Aku, Aceh, dan Segala Adat Istiadatnya

“Jangan nangis, Nak. Dua jam lagi Ibu pasti pulang.”

***

Sore itu, dengan banyak beban di pikiranku, kulangkahkan kakiku menuju lapangan. Di sana puluhan orang menungguku. Dengan kaki yang masih sakit akibat terpeleset kemarin malam, kucoba untuk berlari.

“Setengah jam lagi aku harus sampai,” ucapku dalam hati.

Sesampainya di pintu lapangan, aku disambut dua pria berbadan kekar, berkacamata, dan bertato. Mereka mengawalku menuju lapangan. Suara teriakan menggema ketika aku memasuki lapangan.

“Cambuk dia! Cambuk dia!” Teriak warga ketika melihatku.

Ya, sesuatu hukum adat, hari itu aku akan dicambuk. Aku dituduh mencuri uang majikanku.

Di tengah teriakan warga yang menginginkan agar aku dicambuk, tiba-tiba seorang pria mirip algojo datang menghampiriku. Ia berbaju hitam dengan topeng yang menutupi wajahnya.

“Tak usah menangis. Ini tak akan sakit,” katanya saat memborgol tanganku.

Aku memejamkan mataku sat ia menyuruhku untuk mengulurkan tangan. Kemudian sebuah cambuk mengenai tanganku, berkali-kali. Di cambukan ke-15, tanganku berdarah. Tubuhku melemah, lalu jatuh. Di buram mataku, kulihat anakku tergolek lemas di ranjang kayu. Aku butuh uang untuk mengobati penyakit lumpuhnya.

Iklan

One thought on “Aku, Aceh, dan Segala Adat Istiadatnya

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s