Germo Gang Anggrek

Malam itu, ia kembali hadir dengan make-up tebal, baju dengan punggung terbuka, dan rok pendek satu jengkal di atas lutut. Dari ciri-cirinya saja aku sudah tahu namanya. Lydia, germo Gang Anggrek.

Kulihat ia tengah menghampiri seorang gadis di ruang tamu. Sepertinya ia sedang ingin marah.

“Dinda, sini kamu! Dasar anak bodoh! Kenapa kau tak mau melayani mereka?”

“Ampun, Nyonya! Aku belum sanggup melakukannya.”

“Kamu butuh uang kan? Apa kamu tega melihat ibumu terus sakit-sakitan?” Katanya sambil meyeret gadis belia itu ke gudang. Dinda menangis. Meronta-ronta. Mencoba melepas tangannya dari genggaman Lydia.

Di dalam gudang, dua pria setengah telanjang telah menunggu.

“Jangan, Nyonya! Jangan!” Teriakannya membuatku kembali masuk ke balik jam dinding.

Iklan

2 thoughts on “Germo Gang Anggrek

Tinggalkan Komentar Setelah Membaca Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s