Untukmu, Gadis Berjilbab Biru

Dear gadis berjilbab biru,

apa kabarmu?

Lama tak mampir ke mimpiku

Sekarang kamu di mana?

Cepatlah ke sini

Aku rindu kamu

***

Malam itu, hujan, dingin, gelap, sendirian. Untuk menghilangkan kebosanan, sengaja kubuka akun facebook-ku, sebuah jejaring sosial yang pernah menyatukan kita. Aku yang saat itu sedang scrolling beranda, tiba-tiba menemukanmu. Ya, kamu. Gadis berjilbab biru yang pernah aku cintai. Seketika itu pikiranku terpelanting ke masa lalu, saat pertama kali aku kenal denganmu.

***

Dear kamu, apakah kamu masih ingat saat pertama kali kita kenal? Baiklah, akan kuceritakan sedikit jika kau sudah lupa.

Safrina Tsani Akmala, nama yang indah. Seindah orangnya. Andai saat itu rumah kita tak berdekatan dan kita tak satu madrasah, mungkin aku tak akan mengenalmu. Mungkin aku juga tak akan jatuh cinta padamu.

Mungkin kau tak tahu bagaimana dulu aku bisa mendapatkan nomor handphone-mu. Kau pasti kenal Mas Pi’i kan? Ya, dari dialah aku mendapatkan nomor handphone-mu. Aku yang saat itu masih awam darimu, diam-diam aku mengirim pesan pertamaku untukmu.

“Hey, Rin. Ini aku Imam. Simpan nomorku ya!”

Kutunggu balasan darimu. Lima menit, enam menit, belum juga kau membalas pesanku. Mungkin kau sedang sibuk, pikirku saat itu. Esoknya, aku pun mengirim pesan lagi untukmu, sekedar untuk menanyakan kabarmu. Aku tersenyum saat ada balasan darimu. Dan dari situlah, kita mulai SMS basa-basi, obrolah ringan, dan guyonan yang mungkin terdengar garing bagimu.

Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Dan aku kehilanganmu, sahabatku. Ya, kau waktu itu tiba-tiba ganti nomor, dan tak mengabariku. Apakah aku mengganggumu sampai kau berganti nomor handphone? Tanyaku saat itu.

Dear kamu, tahukah kamu, saat kau menghilang, aku merindukanmu.

***

Aku yang saat itu merasa kehilanganmu, mencoba melucuti satu persatu rindu yang menempel di pikiranku. Kuberanikan diri menanyakan nomormu kepada Mas Pi’i, namun dia tak punya. Entah dia benar-benar tak punya, atau dai berbohong agar aku tak mendapatkan nomor handphone-mu? Ah, entahlah yang jelas aku masih ingin berusaha untuk mencari nomor handphone-mu. Lalu kucoba menuju counter handphone di sebelah rumahmu. Counter handphone milik Mas O’o. Mungkin di sana ada nomormu, pikirku saat itu. Kucoba menanyakannya,

“Mas, punya nomornya Ririn yang baru nggak?”

Dan aku tersentak kaget, saat dia memberikan nomor handphone-mu.

“Alhamdulillah, akhirnya punya juga,” gumamku dalam hati.

Kucoba mengirim pesan untukmu, sekedar menanyakan kenapa kau tak mengabariku saat ganti nomor handpnone.

“Maaf, Mam. Aku lupa,” jawabmu singkat.

Seiring berjalannya waktu, kita pun terbiasanya mengirim pesan singkat. Sms basa-basi, sekedar menanyakan sedang apa, dan mengirim ucapan selamat malam sebelum tidur.

Dear kamu, tahukah kau, saat itu aku merasa nyaman denganmu.

 

***

Kepada Ririn, pemilik senyum terindah di dunia, ingatkah kau saat kita bertukar ponsel? Waktu itu saat bulan puasa, aku semakin nyaman denganmu. Kau semakin dekat denganku, dan aku pun sebaliknya. Selalu mengingatkan untuk tidak lupa makan, menanyakan sedang di mana, dan membangunkan tidur untuk sekedar sahur. Kau masih ingat jejaring sosual Friendster? Ya, dari situlah awal mula kita bertukar handphone. Kau yang saat itu keranjingan chatting, mencoba meminjam handphone-ku untuk membukanya.

“Mam, pinjem handphone-nya dong buat buka FS,” katamu lewat pesan singkat.

