sini?”

Nggak tahu, Nek. Ibu yang mengajak Alfian ke sini.”

Ada apa, Ta?” Tanya nenek ke Ibu.

Gini, Mak,” lalu ibu menurunkanku dari gendongannya. Menggandeng tangan nenek menuju ruang tamu, dan meninggalkanku sendirian di depan rumah. “Ita sudah tidak tahan lagi mengasuh Alfian. Ita malu punya anak seperti Alfian. Ita pengen Emak yang mengasuhnya.”

Tapi, Ta..”

Sudah lah, Mak, Ita sudah tidak tahan lagi. Apa kata orang-orang nanti kalau Ita punya anak seperti Alfian?”

Aku terdiam di luar, tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang aku tahu, beberapa jam kemudian ibu meninggalkanku di rumah nenek, dan tidak kembali lagi.

Nek, kenapa Ibu tidak kembali lagi?” Tanyaku suatu hari.

Ibumu sedang bekerja jauh, Nak. Sama seperti ayahmu. Makanya kamu ditinggal di rumah nenek.”

Aku hanya menganguk, tak tahu Nenek berbohong atau tidak, tapi sepertinya ia berbohong.

Beberapa bulan berlalu, hingga suatu hari aku merindukan ibu.

Nek, Alfian kangen ibu. Boleh nggak Alfian ketemu ibu?”

Nggak boleh, Nak. Ibumu masih sibuk, jangan diganggu.”

Tapi Alfian kangen, Nek. Alfian pengen ketemu.”

Ya sudah, nanti suruh Om Fahmi ngantar kamu, ya.”

Asiiikk!!” Teriakku penuh girang.

Malamnya Om Fahmi mengantarku ke rumah ibu. Rasa senang tak henti-hentinya berhamburan di sepanjang jalan.

Ibu pasti senang kan, Om, liat Alfian pulang?”

Pasti senang, Nak. Ibu kan sayang sekali ke kamu. Kamu juga sayang kan ke ibumu?”

Iya dong, Om. Nih Alfian bawa oleh-oleh buat ibu.”

Lalu Om Fahmi tersenyum ke arahku.

Anak pintar,” katanya sembari mengusap rambutku.

Tak terasa kita sudah sampai. Aku pun langsung meloncat menghambur.

Hati-hati. Nanti jatuh.”

Iya, Om.”

Kulihat ibu tengah berdiri di muka pintu. Segera aku berteriak, “Ibu.. Ibu.. Aku pulang!!”

Namun kulihat tak ada raut bahagia di wajah ibu. Dan tiba-tiba ibu berdiri.

Anak setan! Ngapain kamu pulang?! Pergi sana! Dasar anak jahanam!!” Teriak ibu sambil melempariku dengan sepatu. Kayu bertemu kulit. Kepalaku berdarah. Aku sesenggukan menuju mobil.

Fahmi, bilang ke Alfian, jangan berani-berani ke sini lagi!”

Sepanjang jalan, tangis tak henti-hentinya meluap dari pipiku. Dan aku kembali membenci ibu.

***

Aku mencintai ibu, tapi tidak hari itu..

Hari berganti hari, tak terasa waktu berjalan seperti terseret arusnya. Hingga suatu hari ibu menelponku, mengabarkan bahwa ayah meninggal saat kapalnya diterjang badai. Ibu menyuruhku pulang untuk menemaninya, dengan syarat aku harus patuh dengannya. Aku pun menyetujui.

Ada yang berbeda dengan ibu setelah sekian lama berpisah. Badannya kurus, dan kini ia mulai merokok. Bahkan setelah sepeninggalan ayah, ibu terlihat sering mengajak seorang laki-laki bermain ke rumah.

“Jangan bilang-bilang sama nenek. Awas kamu kalau berani!”

Aku mengangguk. Kemudian ia memberiku uang saat laki-laki itu datang.

“Sana main dulu. Dan jangan pulang sebelum jam lima sore.”

Bergegas aku berlari keluar. Bermain ke lapangan bersama anak-anak tetangga. Petak umpet, kelereng, dan bola. Uang pemberian ibu kupakai untuk bermain playstation, sisanya kupakai untuk membeli jajan.

Tak terasa cahaya mentari berubah menjadi kuning keemasan. Jam menunjukkan pukul lima sore. Waktunya aku pulang. Kulihat rumah sepi. Hanya kamar ibu yang pintunya sedikit terbuka. Mungkin ibu sedang tidur, pikirku saat itu.

Kubuka pintu kamar ibu pelan. Aku mematung penuh kaku. Kulihat pakaian dalam berserakan di lantai, sprei tak beraturan, bau amis dan peluh yang menyengat, dan sepasang manusia tak berbusana di atas ranjang. Mataku memerah. Bibirku bergetar hebat. Tanganku mengepal kuat.

Bangsat!” Teriakku dalam hati.

***

Aku mencintai ibu, tapi tidak hari itu..

Dua hari berlalu, dan aku enggan berbicara dengan ibu. Aku terdiam di kamarku sembari melihat foto ayah. Ya, aku merindukan ayah. Orang yang selalu membelaku saat ibu marah, orang yang selalu melindungiku saat ibu hendak memukulku. Saat hendak mencium foto ayah, aku dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamarku.

Alfian, ini ibu. Buka, Nak. Ibu minta maaf.”

Kuseka air mataku, berdiri, dan menyimpan foto ayah di bawah bantal. Kubuka pintu pelan.

Maafin ibu ya, Nak. Jangan marah gitu dong. Sekarang makan yuk! Ibu sudah siapin makanan kesukaanmu.”

Aku terdiam, tak menjawab. Dengan agak malas, kulangkahkan kakiku menuju ruang makan.

Keheningan meyelimuti sepanjangan kami makan. Tak ada suara, tak ada percakapan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memulai percakapan usai meminum segelas air putih.

Bu..”

Iya, Nak.”

Alfian boleh tanya sesuatu, nggak?”

Apa?”

Kenapa aku berbeda dengan ayah? Kenapa kami tidak ada persamaan fisik layaknya orangtua dan anak seperti kebanyakan orang?” Ibu tersendak ketika mendengar pertanyaanku, pertanyaan yang sejak kecil menghantuiku.

Nak, maaf jika sebelumnya ibu tidak bercerita denganmu. Ayahmu yang meninggal bukanlah ayahmu yang sebenarnya. Dia hanyalah ayah tirimu. Dia yang menolong ibu dari ketidakbertanggungjawaban pria lain. Kamu kenal kan laki-laki yang sering main ke sini? Dialah ayahmu yang sebenarnya. Kamu lahir saat ibu masih kuliah, saat usia pacaran kami genap satu tahun.”

Mendengar jawaban ibu, mukaku memerah penuh marah. Tanganku mengepal kuat sendok dan garpu. Tanpa sadar kulemparkan piring di hadapanku ke wajah ibu. Nasi berceceran. Piring pecah dan jatuh berkeping-keping. Saat itulah puncak kebencianku terhadap ibu.

Pemalang, Agustus 2012

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s