Ia, Rembulan yang Tak Ingin Kehilangan Bintang

 

Semula puzzle kehidupanku hampir tersusun rapi, sampai akhirnya sebuah masalah datang, lalu menghancurkannya.

Malam itu, sengaja kukunjungi café favoritku. Café yang sudah menjadi tempat khususku untuk menghilangkan kebosanan. Kujatuhkan badanku di sofa paling belakang, tempat duduk yang bisa dengan bebasnya memandang seluruh isi café. Jarak empat meja di depanku, kulihat seorang perempuan tengah duduk sendirian di sofa seberang. Make-up tebal, baju merah dengan gambar hati di saku dadanya, dan rok putih satu jengkal di atas lutut. Dari ciri-cirinya saja aku sudah tahu namanya. Ya, itu kau, Bulan. Wanita yang pernah mengisi hatiku. Kulihat kau sedang duduk sendirian, mungkin menanti seseorang. Ingin kudekati kau, namun tak mungkin. Aku terdiam, hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Selang lima menit kemudian, seorang lelaki menghampirimu. Lalu kau berdiri dan memeluknya. Seketika ingatanku terlempar ke masa lalu, saat pertama kali aku mengenalmu.

***

            Sore itu, usai meliput demo kenaikan BBM, aku duduk di halte, menunggu bus yang hendak mengantarkanku beristirahat. Jalanan sepi, hanya ada satu dua orang yang menunggu. Aku yang saat itu tengah bermain handphone, tiba-tiba dikagetkan oleh sesosok wanita yang menghampiriku, lalu duduk di sampingku. Sepertinya ia seumuran denganku. Kulit kuning, alis tipis, dan tahi lalat kecil di dahinya. Sempat ia tersenyum kepadaku saat kulirik wajahnya.

Lima menit berjalan, tanpa percakapan. Lalu untuk membunuh kebosanan, kuberanikan diri untuk menyapanya.

“Sore, Mbak.”

“Sore.” Jawabnya datar.

“Pulang kerja, Mbak?” ia terdiam, tak menjawab. Sibuk dengan handphone yang ia gengggam. Percakapan pun terhenti.

Beberapa saat kemudian bus datang. Ia naik, pun aku. Kulihat ia duduk sendirian di bangku belakang. “Tuhan memang Maha Baik,” ucapku dalam hati.

Aku pun mendekatinya, mencoba duduk di sampingnya. Dengan senyum kecil, ia mempersilakanku. Kemudian sebuah obrolan kecil dimulai saat sopir menjalankan busnya.

“Bintang.”

“Bulan.”

Dari percakapan itu, aku mengetahui jika ia rantauan asal Bali, bekerja sebagai staff marketing di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Bahasanya yang halus dan bibirnya yang ranum, membuatku jatuh cinta padanya. Sebuah jawaban yang entah serius atau hanya bercanda tiba-tiba mengagetkanku.

“Aku jomblo,’ jawabnya saat kutanya tentang statusnya.

Tak ingin obrolan hanya sebatas dalam bus saja, kucoba beranikan diri untuk bertukar nomor handphone. Tanpa syarat apapun, akhirnya ia memberikan nomor handphone. Belum sempat bertanya banyak tentang dirinya, bus berhenti. Aku turun, ia tetap duduk di kursi itu, melanjutkan perjalanan sampai ke halte selanjutnya. Di tengah jalan, senyum merekah di bibirku.

“Semoga besok bisa bertemu dia  kembali,” ucapku dalam hati.

***

Hari demi hari, waktu pun seperti terseret oleh arusnya. Hanyut hingga jauh, hingga kami semakin dekat lewat percakapan di telepon. Bermula dengan sms basa-basi, menanyakan sedang apa, dan mengucapkan selamat malam saat hendak tidur, setiap hari.

Beberapa hari kemudian, lewat pertemuan yang sudah kujanjikan sebelumnya, kuberanikan diri untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius. Ya, aku ingin menyatakan cintaku padanya.

“Lama ya nunggunya?” Ucapku saat menemuinya di taman kota.