Kuiyakan, pertanda membolehkan meminjamimu handphone. Kau pegang handphone-ku, dan aku memegang handphone-mu. Saat aku memegang handphone-mu, sengaja atau tidak, kubuka folder image di handphone-mu. Aku pun terkagum dan tersenyum sesaat ketika melihat fotomu. Inikah calon ibu dari anak-anakku nanti? Gumamku dalam hati.

Satu minggu handphone-ku berada di tanganmu. Lalu tiba-tiba kau mengembalikannya.

“Kasian, barang kali kamu butuh, Mam,” katamu saat itu.

Dan kini terbalik. Ya, bukan kau lagi yang menginginkan bertukar handphone. Ternyata aku juga menginginkannya. Kau tahu alasan kenapa kau menginginkannya lagi? Aku hanya ingin melihat foto-fotomu. Itu saja. Foto yang membuat aku tersenyum, foto yang membuat aku ingin kau menjadi pendampingku. Kau pasti tak tahu, saat itu diam-diam aku menge-print fotomu. Dan foto itu masih aku simpan sampai sekarang. Cantik, lucu, imut, menggemaskan. Itulah kau di dalam foto.

Sekali, dua kali, sampai sepuluh kali kita bertukar handphone. Dan dari situlah aku mulai mengenal keluargamu. Bahkan sampai sekarang aku masih menyimpan nomor telepon orangtuamu. Entah itu masih aktif atau tidak.

Yang aku suka dari pertukaran handphone adalah saat kita bertemu untuk mengembalikannya. Kau mungkin tak percaya, karena seringnya aku berkunjung ke rumahmu sekedar untuk bertukar handphone, banyak orang yang mengira bahwa kita sudah berpacaran.

Sadarkah kamu, dari pertemuan itu diam-diam aku  jatuh cinta padamu.

 

***

Saat indah yang kulalui bersamamu

Melukiskan kisah cinta di dalam lubuk hati

Terbuai nafas cinta yang kau berikan

Sampai mati ku pun takkan bisa melupakanmu

….

Harus kuakui

Aku sayang kamu

Aku cinta kamu

Ungu- Saat Indah Bersamamu

Lagu itu melantun keras di kamarku. Lagu yang mengingatkanku akan dirimu, orang yang pernah aku cintai. Tahukah kamu? Dulu aku pernah jatuh cinta padamu.

Kau tahu, bagiku, cinta bagaikan jelangkung yang datang tak pernah diundang. Cinta, ia tak pernah mengenal usia, status, maupun yang lainnya. Ya, seperti aku yang perlahan jatuh cinta padamu, yang berstatus sebagai sahabatku.

Inilah rasa manis yang pernah aku kecap. Rasa manis yang membuatku tak ingin melupakannya. Inilah rasa yang membuatku tersenyum setiap mengingatnya. Rasa yang membuatku menderita jika sedang merindu. Perpaduan bahagia dan derita dengan porsi yang seimbang hingga tercipta esensi keindahan. Keindahan dari sebuah cinta. Keindahan yang tak terbayang sebelumnya. Ya, inilah keindahan dari cinta pertama.

Mungkin dulu kau merasa tertanggu karena aku selalu mengirim pesan untukmu, setiap waktu. Tapi, tahukah kamu alasan kenapa aku selalu mengirim pesan tak penting untukmu? Ya, agar aku selalu tersenyum setiap ada namamu di inbox handphone-ku. Agar kerinduan terlepas dari pikiranku. Agar hatiku merasa bahagia saat sedang kesepian.

Kau pasti masih ingat kan, dulu aku mempunyai panggilan khusus untukmu? Ya, tak lain agar aku semakin dekat denganmu. Agar kau semakin terbiasa denganku. Agar hubungan kita lebih dari sekedar sahabat.

Dear gadis yang menjadi sahabatku, terkadang aku bertanya, apa yang membuatku jatuh cinta padamu?

 

***

            “Jedeeerrr!!!!”

Suara petir itu menyadarkanku dari lamunan tetntangmu. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Dan di luar, hujan pun sedikit reda. Sebelum ku akhiri cerita tentangmu, bolehkah aku mengatakan sesuatu?

Sahabat, aku mencintaimu

Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku nanti

Aku ingin kaulah yang berada di sampingku saat aku di depan penghulu

Aku ingin kaulah yang mengamini Fatihah-ku

Aku ingin kau yang mengecup punggung tanganku saat usai sholat

Semoga Tuhan mengabulkan semua doaku ini

Amiin..

 

Iklan

10 thoughts on “Untukmu, Gadis Berjilbab Biru

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s