Aku dan Kenanganku Tentang Hujan

Hujan selalu mengingatkanku tentang kenangan. Kenangan akan kebencianku terhadap hujan.

Aku memang benci hujan

Dulu, sewaktu aku masih kecil, banyak sekali teman-temanku yang senang jika hujan turun. Dengan senyum yang mengembang, mereka dengan gembiranya keluar rumah. Bahkan, tak jarang beberapa dari mereka ada yang melepas pakaiannnya tanpa rasa malu.

“Horee, hujan!” teriak mereka sambil memutar-mutarkan baju mereka di atas kepala.

Tapi semua itu berbeda denganku. Saat langit mulai keruh dan terkadang mulai cerewet, Mama selalu melarangku bermain dengan hujan. Takut aku terkena demam, katanya.

“Cepat masuk kamar!” Gertaknya diiringi gelegar petir.

Pernah suatu hari, aku sempat mencuri waktu agar bisa bermain dengan teman-teman saat hujan. Tapi ternyata, lagi-lagi Mama melarangku. Mama marah. Ia menyeretku masuk ke dalam rumah. Memasukkanku ke kamar, lalu menguncinya hingga hujan reda.

Aku memang benci hujan

Salah satu ingatan yang melekat kuat sampai saat ini adalah ketika aku terkena demam saat TK. Waktu itu mama tidak bisa mengantarkanku.

“Mama harus beres-beres rumah, nanti sore ada arisan,” katanya.

Sebagai gantinya, Bibi mengantarkanku ke TK menggunakan becak.

“Bibi pulang dulu ya, Nak! Jangan nangis. Nanti Bibi jemput kok,” katanya ketika bel masuk berbunyi.

Waktu pun berjalan cepat. Jam 10.00, bel berbunyi. Waktu bagiku untuk pulang. Tapi Bibi belum datang juga, sedangkan di luar, langit mulai cerewet.

“Bu, Bibi mana? Kok belum datang?” Tanyaku pada bu guru.

“Sabar, Nak. Sebentar lagi pasti datang,” jawab bu guru sambil memelukku.

Dua jam berlalu. Dan hujan masih enggan pergi.

“Bu, Bibi mana?” Kutanyakan lagi pada bu guru.

“Sabar, Nak. Mungkin Bibi lagi nunggu hujannya reda.”

Sepasang tangan keriput itu semakin erat mendekapku. Kutatap pintu gerbang, semoga Bibi datang menjemputku.

Setengah jam kemudian, Bibi pun datang dengan sepeda keranjangnya dan jas hujan.

“Maaf, Nak. Tadi hujan deras,” katanya lirih ambil mendekapku.

Aku terlelap di dekapannya. Esoknya, kudapati tubuhku demam.

Siangnya..

“Ma, kita mau kemana?” Tanyaku saat mama menggendongku naik ke becak.

“Ke Puskesmas, Nak! Badanmu panas.”

Aku memang benci hujan

Jam tujuh malam. Handphone-ku berbunyi. Tertera di layar handphone pacarku memanggil.

“Say, jadi nggak keluarnya? Buruan ya! Aku tunggu di depan rumah.”

“Iya, sabar. Ini lagi mau ganti pakaian.”

Buru-buru kuambil baju di almari. Tak lupa kusemprotkan parfum hadiah dari pacarku.

“Pa, aku ke rumah Tia dulu.”

“Iya, hati-hati. Ingat, jam 10 harus sudah pulang!”

“Iya, Pa. Aku janji!”

Kulangkahkan kakiku menuju garasi. Saat hendak mengeluarkan motor, tiba-tiba…

Jedeeeerrr!!!

Langit muram. Tetesan gerimis berubah menjadi bulatan besar. Sial!  Lagi-lagi harus bermusuhan dengan hujan.

“Say, maaf, di sini hujan. Kayaknya malam minggu kita batal lagi. Maaf ya!”

“Tuh kan bikin sebel lagi. Ini udah yang ketiga kalinya kita nggak jadi malam mingguan. Udah ah, sebel liatnya!”

Klik. Tuutt! Tuutt! Tuutt!

“Hallo, Say. Hallo? Hallo?”

Kenapa hujan selalu menghalangiku untuk bertemu Tia?” Teriakkku dalam hati.

Aku memang benci hujan.

Dulu, saat pertama menjadi mahasiswa, aku sering merenung di kamar. Seringkali, setiap malam, aku teringat orangtuaku. Ya, benar-benar rindu orangtua. Rindu dimarahi gara-gara lupa sholat dan susah dibangunkan. Rindu mengantarkan Mama ke pasar, dan rindu suasana rumah.

Hari itu, Jum’at pagi, aku mendapatkan kabar baik. Ada hari libur selama satu minggu.

“Yeah, akhirnya libur juga!” teriakku dalam hati.

Tak terasa hari sudah siang. Kukabari Mama bahwa aku akan pulang.

“Ma, hari ini Imam mau pulang, Ma!”

“Jangan dulu. Di sini mendung! Pulang besok pagi aja.”

“Ah, Mama. Di sini malah terang, Ma. Nggak mendung sama sekali. Imam pengen pulang sekarang.”

“Ya sudah, terserah kamu saja. Hati-hati ya! Awas jangan ngebut!”

“Iya, Ma!”

Kubereskan semua bawaanku. Tak lupa kubawa oleh-oleh dari Purwokerto.

Wow, matahari siang ini begitu bersahabat denganku. Dengan santai, kukendarai motorku sembari melihat hijaunya sisi jalan.

Baru setengah perjalanan, tiba-tiba ada yang menetes di punggung tanganku. Kutengadahkan kepalaku. Sial, langitnya keruh.

Breeessss!!!

Hujan pun turun dengan derasnya. Aku yang saat itu lupa membawa jas hujan, langsung ngebut untuk mencari tempat berteduh. Tapi naas, saat di tikungan, tiba-tiba…

Bruuukk!!!

Motorku terjatuh. Aku terpelanting. Kacamata pecah. Darah keluar dari kaki dan tanganku.

Di buram mataku, kulihat orang-orang berteriak, lalu lari menghampiriku. Tubuhku dibopong mereka.

“Tuhan, kenapa hujan selalu menyusahkanku?”

 

****

Hari ini, entah mengapa, tiba-tiba aku merindukan hujan. sudah dua bulan ia tak muncul di langit Purwokerto. Rindu melihat tetes hujan mengalir di kaca jendela. Rindu mencium bau hujan yang keluar dari tanah. Rindu akan pelangi yang muncul setelah hujan. Ya, hari ini aku benar-benar merindukannya. Aku ingin menjadikannya sahabat.

“Hujan, jika aku boleh meminta, bolehkan aku bersahabat denganmu? Aku janji tak akan membencimu lagi.”

 

#15harimenulisdiblog

Iklan

4 thoughts on “Aku dan Kenanganku Tentang Hujan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s