“Nggak kok. Ini teh botolnya juga belum habis. Katanya mau ngajak main. Main kemana?”

“Ada, deh. Yuk ah habisin dulu teh botolnya, terus kita langsung ke sana.”

“Oke, Kakak.” Suaranya dibuat seperti anak kecil, membuatku semakin gemas akan dirinya.

“Iih, apaan sih, Kak.” Rengeknya saat kuacak-acak rambutnya.

Usai membayar teh botol, kugandeng tangannya menuju motor. Di tengah jalan, kunyanyikan lagu favoritku. Lalu ia dengan kerasnya mengikutiku bernyanyi. Puluhan mata menatap kita penuh iri. Aku mencubitnya karena malu, lalu kita tertawa memecah kesunyian malam.

Akhirnya kita sampai di tempat tujuan, Bukit Bintang. Tempat dimana sepasang sejoli merajut kenangan. Kugandeng tangannya menuju batu besar.

“Sini duduk.”

“Oh, ini ya tempat yang kemarin kamu janjikan?”

“Iya. Bagus kan? Tuh lihat, rumah kita kelihatan dari sini.”

“Lumayan. Oh iya, kenapa aku diajak ke sini?”

“Begini. Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku katakan. Jangan kaget, jangan marah juga.”

“Iya, tapi apa?”

“Ini baca saja.” Kuserahkan sepucuk surat yang telah kutulis sebelumnya. Surat yang berisi keinginan hatiku. Sengaja kuungkapkan lewat tulisan, karena aku tahu jika kuungkapkan langsung di hadapannya, rasa grogi dan tidak percaya diri akan merasuki tubuhku.

Dear Bulan,

  1. Sering aku membayangkan, kita berdua berbagi headset. Aku menyanyikan lagu favoritmu, dan kau tersenyum, lalu ikut bernyanyi.
  2. Sering aku membayangkan, kita sedang lari pagi dan melewati sebuah rumah yang di depannya ada seorang lelaki yang sedang mengecup kening isterinya, lalu kau berkata, “maukah kau lakukan itu untukku saat kita menikah nanti?”
  3. Sering aku membayangkan, kita berada dalam sebuah rumah yang tiba-tiba mati listrik. Lalu kau ketakutan, dan tak mampu apa-apa tanpa diriku.
  4. Sering aku membayangkan, aku berada di ruang tunggu rumah sakit. Lalu mengintip jendela di suatu ruangan yang di dalamnya ada kau, yang sedang melahirkan anak kita.
  5. Sering aku membayangkan, kita duduk di suatu bukit dan memandang langit. Kau sandarkan kepalamu di dadaku, sedangkan aku, memelukmu dan sesekali mengusap kepalamu.
  6. Sering aku membayangkan, kita berada dalam satu payung. Tangan kananku memegang gagang payung, sementara tangan kiriku berada dalam genggamanmu. Menjadi sepasang sejoli yang tengah tinggal di dunai lem, tak mau dipisahkan.
  7. Sering aku membayangkan, hujan turun di rumah kita. Kau duduk di beranda sembari menadah tetes-tetes hujan dengan tangan. Sedangkan aku, berada di belakangmu, memijat pundakmu, sambil sesekali mencubit pipimu.
  8. Sering aku membayangkan, kita bertemu orangtuaku. Lalu aku mengenalkanmu dengan mereka penuh senyum bahagia, “Ma, Pa, ini kekasihku, calon menantu kalian.”

Dear kamu, calon ibu dari anak-anakku, bacalah kata yang bercetak tebal. Kutunggu jawabanmu secepatnya J

 

“Bagaimana?” Tanyaku saat ia selesai membaca surat itu. Kulihat wajahnya. Ia terdiam, tak ada jawaban sama sekali. Aku gelisah, keringat mulai mengucur dari dahiku.

“Anterin aku pulang, ya.” Katanya kemudian. Suaranya datar, tak ada senyum sama sekali. Aku menyesal telah mengatakan semua ini, merasa tak enak sendiri atas apa yang sudah kukatakan kepadanya.

