Aku dan Kenanganku Tentang Mama di Masa Kanak-kanak

Memutari kota Purwokerto di malam minggu sembari menikmati kerlap-kerlip lampu jalanan adalah suatu kebiasaanku. Naik motor sendirian, pelan, lirik kanan-kiri, dan tak jarang, untuk menambah keceriaan, sering kualunkan lagu-lagu favoritku.

Kuhentikan motorku di alun-alun, tempat favoritku untuk menghilangkan kebosanan. Agak sedikit iri saat melihat banyak muda-mudi yang bergandengan tangan.

“Kapan aku bisa seperti mereka?” Keluhku saat itu.

Aku yang saat itu tengah menatap bebas rumput hijau, tak sengaja melihat anak kecil tengah berlarian dengan cerianya. Anak kecil yang mengantarkanku kembali ke masa lalu, di saat aku masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak.

***

            Aku suka saat masa kanak-kanak, saat aku masih dekat dengan kedua orangtuaku, terutama mama. Wanita yang memberikanku curahan kasih sayang tanpa henti. Wanita yang telah menghabiskan sisa hidupnya untuk menjagaku, menjadikanku anak yang baik dalam budi pekertinya. Dari ia-lah aku tahu mana yang baik.

Masih teringat dalam pikiranku, di saat ia mengantarkanku pertama kali masuk Taman Kanak-kanak. Ia dengan sabarnya mendandaniku setampan mungkin. Baju putih berdasi, rambut klimis, dan sepatu hitam ia kenakan di tubuhku.

“Ayo, Nak, berangkat.”

Dengan sepeda keranjang kesukaannya, ia pun mengantarkanku ke TK. Senyum kecil, wajah ceria, ia sebarkan selama perjalanan.

Akhirnya kami sampai di depan gerbang.

“Ayo, Nak, jangan nangis! Mama ada di depan pintu,” katanya sambil mengusap kepalaku.

Aku pun masuk kelas. Tak jarang aku sering melihat ke pintu, memastikan mama masih ada di sana. Dan ketika mama tidak ada di sana, aku pun menangis. Lalu keluar mencari mama.

***

            Selepas pulang, seperti biasa, mama menyuapiku makan siang. Nasi satu kepal, dan sayur sop, ia suapkan untukku. Ia selalu memberikan aku makanan terbaik, memberikan aku minum tatkala aku kehausan. Terkadang mama sedikit marah ketika aku susah untuk makan. Ngambek, suka bermain, dan memuntahkan makanan. Itulah aku di saat susah makan.

Sorenya, ketika matahari hendak menyudahi sinarnya, ia memanggilku yang sedang bermain.

“Nak, sudah sore. Ayo mandi!”

Aku yang saat itu tengah bermain kelereng, bergegas berlarian ke rumah.

Tak segan mama memarahiku ketika melihat bajuku penuh debu.

“Dasar anak bandel!” begitulah katanya.

***

            Masih ku ingat saat aku mengikuti lomba menggambar di Kabupaten, mama pernah menanyakan sesuatu.

“Nak, kalau nanti kamu menang, kamu mau minta dibelikan apa?”

Dengan lugunya aku menjawab, “Sepeda, Ma.”

Dan ternyata aku menang. Esoknya, seperti yang dijanjikan mama, ia membelikanku sebuah sepeda kecil bermerk Subaru.

Masih ku ingat ia tak henti-henti mengingatkanku untuk tidak putus asa ketika pertama kali aku naik sepeda. Meskipun lutut ini penuh luka, ia terus memberiku semangat.

”Terus! Terus! Ayo jangan takut, mama akan menjagamu! Ayo gerakkan kakimu, Sayang! Kayuhlah sepedamu!”

***

            Salah satu ingatan yang melekat kuat sampai saat ini adalah ketika aku terkena demam. Waktu itu mama tidak bisa mengantarkanku.

“Mama harus beres-beres rumah, nanti sore ada arisan,” katanya.

