Menunggu Lampu Hijau

Gambar

19.30

Say, lg dmna? Cepetan ya. Aku tunggu sekarang di dekat Jam Gadang.

Kukirim pesan itu ke pacarku. Hari itu, 7 November 2002, ialah hari ulangtahunnya yang ke-21. Sengaja kuajak dia untuk bertemu di Menara Jam Gadang. Butuh suasana yang berbeda, ucapku dalam hati.

Jarak sepuluh meter dari Jam Gadang, kujatuhkan tubuhku di kursi merah bawah pohon mangga. Sembari menunggu ia datang, kubuka lagi kado yang akan kuberikan untuknya. “Semoga ia suka.”

Beberapa menit kemudian ia datang. Dengan baju merah mawar pemberianku beberapa bulan yang lalu, ia pun menghampiriku.

Sayaaangg..” Teriaknya sambil berlari.

Akhirnya datang juga. Duduklah, Sayang.”

Tumben aku diajak ke sini. Ada apa?”

Tahu kan ini hari ulang tahunmu? Ini ada sedikit hadiah dariku. Selamat ulang tahun ya!” Kuserahkan sebuah kotak kecil berbungkus kertas kado warna merah.

Makasih, Sayang. Ini isinya apa?”

Buka saja, Say.” Pelan ia pun membuka kotak kecil itu.

Aaaakk.. makasih, Say.” Teriaknya saat mengetahui ada dua buah boneka beruang sedang memegang bantal berbentuk hati, satu berwarna putih, dan satu berwarna cokelat.

Sekali lagi terima kasih, ya. Ini boneka favoritku.” Ia pun menjatuhkan pelukan ke tubuhku lalu menciumku.

Iya, Sayang. Sengaja aku berikan kado tersebut agar kita saling mengerti, bahwa cinta terlahir dari perbedaan. Seperti aku dan kau, Islam-Kristen, Jawa-Minang, putih dan hitam. Dua dunia satu hati. Saling mencinta dan melengkapi.”

Kita pun saling berpelukan, menjadi sepasang insan yang sedang berada dalam dunia lem.

Say..”

Iya, kenapa?”

Ngomong-ngomong soal cinta, mau nggak kamu cerita soal kisah percintaan? Kan kamu jago bikin cerita.”

Beneran? Baiklah. Akan kuceritakan sedikit kisah cinta. Dengerin baik-baik ya.”

***

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang remaja penjual koran di lampu merah. Rambutnya keriting, berhidung mancung, dan berkulit hitam karena terik dan asap kendaraan. Setiap siang, usai pulang kerja, ia langsung berganti pakaian dan mengambil koran, lalu menjajakannya di lampu merah dekat pasar.

Siang itu, entah kebetulan atau disengaja oleh Tuhan, saat ia sedang menjajakan korannya, ia bertemu sesosok perempuan seumuran dengannya. Berambut panjang, berkulit putih, dan ada tahi lalat di dagunya. Rasa cinta berlesatan di sekujur tubuhnya saat ia menghampiri perempuan itu untuk menawarkan korannya.

Koran, Mbak?” Ucapnya terbata-bata.

Berapa Mas satunya?”

Li.. Li.. lima ribu, Mbak.”

Kemudian perempuan itu mengeluarkan selembar lima ribuan, lalu membayarnya, sebelum akhirnya lampu hijau menyala, meninggalkan lelaki penjual koran di lampu merah.

Lelaki itu kembali ke pinggir jalan, menunggu lampu hijau selesai menyala. Di dalam hatinya, ia pun bergumam, “semoga kelak perempuan tadi bisa menjadi ibu dari anak-anakku.” Katanya penuh senyum.

Lalu? Teruskan, Sayang. Aku ingin tahu cerita selanjutnya,” ucap pacarku. Ia semakin merpatkan pelukannya. Sepertinya ia menyukai ceritaku.

Satu minggu setelah pertemuan pertamanya dengan perempuan itu, tak seperti biasanya ia melihat perempuan tersebut melewati lampu merah tempat ia menjual koran. Ya, setiap hari perempuan tersebut selalu melewati lampu merah itu.

Mungkinkah ia bosan? Atau barangkali ia merasa selalu diperhatikan olehku lalu ia memilih jalan lain? Ah, entahlah.” Ucapnya penuh curiga.

Beberapa menit kemudian, ia tersenyum saat melihat perempuan tersebut duduk di halte bus seberang jalan. Ia pun bergegas menghampirinya.

Mbak, masih ingat aku nggak? Ini saya yang dulu pernah menjual koran ke Mbak.”

Oh, Mas yang waktu itu? Iya, Mas, saya masih ingat.”

Kenalkan, saya Bagas.”

Saya Intan.”

Sebuah percakapan ringan pun mereka mulai. Mempertanyakan umur, pekerjaan, hingga alamat rumahnya. Tak ingin permbicaraan sebatas itu saja, ia pun memberanikan diri untuk meminta nomor handphone-nya. Entah mimpi atau tidak, dengan mudahnya ia mendapatkan nomor handphone perempuan tersebut. “Tuhan memang Maha Baik,” ucapnya dalam hati.

Hari berganti hari, waktu pun seperti terseret oleh arusnya. Mereka pun mulai akrab satu sama lain. Mulai dari saling kirim pesan, mengingatkan untuk makan, bahkan sampai mengucapkan kata-kata romantis sebelum tidur. Hingga akhirnya, cintalah yang menyatukan mereka. Ya, cinta memang seperti lem, selalu menyatukan sesuatu yang dimabuk olehnya.

***

Jam Gadang menunjukkan pukul sepuluh malam. Kulihat ia terlelap di bahuku. Mungkin ceritaku seperti serbuk penidur baginya. Kubopong dia menuju mobil, mengantarnya pulang.

Di sepanjang jalan menuju pulang, di tengah tidur lelapnya, kubisikkan sesuatu di telinganya, “Sayangku, jika suatu saat kau bertanya siapa lelaki yang berada di ceritaku tadi, akulah lelaki penjual koran itu, yang selalu tersenyum saat melihatmu menunggu lampu hijau menyala, yang berjanji akan menjadi ayah dari anak-anakmu suatu hari nanti.”

#15HariNgeblogFF2

Iklan

4 thoughts on “Menunggu Lampu Hijau

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s