Tak lama kemudian aku mengantarnya pulang. Di tengah jalan, rasa gelisah dan salah tak henti-hentinya menghujaniku.

“Inikah hal terbodoh yang pernah aku aku lakukan?” Ucapku dalam hati.

“Maafin aku ya.” Akhirnya kuberanikan untuk meminta maaf saat sampai di depan rumahnya. Tapi ia kembali diam, tak mengatakan apa-apa. Membuka pintu, memasuki rumah, lalu menutupnya kembali. Aku mematung di rumahnya, berharap ia membuka pintu lalu semuanya berubah. Tetapi ternyata tidak. Ia tetap di dalam rumah, kemudian mematikan lampu, lalu menghilang di telan gelap.

Sehari kemudian, kuberanikan diri untuk menelponnya.

“Hallo, Bulan. Maaf ya, aku tak bermaksud merusak persahabatan kita,” kataku pelan.

“Maafin aku juga,” katanya tiba-tiba.

“Loh, kenapa? Aku yang salah kok, kamu nggak salah apa-apa.”

“Tidak, aku yang salah,” katanya, “maaf jika membuatmu lama menunggu.”

“Maksudnya?”

“Aku juga cinta kamu.”

Deg!! Dunia terasa berhenti. Seperti ada petir yang meledak di hatiku. Seketika bibirku melengkung penuh senyum. Rasa bahagia berlesatan di seluruh darahku.

“Eh, apa?” Aku berusaha meyakinkan, pura-pura tak mendengar jelas kata-katanya.

“Iya, aku mencintaimu.” Katanya penuh tawa kecil.

Dunia seolah berubah bagai film-film roman. Aku tersenyum lebar, wajahnya muncul di cermin kamarku. Di kepalaku, banyak angan yang ingin aku lakukan. Menjadikannya sebagai ibu dari anak-anakku, salah satunya.

***

            Hari berganti hari, kehidupan kami berjalan seperti biasa tanpa ada rasa bosan ataupun jenuh. Bahkan semenjak kehadirannya, sepi dan hening kini perlahan menghilang dariku. Sepi yang dulu sering mengikutiku kemana-mana, sepi yang selalu menemaniku saat makan, jalan-jalan, bahkan saat tidur. Ya, kini sepi benar-benar telah menghilang, mungkin telah tergantikan olehnya.

Hingga suatu hari sebuah masalah datang saat aku mengajaknya bermain ke kampung halamanku, mengenalkannya kepada orangtuaku di Padang.

“Pak, Bu, ini Bulan. Pacar Bintang.” Mereka tersenyum, menyambut hangat kedatangan Bulan.

“Bulan anak rantauan juga, Pak. Di Jakarta dia kerja jadi staff marketing.”

“Cantik juga ya,” bisik Ibu di telingaku.

“Kalau boleh tahu, Bulan anak mana, Tang?” Tanya Bapak tib-tiba.

“Bali, Pak.”

“Hah? Bali?” Bapak lalu menarik tanganku, membawaku ke kamarnya.

“Benar dia anak Bali?” Wajah Bapak memerah, sepertinya ia marah.

“Iya, Pak.”

“Tidak, tidak. Bapak tidak setuju kalau kamu pacaran sama dia, apalagi kalau sampai nikah. Apa jadinya kalau tetangga tahu Bapak punya menantu anak Bali? Bagaimana dengan keturunanmu nanti? Hah?!”

“Tapi, Pak..”

“Sudah tidak ada tapi-tapian. Pokoknya Bapak tidak setuju kamu berpacaran apalagi menikah dengan orang yang bukan Padang. Sekarang tinggal pilih, terus melanjutkan hubungan atau pergi dari rumah ini!”

Aku terdiam, jantung seperti dipenuhi pecahan kaca. Aku keluar dengan muka tertunduk, menahan tangis yang hendak meluap.

“Kamu kenapa, Sayang?” Bisik pacarku. Lalu aku menyuruhnya mengobrol di luar.

“Jangan kaget, jangan marah juga. Bapak tadi marah. Bapak tidak setuju kita pacaran.”