Sebagai gantinya, bibi mengantarkanku ke TK menggunakan becak.

“Bibi pulang dulu ya, Nak! Jangan nangis. Nanti bibi jemput kok,” katanya ketika bel masuk berbunyi.

Waktu pun berjalan cepat. Jam 10.00, bel berbunyi. Waktu bagiku untuk pulang. Tapi bibi belum datang juga, sedangkan di luar, langit mulai cerewet.

“Bu, bibi mana? Kok belum datang?” Tanyaku pada bu guru.

“Sabar, Nak. Sebentar lagi pasti datang,” jawab bu guru sambil memelukku.

Dua jam berlalu. Dan hujan masih enggan pergi.

“Bu, bibi mana?” Kutanyakan lagi pada bu guru.

“Sabar, Nak. Mungkin bibi lagi nunggu hujannya reda.”

Sepasang tangan keriput itu semakin erat mendekapku. Kutatap pintu gerbang, semoga bibi datang menjemputku.

Setengah jam kemudian, bibi pun datang dengan sepeda keranjangnya dan jas hujan.

“Maaf, Nak. Tadi hujan deras,” katanya lirih ambil mendekapku.

Aku terlelap di dekapannya. Esoknya, kudapati tubuhku demam.

Siangnya..

“Ma, kita mau kemana?” Tanyaku saat mama menggendongku naik ke becak.

“Ke Puskesmas, Nak! Badanmu panas.”

***

            Bruuukk!!

            Sebuah bola mengenai wajahku.

“Maaf, Mas, bisa lempar bolanya kemari?” Teriak anak kecil di tengah lapangan. Seketika ingatan tentang masa kecilku pun berakhir.

Mama, maafkan jika aku merasa malu mengutarakan isi hatiku ini dihadapanmu. Maafkan jika hanya mamp mengutaranakn lewat tulisan. Karena hanya dari coretan-coretan inilah aku mampu melukiskan besar rasa cintaku padamu.

Dari semua hal yang kulalui bersama mama, satu hal yang bisa kurasakan, yang dimiliki oleh mama, sesuatu yang mengajariku untuk melakukan segalanya dengan hati, yaitu ketulusan. Apa namanya kalau bukan ketulusan, memberikan waktu, tenaga, dan kasih sayang secara cuma-cuma. Tanpa bayaran sepeser pun. Tanpa jaminan kepastian perlindungan hari tua dari anak-anaknya.

Aku memang tak pernah mampu mengucapkan “Aku cinta kamu, Ma,” “Aku rindu kamu, Ma.” Tahukah engkau mama, bukannya aku enggan, bukannya aku tak mampu, tetapi cinta dan rinduku padamu terlalu besar hanya untuk di ucapkan. Bahkan jika mampu, akan kuberikan seluruh duniaku hanya untuk membuatmu bahagia dan tetap tersenyum seperti ini, sungguh aku sangat mencintaimu, Ma.

Telah banyak yang aku lakukan yang tidak semestinya untuknya, orang tuaku. Banyak aku keluarkan kata-kata tidak pantas, kata-kata yang mungkin membuatnya saki hati. Tidak pernah ia membalas apapun kelakuan buruk yang pernah aku lakukan. Ia terus berdoa untukku, ia menumpukkan harapan besar untukku. Ia terbangun di malam hari sekedar memohon ampunan dan berdoa agar aku menjadi anak yang bisa membuatnya bangga, memohon agar aku bisa menjadi tumpuan di hari tuanya kelak.

Namun, dari hati kecilku, terimalah doaku untuknya, Ya Allah. Ampuni dosa-dosanya. Sayangilah ia seperti ia menyayangiku sejak aku kecil. Tempatkanlah ia di tempat yang suci. Ya Allah, jaga ia seperti ia menjagaku sejak Engkau tiupkan roh dalam tubuhku.

 

#15harimenulisdiblog

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s