Pembantuku, Suamiku

“Adam, jangan lupa nanti sore rumput di depan rumah dipotong!”

“Iya, Nyonya!”

 

Adam, begitulah panggilan sehari-harinya. Salah satu tukang kebunku yang paling muda. Sebenarnya ia pandai, tapi sayang, orangtuanya tak mengizinkan dia kuliah. Aku yang saat itu masih sebagai tetangganya, mengajaknya untuk bekerja di rumahku.

 

Entah apa yang merasuki fikiranku, perlahan aku jatuh cinta dengannya, Adam, pembantuku sendiri. Ia tampan, muda, dan mirip dengan orang yang telah menceraikanku. Ya, empat bulan yang lalu aku becerai dengan suamiku.

 

Hari ini, 7 Januari 2007. Tepat di depan penghulu, kami -aku dan Adam- bersiap untuk mengucap ijab qabul.

“Hai, Adam, mulai sekarang kau tak boleh memanggilku Nyonya lagi. Kini kau sudah sah menjadi suamiku, Sayang”

Iklan

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s