“Loh, kenapa?”

“Karena kita beda adat. Aku Padang, kamu Bali. Bapak tidak suka aku punya pacar yang bukan orang Padang, apalagi kalau sampai menikah.”

“Tapi, Say?”

Kami terdiam sejenak, mencari jalan keluar untuk masalah ini. Kukatakan bahwa aku tak ingin mengecewakan orangtuaku, aku tak ingin melawan mereka. Kuputuskan untuk berpisah saat itu juga. Ia menangis, menjatuhkan tubuhnya di pelukanku. Kusaksikan senja begitu memar, kesepian melekat di udara yang semakin membuatku menggigil dalam kesedihan.

***

            Setelah putusnya hubungan kami, kehidupanku kembali seperti semula. Menjadi seorang wartawan yang selalu diikuti sepi kemanapun aku pergi. Tapi itu tak berlangsung lama, karena seminggu setelah kami berpisah, pagi-pagi sekali ia mengetuk pintu kostku. Setengah sadar pintu kubuka. Ia mematung, tanpa sepatah kata ia tiba-tiba memelukku, lalu menangis. Ia bilang ia tak bisa jauh dariku, ia terlalu mencintaiku. Kusuruh ia duduk di tempat tidurku, menghapus air matanya agar bisa tenang. Setelah ia menceritakan semuanya, akhirnya kami kembali pacaran lagi. Apapun yang terjadi, kami berjanji untuk tetap bertahan.

Kehidupan kami berjalan seperti semula. Mengantarnya berangkat kerja, makan malam bersama, dan sesekali kami ke bioskop saat akhir minggu. Bahkan tak jarang usai pulang kerja, kusempatkan untuk mengantarnya melatih tarian Bali di sanggar seni milik temanku.

***

Tak terasa seiring jalannya waktu, usia hubungan kami menginjak tahun ketiga. Dengan tekad yang kuat, akhirnya kuberanikan diri untuk mengatakan kepada orangtuaku bahwa aku ingin melamar Bulan. Keringat mengucur deras di dahiku saat bertemu keluargaku, takut kejadian masa lalu terulang kembali. Setelah membicarakan pelan-pelan untuk melunakkan hati mereka, akhrirnya senyum merekah di bibirku. Mereka merestui hubungan kami. Mereka tahu kami sudah dewasa, tahu akan keputusan-keputusan terbaik, tahu tentang resiko yang akan kami hadapi kedepannya. Tentang keluarga kami, tentang anak-anak kami.

Kulihat ada bahagia di mata Bulan, juga senyum manis di bibirnya.

***

            Tiga minggu kemudian…

“Say, tunggu.” Kataku tergopoh-gopoh membawa barang belanjaan, persiapan untuk menikah minggu depan. Sore itu langit terlihat keruh. Kemudian turun setetes air di punggung tanganku. Kutengadahkan kepala, “sial, hujan.”

Kupercepat langkahku untuk menghindari hujan. Di tengah jalan, saat hendak menyeberang, tiba-tiba…

Bruuukk!! Sebuah mobil menabrakku. Aku terpelanting. Kacamataku pecah. Darah keluar dari kaki dan kepalaku. Di seberang jalan, Bulan berteriak, lalu berlari menghampiriku. Di buram mataku, kulihat sesosok lelaki putih bersayap turun dari langit dan berdiri di sampingku. Sebelum akhirnya semuanya hilang, tanpa warna, tanpa suara, tanpa nyawa.

***

            Jedeeerr!!

            Suara petir menyadarkanku dari lamunan tentangmu. Jam menunjukkan pukul 02.50. Di luar, gerimis mulai nitis, membuat malam mulai terasa miris. Di café ini tinggal dua pelayan yang sedang membereskan meja. Beberapa menit kemudian mereka keluar, mengunci pintu, lalu meninggalkanku sendirian di dalam café yang tak pernah terlihat oleh mereka.

Iklan

2 thoughts on “Ia, Rembulan yang Tak Ingin Kehilangan Bintang

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s